[Sinopsis] Miss Granny Bagian Kedua (END)

Miss Granny Bagian Kedua (Tamat)


Bagian Pertama

Malam harinya
Doo Ri makan malam bersama dengan keluarganya. Di sela-sela makan, Doo Ri berkomentar tentang cara memasak Ibu Ji Ha dan seketika mengingatkan Ibu Ji Ha dengan sosok ibu mertuanya. Komentar yang sama sering didengarnya dulu… Kepulangan Ayah Ji Ha membuat Doo Ri reflex berdiri dan menyambutnya seperti kebiasaannya… beruntung Do Ri segera tersadar dan berkilah jika ingin ke kamar mandi. Dari balik pintu, Doo Ri bisa melihat anaknya Hyun Chul yang semakin kurus semenjak kepergiannya. Rasa ibanya sebagai seorang Ibu mendadak muncul…
Tuan Park mulai menaruh curiga terhadap Doo Ri. Saat Doo Ri pergi, Tuan Park segera memeriksa kamar Doo Ri termasuk laci lemarinya. Sebuah baju, sepatu usang dan gigi palsu berhasil membuatnya terkejut setengah mati. Semua benda yang ditemukannya adalah benda yang selalu dilihatnya dulu…. Semuanya adalah milik Oh Mal Soon, agassinya. Maldo Andwae.

Doo Ri dan Ji Ha serta teman-temannya mengikuti audisi di sebuah stasiun televisi… kebetulan yang menjadi salah satu jurinya adalah Seung Woo. Bak punuk yang merindukan bulan, kemunculan Doo Ri memberikan angin segar bagi Seung Woo yang memang sedang mencari bibit baru dan sejak awal sudah menjatuhkan pilihannya pada Doo Ri. Kesalahpahaman yang dulu terjadi akhirnya diclearkan hari ini. Tak hanya itu, Seung Woo meminta Doo Ri dan ke tiga rekannya untuk tampil di acara M Countdown nanti…
Ji Ha tak mempercayai apa yang didengarnya, setelah sekian lama akhirnya mereka bisa debut. Doo Ri juga ikut senang mendengarnya, akhirnya dirinya bisa mewujudkan impiannya menjadi penyanyi. Yeeeeee….

Sepulangnya dari tempat audisi
Doo Ri berjalan santai menuju rumah kosnya… langkahnya terasa ringan dan nyanyian kecil terdengar dari bibirnya. Tapi tunggu dulu, kenapa suasana rumah terasa sunyi. Lampu bahkan tidak dinyalakan dan kenapa gigi palsunya bisa tergantung di tali jemuran? Keanehan tak terhenti sampai disitu… Tuan Park tiba-tiba muncul di belakangnya dan bersiap memukulnya.
“Tua bangka ini sudah gila ya? Mau tangkap siapa? Pakai bawa-bawa tongkat malam-malam buta. Sudah gila dan ingin masuk penjara ya? Melakukan hal yang hanya dilakukan oleh orang gila. Berisik! Kukeluarkan apa yang ada di dalam mulutmu dulu. Yang lain-lainnya jangan harap!” ucap Doo Ri kesal. Doo Ri mengikat kaki dan tangan Tuan Park, tak hanya itu, Doo Ri bahkan menyumpalkan stoking ke dalam mulutnya.
“Belangmu ketahuan juga akhirnya! Sudah dari awal seharusnya aku sadar. Ke mana kamu culik agassi-ku? Jawab aku! Kusuruh kamu cepat jawab aku! Mana mungkin aku tidak mengenali gigi palsu agassi? Itu adalah pemberianku pada ulang tahun agassi yang ke-70. Sudah kamu bunuh dia? Kamu kubur dia di gunung?” teriak Tuan Park begitu sumpalan di mulutnya dilepaskan
“Untuk apa bertanya terus? Sudah kubuang ke HanGang buat makanan ikan” jawab Doo Ri santai
“Kalau begitu, bunuh juga aku! Tanpa agassi, hidupku tidak berarti. Bunuh juga aku! Bunuh juga aku, lempar aku ke HanGang dan biarkan aku di sisi Agassi” ucap Tuan Park sedih dan menantang Doo Ri
“Apa bagusnya seorang nenek tua? Sampai segitu sukanya?” tanya Doo Ri
“Tahu apa kamu! Tahukah kamu betapa cantiknya Agassiku? Saat usiaku 13 tahun, aku kehilangan kedua orang-tuaku. Aku tinggal di rumah keluarga agassi. Seberat apapun hariku, begitu melihat senyum agassi, aku bisa bertahan” jawab Tuan Park sambil mengingat masa lalunya bersama Mal Soon
“Lalu kenapa kamu tidak bisa mengenaliku?” tanya Doo Ri lagi
“Apa maksudmu?” lirih Tuan Park
“Bukankah kamu bilang tidak bisa melupakan? Kalau begitu, kamu sudah bisa mengenaliku?” ucap Doo Ri dan memamerkan senyuman khasnya lengkap dengan deretan giginya yang putih
“Sedang apa kamu ini? Cepat bunuh aku!” teriak Tuan Park kembali kesal karena Doo Ri malah bermain-main dengannya
“Aigoo, sudah begitu kamu masih tidak bisa mengenaliku. Benar-benar omong-kosong!” keluh Doo Ri
Tuan Park kembali memandangi Doo Ri… ingatannya kembali melayang pada sosok Mal Soon di usia mudanya “Agassi?” panggil Tuan Park tak percaya
“Sudah ingat sekarang?” tanya Doo Ri senang “Iya.. Ini aku, Oh Mal Soon” tambah Doo Ri semakin senang karena Tuan Park sahabatnya akhirnya mengenalinya.
Oh Doo Ri menceritakan semua hal yang terjadi semenjak dirinya menjadi muda kembali. Doo Ri bisa makan es krim dan juga iga dengan gigi barunya… Doo Ri tak perlu susah payah mengenakan gigi palsu lagi seperti dulu dan juga mulai minggu depan dirinya akan tampil di stasiun tv sebagai penyanyi. Tuan Park tercengang mendengarnya, dirinya merasa takjub karena Mal Soon bisa berubah menjadi muda kembali. Kebersamaan mereka yang dekat dan intens membuat sepasang mata merasa ikut tercengang dan merasa kesal dengan apa yang dilihatnya…
Doo Ri meminta tolong kepada Tuan Park untuk memberitahukan kepada anak dan menantunya jika dirinya baik-baik saja. Doo Ri bahkan menitipkan sebuah surat dan meminta agar kartu kreditnya kembali diaktifkan. Tapi dasar Tuan Park yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, Tuan Park menambahkan dan meminta kepada Hyun Chul agar diadakan upacara pernikahan untuk dirinya dan Ibu Hyun Chul. Dan dari balik sekat pintu, Doo Ri yang merasa tak pernah mengatakan semua yang dikatakan Tuan Park,melemparkan tatapan tajam dan berhasil membuat mulut Tuan Park tertutup rapat.
Hyun Chul merasa heran saat melihat sepatunya yang kotor menjadi bersih… tanpa diketahuinya, diam-diam Doo Ri melapnya. Sedih liat scene ini

Ok Ja dan Na Young menghabiskan waktu mereka di Jimjilbang… Ok Ja berusaha meracuni pikiran Na Young dengan berucap jika ada yang tak beres dengan hubungan Ayah Na Young dan gadis muda bernama Doo Ri yang tinggal di rumah mereka. Na Young tentu saja tak percaya, tetapi ketika melihat perubahan sikap Ayahnya yang mulai rajin berolahraga mau tak mau Na Young menjadi curiga.
Tuan Park semakin memperhatikan Doo Ri dan juga penampilan pada dirinya. Tuan Park bahkan bertransformasi dalam hal berpakaian dan dandanannya. Ingin membuat usianya terlihat sama dengan Doo Ri, Tuan Park memilih berpakaian eksentrik ketika menjemput Doo Ri di halte Bus. Tak ayal, tingkah dan gaya Tuan Park menarik perhatian beberapa murid SMA yang berada di tempat yang sama. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat penampilan seorang kakek tua yang berdandan ala anak muda.


~ Jangan lagi dirindukan... ~
~Semuanya sudah menjadi masa lalu ~
~ Jangan lagi dikenang... ~
~ Ia adalah orang yang telah pergi ~
~Kelopak bunga jatuh berguguran ~
~ Jangan lagi dirundung kesedihan~
~ Saatnya telah tiba... ~
~ Akan membuka kembali... ~
~ Jangan lagi menyesali. ~
~ Ke mana perginya? ~
~ Lelaki yang tersesat. ~
~ Harus pergi ke mana? ~
~ Kupu-kupu yang ada di langit. ~
~Kelopak bunga jatuh berguguran ~
~ Jangan lagi dirundung kesedihan~
~ Saatnya telah tiba... ~
~ Akan membuka kembali... ~
~ Jangan lagi dirundung kesedihan. ~
~ Kelopak bunga jatuh berguguran... ~
~ Jangan lagi dirundung kesedihan. ~
~ Saatnya telah tiba... ~
~ Akan membuka kembali... ~
~ Jangan lagi dirundung kesedihan. ~

Doo Ri dan Ban Ji Ha tampil di program M Countdown. Mereka sepakat memberi nama grup band mereka “Ban Ji Ha dan grupnya”. Penampilan Doo Ri untuk pertama kalinya di layar kaca mampu menyihir beribu pasang mata yang hadir dan juga pemirsa di rumah… Doo Ri sendiri saat menyanyikan lagu yang dibawakannya teringat pada masa lalunya, pada sosok suaminya yang meninggal saat dirinya hamil tua. Saat dirinya harus menaburkan abu suaminya seorang diri, membesarkan Hyun Chul dan bekerja keras membanting tulang demi menghidupi dirinya dan juga anaknya. Setiap hari tangisan yang terdengar dari bibirnya namun Doo Ri tak pernah menyerah dan terus berusaha agar anaknya menjadi orang yang sukses.
Tepukan dari penonton mengakhiri lamunannya dan membuat Doo Ri merasa takjub. Dirinya tak menyangka respon penonton diluar ekpektasinya. Impiannya untuk menjadi penyanyi akhirnya bisa terwujud. Di rumahnya, anaknya Hyun Chul juga ikut terpesona dengan penampilannya begitupun dengan cucunya, Ha Na. Ha Na bahkan berucap pada Ibunya bagaimana jika dirinya menjadi penyanyi juga.
Doo Ri, Ji Ha dan teman-temannya serta Seung Woo berlibur ke kolam renang. Oh ya, tak hanya mereka Tuan Park pun turut serta. Saat memainkan sebuah wahana ombak, Tuan Park terlihat ketakutan dan terus berpegangan pada Doo Ri. Sayang begitu ombak datang dengan kerasnya menghantam tubuh mereka, Tuan Park dan Doo Ri terpisah. Tuan Park terdampar di pinggir kolam sedangkan Doo Ri sedikit beruntung karena diselamatkan oleh Seung Woo…. Wkwkwkwk, kasihan Tuan Park.
Seung Woo mengajak Doo Ri duduk di salah satu tempat. Mereka berbincang-bincang sebentar… Seung Woo merasa tertarik pada sosok Doo Ri dan meminta Doo Ri untuk menceritakan kisah hidupnya. Sayang Doo Ri menolaknya dan meminta Seung Woo agar jangan terburu-buru…. Saat mengatakannya wajah Doo Ri memerah bak buah tomat sangking malunya. Sebuah kejadian aneh membuat Doo Ri terpaksa harus meninggalkan Seung Woo. Salah satu bagian tubuhnya berdarah, tepatnya di bagian kaki dan anehnya area  tempat luka mendadak berkerut layaknya seorang nenek.
Malam harinya
Doo Ri meminta bantuan Tuan Park untuk mengecek keanehan tersebut. Tuan Park menusuk salah satu bagian tubuh Doo Ri menggunakan jarum dan lagi-lagi bagian yang mengeluarkan darah mendadak mengkerut. “Kalau berdarah kulitnya langsung menua. Ada cara untuk kembali ke semula! Tapi apa kamu ingin kembali ke semula?” tanya Tuan Park namun Doo Ri hanya terdiam. Tiba-tiba, Na Young muncul dan terkejut melihat posisi Ayahnya dan juga Doo Ri. Kecurigaan Ok Ja dan juga dirinya memang tidak salah. Doo Ri memang berniat menggoda Ayahnya dan tujuannya pasti merebut harta Ayahnya.
Na Young segera membereskan barang Doo Ri, melemparkannya begitu saja di tanah dan menyuruhnya pergi dari rumahnya sekarang juga. Tangisan mulai keluar dari bibirnya, mengapa Ayahnya tega berbuat seperti itu? Dirinya bahkan sampai sekarang belum menikah demi memenuhi janjinya pada alm Ibunya untuk menjaga Ayahnya dengan baik tapi Ayahnya malah berbuat sesuatu hal yang sangat memalukan. Menjalin hubungan dengan gadis muda yang lebih layak disebut cucu…. Doo Ri tidak bisa berbuat apa-apa dan memilih mengikuti perintah Na Young meskipun Tuan Park melarangnya. Doo Ri bahkan tetap pergi walaupun Tuan Park berusaha mencegahnya.
Keesokan harinya
Tuan Park menemui Hyun Chul menceritakan semua rahasia yang dijaganya selama ini jika Doo Ri adalah Ibu Hyun Chul. Hyun Chul tentu saja tak percaya dan menyangka jika Tuan Park sedang mengalami demensia. Bagaimana bisa seorang gadis muda adalah Ibunya, maldo andwae…
Sepeninggal Doo Ri, Tuan Park hanya berdiam diri di kamar menghabiskan berbotol-botol soju. Na Young sedikit khawatir pada ayahnya namun kekhawatiran Na Young malah membuat Tuan Park menjadi kesal “Apa yang dilakukan setan perempuan itu terhadap Ayah? Jika Ayah berikan hak milik tanah ini padanya, aku akan lapor polisi” ucap Na Young, hehehehe….

Doo Ri menatap rumahnya dari kejauhan. Kemunculnya menantunya Ae Ja dari dalam rumah membuat Doo Ri bergegas bersembunyi di balik sebuah mobil. Suara Hp yang berbunyi berhasil mengalihkan perhatian Doo Ri untuk sesaat… Seung Woo meneleponnya hanya untuk menanyakan kabar Doo Ri karena selama seharian ini Doo Ri tak bisa dihubungi. Bunyi guntur disusul turunnya hujan yang deras membuat Doo Ri terdiam dan tak menjawab pertanyaan Seung Woo. Doo Ri hanya menatap koper yang berada disampingnya, bingung akan tidur dimana malam ini.
Berakhirlah Doo Ri di apartemen milik Seung Woo. Untuk malam ini, Doo Ri tak perlu mengkhawatirkan tempat tinggalnya. Sepanjang malam Doo Ri dan Seung Woo bercerita dan ditemani segelas anggur. Rasa canggung jelas dirasakan Doo Ri.
“Boleh aku bertanya sesuatu? Kamu menyewa rumah yang begitu bagus, terus pekerjaanmu juga oke... Orangnya juga... orangnya juga ganteng, kenapa masih belum menikah?” tanya Doo Ri membuka pembicaraan
“Kata siapa aku belum menikah?” tanya Seung Woo balik
“Sudah menikah ya?” ucap Doo Ri sedikit terkejut
“Belumlah! Senang rasanya melihat Doo Ri terkejut” ucap Seung Woo tertawa menggoda
“Ibumu pasti sangat mengkhawatirkanmu, ya? Anaknya yang sudah dewasa hidup seperti ini seorang diri. Ibu pasti akan sangat khawatir” ucap Doo Ri lagi
“Ibuku telah meninggal pada saat aku masih kecil. Doo Ri, kamu punya pacar?” tanya Seung Woo balik dan berusaha mengalihkan pembicaraan

“Aku sudah lama ditinggal mati oleh suamiku. Aku punya seorang anak yang sudah dewasa dan berkeluarga. Seorang duda anak satu yang menyukaiku, gara-gara aku bertengkar dengan anak perempuannya” jawab Doo Ri santai
Seung Woo sontak terkejut dan tertawa, mengira Doo Ri balik mengerjainya “Aku mengaku kalah. Lain kali tidak boleh bercanda sembarangan dengan Doo Ri lagi. Kalau begitu, kecuali duda beranak satu itu... kamu suka tipe pria yang seperti apa?” tanya Seung Woo
“Seorang pria yang tidak membiarkan anak istrinya kelaparan dan ahli di atas ranj….” Jawab Doo Ri dan berhasil membuat Seung Woo menyeburkan minuman yang diminumnya sangking kagetnya mendengar jawaban Doo Ri. Wkwkwkwkwk… Seung Woo kemudian tertidur akibat kebanyakan minum, disampingnya Doo Ri masih terjaga dan mengambilkan selimut untuk menyelimuti tubuh Seung Woo. Doo Ri juga menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Seung Woo, lagu yang biasa dinyanyikan untuk Hyun Chul saat Hyun Chul kecil.
Ae Ja sama sekali tidak bisa memejamkan mata dan meminum sebutir obat. Tiba-tiba seseorang menegurnya “apamu lagi yang sakit? Jangan minum obat dengan air dingin, nanti bisa sakit perut”. Ae Ja terdiam, dirinya sangat merindukan sosok Ibu mertuanya yang cerewet dan selalu menegurnya bila dirinya melakukan kesalahan.
Band Ji Ha mulai melakukan proses rekaman. Sayang, lagu yang dinyanyikan Doo Ri dan merupakan ciptaan Ji Ha dianggap kurang pas dengan image Band Ji Ha. Ji Ha tentu saja kesal terlebih ucapan tersebut berasal dari Seung Woo, pria yang terlihat menyukai Doo Ri, gadis yang disukainya juga. Ji Ha memutuskan meninggalkan studio rekaman dengan emosi dan tepat dibelakangnya Doo Ri bergegas menyusul.
“Jangan ikut!” teriak Ji Ha kesal pada Doo Ri
“Ada apa? PD-nim juga demi kebaikan kita, lagu kan bisa ditulis lagi” bujuk Doo Ri
“Dengar-dengar katanya kamu bermalam di rumah PD? Ha? Kamu tidur dengannya?” tanya Ji Ha semakin kesal dan membuat Doo Ri terdiam sesaat
“Dasar kunyuk! Belajar dari mana kamu kata-kata seperti ini? Kenapa? Aku tidur, pakai AC lagi. Nyaman sekali. Iya, aku tidur. Ada AC yang dingin,tidurku pulas sekali” teriak Doo Ri berbalik marah dan memukuli Ji Ha dengan membabi buta.
Doo Ri kemudian mengajak Ji Ha, cucu kesayangannya makan ayam.
“Kenapa kamu memperlakukanku begitu?” tanya Ji Ha sedikit takut menatap gadis di hadapannya
“Hari ini panas sekali. Apa anehnya makan ayam di hari panas? Cepat makan! Lenganku pegal!” jawab Doo Ri. JI Ha akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari Doo Ri “Aigoo... akhir-akhir ini makan saja tidak teratur. Jika kamu sampai ambruk kamu juga yang rugi” tambah Doo Ri
“Kamu... benar pacaran dengan PD Han?” tanya Ji Ha lagi
“Kamu benar-benar suka padaku? Maaf, kamu bukanlah tipe yang kusuka. Tidak berani mengungkapkan perasaanmu seperti seorang pria layaknya. Masalah kerjaan dan pribadi tidak bisa kamu bedakan, tidak bisa mengendalikan emosi membuat teman-teman di sekelilingmu menjadi jenuh. Ditambah... Hal yang paling tidak kusukai... kamu sendiri saja tidak tahu betapa gantengnya dirimu. Aigoo uri Ji Ha kalau tersenyum semakin ganteng” jawab Doo Ri memuji
“Hei, siapa kamu sebenarnya?” tanya Ji Ha
“Aku? Aku adalah... vokalis band Ban Ji Ha, Oh Doo Ri” jawab Doo Ri senang dan tertawa
Doo Ri menemui Tuan Park setelah beberapa waktu mereka tidak bertemu. Doo Ri menceritakan kegelisahannya dan Tuan Park bisa menebak jika Doo Ri sedang jatuh cinta. Doo Ri menjawab ya, ini pertama kalinya lagi dirinya merasakan jatuh cinta setelah sekian lama dirinya tak pernah merasakannya. Pembicaraan mereka berlanjut pada Ok Ja. Selama beberapa hari ini Ok Ja tak terlihat, rasanya aneh… Tuan Park menjawab jika Ok Ja berada di rumah sakit karena pendarahan otak. Doo Ri tak perlu lagi mengkhawatirkan dan mengalami hal yang dialami Ok Ja, dirinya bisa tenang sekarang dengan usianya yang kembali muda lagi.
Sepulang dari kerja, Hyun Chul menyempatkan diri ke kamar anaknya Ji Ha. Usai menyapa dan memberi semangat pada Ji Ha, Hyun Chul bergegas ke kamar Ibunya setelah melihat poster Ji Ha bersama dengan anggota bandnya. Satu persatu foto masa lalu Ibunya dilihat Hyun Chul dan akhirnya Hyun Chul bisa menemukan foto Ibunya di waktu muda dulu.
Kabar gembira datang dari Band Ji Ha. Lagu ciptaan Ji Ha diterima sebagai lagu yang akan dinyanyikan pada penampilan mereka minggu depan. Tak hanya itu, hubungan Doo Ri dan Seung Woo semakin memperlihatkan kemajuan. Seung Woo semakin menunjukkan ketertarikannya pada Doo Ri dan tak segan-segan mengajak Doo Ri jalan. Seung Woo merasakan sosok keibuan pada diri Doo Ri dan mengingatkannya dengan sosok Ibunya yang telah tiada.
Seung Woo mengantar Doo Ri ke rumah sakit. Saat akan berpisah, Seung Woo menyematkan sebuah jepit rambut di rambut Doo Ri dan memberikan sebuah kecupan di kening Doo Ri. Alhasil membuat Doo Ri terdiam bak patung es.
Tujuan kedatangan Doo Ri ke rumah sakit adalah untuk menjenguk Ok Ja yang sedang sakit tetapi sayang semuanya sudah terlambat… OK Ja telah meninggal dunia. Entah kenapa Doo Ri merasakan kesedihan yang mendalam melihat musuh bebuyutannya telah meninggal dunia.

Hari penampilan
Doo Ri dan Band Ji Ha akhirnya akan tampil secara resmi di acara 2013 Summer Dream Concert, sebuah konser yang besar dan yang tampil adalah artis papan atas negeri ginseng. Persiapan telah dilakukan secara matang, para penonton telah berdatangan dan bintang tamu telah bersiap di backstage. Tapi tunggu dulu dimana Ji Ha?
Ji Ha ternyata masih berada di jalan dan menumpang sebuah taxi. Karena mengambil gitarnya yang baru selesai diperbaiki membuat Ji Ha terlambat datang ke studio. Waktu yang tersisa kurang lebih 10 menit tapi jalanan yang macet membuat Ji Ha harus berputar otak. Dari kejauhan Ji Ha bisa melihat tempat penyewaan sepeda. Tanpa menunggu waktu lama, Ji Ha turun dari sepeda dan mengayuhnya secepat yang dia bisa.
Sementara itu di studio
“Ini bukan mimpi kan? Kita sepanggung dengan mereka… orang yang menginspirasiku memegang stik drum adalah dia” ucap sahabat Ji Ha bergantian ketika melihat gladi resik
Kembali ke Ji Ha
Ji Ha masih mengayuh, kali ini lebih cepat. Dilewatinya mobil, motor dan Bus yang melintas di jalan yang sama yang dilaluinya. Sesekali diliriknya arloji yang berada di tangannya… masih ada waktu dan dirinya kemungkinan besar bisa sampai tepat waktu. Saat melewati sebuah trotoar dan berakhir di ujung jalan raya, sebuah mobil berukuran besar tanpa sengaja menabraknya dan berhasil membuat tubuh Ji Ha terlempar beberapa meter.
Para kru terutama Seung Woo mulai panik ketika mendapat kabar jika Ji Ha mengalami kecelakaan lalu lintas. Seung Woo terpaksa harus membatalkan perform mereka hari ini dan ada baiknya jika Doo Ri dan teman Ji Ha menjenguk Ji Ha terlebih dahulu.
Tiba-tiba “Nyanyi saja... Kita... nyanyi saja. Lagu yang ditulis oleh Ji Ha, kita nyanyikan dengan lantang... supaya terdengar juga olehnya. Setelah itu kita beritahu Ji Ha... "Lagumu bagus sekali." Ucap Doo Ri menolak saran Seung Woo. Doo Ri merasa keputusan ini adalah keputusan terbaik yang harus diambilnya. Ini adalah impian Ji Ha agar lagunya bisa didengar khlayak ramai dan tidak tampil hanya akan membuat Ji Ha, cucunya kecewa.
Ji Ha... kamu bisa dengar? Begitu banyak orang sedang menunggu lagu kita. Lagu yang kamu ciptakan ini akan kunyanyikan dengan menggunakan segenap jiwaku. Karena itu... Jangan menyerah, Ji Ha. 

Petikan gitar terdengar disusul tabuhan drum. Teriakan penonton mewarnai dimulainya penampilan Doo Ri bersama sahabat Ji Ha.
~ Hari yang penuh dengan kesusahan... ~
~ Tanpa disadari berubah menjadi sehari yang lalu. ~
~ Bagaikan fajar yang kembali datang menyongsong. ~
~ Esok pagi... ~
~ Sebuah harapan yang cerah akan menyinarimu. ~
~ Bahu yang terbebani... ~
~ Langkah kaki yang berat... ~
~ Yang menghantuimu di dalam kegelapan... ~
~ Tapi tanpa disadari, bintang-bintang yang berkelip... ~
~ Seolah-olah menunjukkan jalan yang harus kau tempuh. ~
~ Akan menyinarimu dan membuatmu bersinar. ~
~ Sekali lagi... ~
~ Betul, sekali lagi... ~
~ Walaupun kadang terlihat bagaikan sebuah fatamorgana yang tidak teraih... ~
~ Sekali lagi... ~
~ Betul, sekali lagi... ~
~ Jangan pernah berhenti berlari... ~
~ Pada akhirnya, mimpi akan berubah menjadi kenyataan. ~
~ Bernyanyi untuk dirimu yang gemerlap. ~
~ Yang tidak pernah dimiliki kemarin... ~
~ Bintang-bintang yang gemerlapan. ~
~ Seolah-olah menceritakan kebahagiaan hari esok. ~
~ Akan menyinarimu dan membuatmu gemerlap. ~
~ Sekali lagi... ~
~ Betul, sekali lagi... ~
~ Jangan pernah berhenti berlari... ~
~ Pada akhirnya, mimpi akan berubah menjadi kenyataan. ~
~ Bernyanyi untuk dirimu yang gemerlap. ~
~ Sekali lagi... ~
~ Betul, sekali lagi... ~
~ Berlari hingga jantung terasa seolah-olah akan meletus... ~
~ Sekali lagi... ~
~ Betul, sekali lagi... ~
~ Bersinar menyilaukan bagaikan bintang pagi. ~
~ Sekali lagi... Terakhir kalinya... ~
~ Jangan pernah berhenti berlari... ~
~ Pada akhirnya, mimpi akan berubah menjadi kenyataan. ~
~ Bernyanyi untuk dirimu yang gemerlap. ~

Di rumah sakit
Keluarga Ji Ha beserta Tuan Park sedaritadi hanya bisa menunggu tindakan medis yang dilakukan para dokter. Sayang, karena kehilangan banyak darah saat kecelakaan tadi, Ji Ha harus membutuhkan donor darah dan persediaan di rumah sakit sedang habis. Apa yang harus dilakukan sekarang? Jika Ji Ha tak mendapatkan donor darah, Ji Ha bisa meregang nyawa.
“Kenapa bisa satu rumah sakit tidak ada darah?” ucap Ae Ja sedih dan mulai menangis
“Anggota keluarga apa ada yang bergolongan darah sama?” tanya suster
“Nenek! Ji Ha dan nenek memiliki golongan darah yang sama” jawab Ha Na
“Bagaimana ini?” keluh Ae Ja semakin sedih. Bagaimana bisa mertuanya mendonorkan darah sedangkan sampai saat ini mertuanya belum jua ditemukan
“Aku memiliki golongan darah yang sama. Golongan darah yang sama dengan Ji Ha” ucap Doo Ri yang baru saja datang.
Tuan Park segera menarik Doo Ri menjauh dari keluarganya.
“Untuk apa kamu datang ke sini? Apa yang sedang berada di dalam otakmu?” ucap Tuan Park khawatir
“Cucuku... Ji Ha ku...” lirih Doo Ri
“Jika darahmu diambil, kamu akan langsung menua. Apa bagusnya jadi tua? Apa bagusnya kulit muka yang keriput dan badan yang bau? Berhasil menjadi seorang penyanyi seperti impanmu tidakkah kamu bahagia? Ditambah, perasaan sukamu pada orang tersebut” ucap Tuan Park berusaha mengingatkan Doo Ri jika hal yang dilakukannya akan berdampak buruk terhadap dirinya…. Namun Doo Ri tetap bersikukuh ingin melakukannya
“Ayo kita pergi ambil darah!” ucap Doo Ri saat bertemu dengan Hyun Chul anaknya. Sedaritadi Hyun Chul telah mendengar percakapan Doo Ri dan Tuan Park
“Permisi... Ada yang mau kutanyakan padamu. Kenalkah kamu seorang anak kecil bernama Pooter? Kenalkah? Dulu-dulu... ada seorang wanita muda tanpa suami yang membesarkan anaknya seorang diri. Tapi anak tersebut jatuh sakit, kondisinya tidak baik. Dalam sehari beberapa kali kondisinya menjadi kritis. Ibu dari anak tersebut terlalu miskin sehingga tidak sanggup melakukan apapun. Karena itu... ia memeluk erat-erat anaknya dalam pelukannya menjawab dengan air matanya... Pooter... Pooter... Pooter... pertahankan nyawamu... tolong pertahankan nyawamu...” ucap Hyun Chul pada Doo Ri yang membelakanginya
“Ayo cepat jalan!” ucap Doo Ri berusaha mengabaikan ucapan Hyun Chul, anaknya
“Tunggu sebentar! Anakku biarlah menjadi tanggung-jawabku untuk menolongnya. Pergilah! Cepatlah pergi… Tolong pergilah...Jangan lagi memakan makanan yang telah dibuang oleh orang lain. Jangan memakan hidangan laut yang telah berbau amis. Jangan demi anak, menjalani hidup bagaikan seorang budak. Jangan mencari seorang suami yang pendek usia. Jangan melahirkan anak tidak berbakti sepertiku. Jangan... Kumohon... Cepatlah pergi, Ibu...” ucap Hyun Chul dan berusaha menghentikan Ibunya. Air mata menetes dari wajahnya saat mengucapkan kata demi kata, hal yang sama pun terjadi pada Doo Ri. Hyun Chul tak ingin menghancurkan impian Ibunya setelah semua yang sudah dialaminya demi dirinya.
“Tidak, sekalipun ada kehidupan setelah kematian, aku tidak akan bergeming. Aku akan hidup seperti ini sekalipun itu pahit dan melelahkan... Aku tidak akan mengubah apapun dan hidup seperti itu. Dengan begitu... barulah aku bisa menjadi ibumu. Kamu adalah anak yang baik” ucap Doo Ri akhirnya dengan linangan air mata. Doo Ri menghapus air mata di wajah putra semata wayangnya
“Ibu...” ucap Hyun Chul dan memeluk Ibunya erat
Doo Ri dibawa ke ruang operasi… saat akan memasuki ruangan, Doo Ri tanpa sengaja melihat sosok pria yang dicintainya, Seung Woo. Raut wajah Doo Ri menunjukkan kesedihan, mungkin ini terakhir kalinya dirinya bisa melihat Seung Woo sebagai Oh Doo Ri. Doo Ri bisa saja egois, namun nalurinya sebagai Nenek mengatakan kepadanya untuk lebih mengedepankan keluarganya dibandingkan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan Ji Ha cucunya jauh lebih berarti dan diatas segala-galanya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Justru memilih menjadi tetap muda mungkin akan menjadi keputusan yang akan disesalinya seumur hidup.
Aku bermimpi indah. Benar-benar sebuah... mimpi yang bahagia dan menyenangkan.

1 th kemudian
Ji Ha dan sahabatnya tampil di atas panggung… mereka memang kehilangan sebuah vokalis tetapi mereka menemukan pengganti yang sama hebatnya dengan Doo Ri. Dia adalah Ha Na, kakak perempuan Ji Ha. Di deretan penonton kita bisa melihat Mal Soon, Hyun Chul dan menantunya memegang balon berwarna kuning. Mereka datang untuk memberikan semangat pada Ji Ha dan Ha Na.
“Anakku hebat sekali!” teriak Mal Soon
“Kenapa anakmu, Eomonie? Dia anakku” protes Ae Ja
“Mirip siapa dia begitu pintar nyanyi? Ibu anak-anak, bukankah kau buta nada?” ucap Mal Soon balik
“Eomonie, yang kamu lahirkan setelah hamil 9 bulan ada di sini. Mereka itu keluar dari rahimku” ucap Ae Ja balik… ditengah-tengah Hyun Chul hanya bisa terdiam mendengar pertengkaran kecil istri dan ibunya. Pertengkaran kecil tersebut terus berlanjut hingga ke kamar mandi ruangan konser
“Anakmu itu ya anakku juga. Begitu saja kenapa repot?” ucap Mal Soon lagi
“Bukankah seumur hidup Emonie juga tidak pernah berhenti membanggakan putramu sendiri?” jawab Ae Ja
“Coba lihat... Mertua bicara saja kamu berani menyanggah”
“Emonie, usiaku juga sudah hampir 50” balas Ae Ja lagi
“Jadi setelah merayakan ulang tahun ke-80 mu itu, kamu jadi setara denganku?”
“Anda berencana hidup sampai aku merayakan ulang tahun ke-80?”
“Kenapa? Takut aku mengoleskan kotoran ke dinding?” tanya Mal Soon dan berlanjut dengan gelak tawa dari keduanya…. Mal Soon dan Ae Ja tampak akur. Masalah yang terjadi kemarin membuat mereka semakin berpikiran dewasa dan berusaha untuk mengerti satu sama lain. Celotehan Ibu mertuanya yang tidak pernah berhenti ditanggapi santai olah Ae Ja, baginya jauh lebih baik mendengarnya dibandingkan tidak sama sekali…
Saat berjalan meninggalkan gedung, Mal Soon terhenti sesaat. Pandangannya menangkap sosok yang dirindukannya. Pria tampan yang di awal pertemuan mereka sempat menimbulkan kesalahpahaman. Pria yang membuatnya merasakan jatuh cinta sekali lagi… Mal Soon tersenyum bahagia, di seberang sana Seung Woo yang sedang mengobrol dengan seseorang berbalik sesaat menatap Mal Soon. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik hingga akhirnya Mal Soon berbalik dan berjalan meninggalkan Seung Woo… sebuah jepit rambut berwarna biru bertengger di rambutnya. Mal Soon memilih meninggalkan cintanya dan menghampiri kehangatan dekapan keluarga yang selama ini selalu menemaninya. Ya, hidup adalah pilihan dan pilihan Mal Soon adalah keputusan yang terbaik untuknya. Annyeong Seung Woo….
Di sebuah jalan
Tuan Park berhenti sesaat saat melewati sebuah gedung. Foto yang dipajang di etalase menarik perhatiannya begitupun papan nama gedung tersebut “studio foto Cheongchun”.
Mal Soon merasa kagum melihat Tuan Park dengan sepeda motornya. Hari ini, Tuan Park melakukan kebiasaannya menjemputnya di halte Bus. “tekhnik tua Bangka ini sudah maju pesat” ucap Mal Soon pada Tuan Park yang sekarang berdiri di hadapannya. Tuan Park tidak menjawab dan malah membuka helmnya. Wajah pria di hadapannya ini berhasil membuat Mal Soon terpaku begitupun dengan murid sma yang berada tak jauh dari mereka “bagaimana? Keren sekali kan?” ucap Tuan Park dan memakaikan helm ke kepala Mal Soon. Mal Soon seolah tak percaya… sosok Tuan Park, sahabatnya yang selama ini dikenalnya telah berubah drastis.
“Kamu menemukan studio foto itu?” tanya Mal Soon yang berada di boncengan Tuan Park young (muda)
“Fotografernya sangat baik dan sabar” jawab Tuan Park
“Bagaimana ini? Bagaimana kamu bisa pulang ke rumah?” tanya Mal Soon lagi
“Buat apa pulang ke rumah? Aku sudah bebas sekarang. Punya motor dan bensin, mau ke mana juga bisa” jawab Tuan Park
“Jangan terlalu girang, bisa kecelakaan. Ayo segera donorkan darahmu!” usul Mal Soon
“Aku berubah jadi muda, kamu khawatir? Kamu takut aku lari dengan gadis-gadis muda?” goda Tuan Park
“Tolong ya, jangan ngomong sembarangan. Kamu itu si Park tua. Katanya kamu alergi buah persik? Lalu kenapa kamu habiskan semua buah itu? Dasar bodoh” ucap Mal Soon ikut menggoda
“Itulah yang dinamakan cinta sejadi seorang pria” jawab Tuan Park tertawa..


=THE END=

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015