[Sinopsis] Movie Miss Granny Bagian Pertama

MISS GRANNY

Movie: Miss Granny (English title) / Suspicious Woman (literal title)
Revised romanization: Soosanghan Geunyeo
Hangul: 수상한 그녀
Director: Hwang Dong-Hyuk
Writer: Shin Dong-Ik, Dong Hee-Sun, Hong Yoon-Jung, Hwang Dong-Hyuk
Producer: Han Hong-Suk, Lim Ji-Young, Jun Jae-Soon
Cinematographer: Kim Ji-Yong
Release Date: January 22, 2014
Runtime: 124 min.
Genre: Comedy
Distributor: CJ Entertainment
Language: Korean
Country: South Korea



Apa jadinya jika seorang wanita berusia lanjut berubah menjadi seorang gadis muda berusia 20th? Jawabannya tentu saja mengejutkan dan tentunya tidak masuk akal. Tapi itulah yang terjadi pada seorang wanita bernama Oh Mal Soon.
Penasaran, silahkan dibaca^^

Jika wanita disamakan dengan bola,
Gadis remaja berusia belasan tahun yang bak bunga dan batu pualam bagaikan bola basket. Demi menangkap bola yang memental tinggi di udara, para pria akan mengulurkan tangan untuk memperebutkannya dengan sekuat tenaga. 
Wanita yang berusia dua-puluhan bak bola rugby. Dalam rangka merebut bola tersebut, para pria akan saling mencabik bagaikan serigala. Yang juga merupakan saat di mana para pria berjuang mati-matian demi mendapatkan bola. 
Pada usia 30-an, wanita adalah bak bola ping-pong. Meskipun secara signifikan, jumlah pria yang bersaing memperebutkan bola berkurang, tapi perhatian mereka terhadap bola boleh dibilang masih lumayan. 
Wanita setengah baya adalah bak bola golf. Satu bola, satu pria. Begitu pria melihat bola ini, akan mengayunkan tongkatnya dan melambungkan bola tersebut sejauh mungkin. 
Wanita yang telah melampaui batas usia ini... hanya bisa menghindari bola.

MISS GRANNY


Di sebuah kelas, seorang dosen tengah serius mengajar mata kuliah “GERONTOLOGI” dan pembahasan kali ini adalah “Ageism-prasangka terhadap manula”. Sang dosen meminta mahasiswanya untuk menyebutkan ciri-ciri seorang manula. Ada yang menjawab –keriput dan kulit mengalami hiperpigementasi, mereka memerlukan pemanas di musim dingin, lambat seperti kura-kura, memiliki bau badan yang khas serta tidak tahu malu-. Sang dosen menggeleng, mahasiswanya terdengar sangat keterlaluan. Mereka juga nantinya akan menua namun salah satu dari mahasiswa tersebut berucap jika itu tak akan terjadi, begitu umurnya memasuki usia 30an, dia akan bunuh diri. 
Hal yang sama juga diutarakan seorang wanita paruh baya bernama Oh Mal Soon kepada sahabatnya, Tuan Park. Mal Soon juga memiliki keinginan untuk bunuh diri begitu melewati usia 30th namun ketika melihat anak semata wayangnya, dirinya mengurungkan niat tersebut dan terus fokus membesarkan anaknya tanpa didampingi sang suami yang tewas tertembak di Jerman. Dan semuanya tak sia-sia karena putra kesayangan dan kebanggannya telah menjadi orang sukses… menjadi dosen di universitas negeri dan ahli Gerontologi. 

Percakapan mereka sedikit terganggu dengan munculnya seorang wanita paruh baya lainnya bernama Ok Ja, wanita yang menyukai Tuan Park dan selalu mendatangi kafe tempat Mal Soon dan Tuan Park bekerja. Ok Ja mengejek jika memang anak Mal Soon adalah orang yang sukses kenapa Mal Soon selalu menggunakan sepatu yang sudah sobek. Mal Soon tak tinggal diam dan membalas ejekan Ok Ja. Saat Ok Ja meminta kopi Amerika, Mal Soon seketika tertawa… Kopi Amerika? Maksudnya Americano?
Tak ayal, pertengkaran tak dapat dihindarkan. Mal Soon dan Ok Ja saling menarik rambut masing-masing. Tuan Park yang berusaha memisahkan mereka, justru mengalami pendarahan di hidungnya akibat bertubrukan dengan kepala dari salah satu wanita paruh baya di hadapannya.

Sepulangnya dari kafe, Na Young putri dari Tuan Park segera mengobati luka Ayahnya. Lagi-lagi karena Nenek Mal Soon, kenapa Ayahnya selalu menjadi sasaran? Omelan Na Young yang tak henti-hentinya tanpa sengaja didengarkan oleh Mal Soon yang datang menjenguk Tuan Park. Mal Soon berbalik mengomeli Na Young yang tidak menggunakan bahasa banmal pada Ayahnya dan sampai kapan dirinya menempel terus pada Ayahnya? Apa Na Young tak akan menikah?
Usai mengucapkan hal yang dikatakannya dan memberikan bungkusan plastik berwarna hitam, Mal Soon segera pergi. Tuan Park bergegas mengejarnya dan meminta putrinya untuk tak berbicara sembarangan lagi tentang Mal Soon “tahu apa kamu? Tidakkah kamu tahu betapa baik hatinya Agassiku?”.
Kita bisa melihat Tuan Park yang membonceng Mal Soon, omo daebak… sementara itu Na Young yang penasaran dengan bungkusan plastik yang dibawa Nenek Mal Soon segera membukanya. Buah persik? “mereka berdua ini sebenarnya dekat atau tidak? Ayahku alergi dengan buah persik, Nenek Mal Soon tak mengetahuinya?” 
Di sebuah panggung
Beberapa orang gadis yang menamai diri mereka Sugar Girls tengah menari di atas panggung. Di sisi panggung seorang pria dan wanita tengah mengamati mereka. Seung Woo selaku produser dari acara yang akan tayang di stasiun tv merasa kurang sreg dengan girl band yang sedang tampil begitupun dengan boy band yang akan tampil setelah mereka. Mereka sama sekali tidak mempunyai rasa dan tidak memiliki penjiwaan terhadap lagu…
Kembali ke Mal Soon
Di rumah, Mal Soon kembali mengomel. Kali ini mengomeli menantunya yang selalu saja memasak sup seafood tapi meletakkan lobaknya di bawah. Sang menantu yang bernama Ae Ja hanya bisa terdiam dan memilih mendengarkan semua ceramah Ibu mertuanya. Beban hidup yang dirasakannya sudah teramat berat dan tak sanggup ditanggungnya. Anak laki-lakinya, Ban Ji Ha menjadikan musik sebagai pekerjaan tetapnya sementara putri sulungnya sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan walaupun sudah belajar mati-matian. 
“Eomonie... Sebentar lagi Ji Ha akan lulus lagipula dia harus mencari kerja” ucap Ae Ja pada Mal Soon. Ibu mertuanya tersebut sangat mendukung hoby Ji Ha, maklum Ji Ha adalah cucu kesayangannya
“Penyanyi itu bukan artis, akhir-akhir ini marak sekali para penyanyi yang mempromosikan budaya kita di luar negeri. Negara sampai memberi medali penghargaan” balas Mal Soon
“Eomonie, biar aku saja yang mengurusi masalah pendidikan anak-anak” pinta Ae Ja. Ae Ja seolah menegaskan agar Ibu mertunya tak usah mencampuri urusan keluarganya.
“Waktu aku masih muda dan membesarkan anak, apapun tidak punya, tapi bisa membesarkan ayah anak-anak sampai sukses. Dalam hal mendidik anak, aku jauh lebih pintar darimu”
Ae Ja mengkonsumsi obat-obatan. Suaminya merasa khawatir dan meminta istrinya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Saat akan mengantar suaminya ke depan pintu, Ae Ja hanya terdiam. Tugas yang seharusnya menjadi kewajibannya diambil alih oleh mertuanya…. Ae Ja bahkan tak sanggup mengucapkan selamat jalan dan hanya bisa terdiam di balik punggung ibu mertua.
Ji Ha latihan band bersama teman segrupnya. Sayang latihan hari ini tak berjalan mulus karena Mi Ae, sang vokalis terkesan ogah-ogahan dalam berlatih dan suaranya terdengar fals. Bukan pada latihan kali ini saja tapi juga latihan sebelumnya. Ji Ha selaku leader terang saja menegurnya namun bukannya menerima, Mi Ae malah melawan dan mengejek nama Ji Ha yang terkesan kampungan.
“Hei, Seo Mi Ae! Nenekku kalau bernyanyi, suaranya jauh lebih merdu darimu” teriak Ji Ha pada Mi Ae yang memilih pergi
Hei, ruang latihan kita... bukankah sewanya dibayarkan oleh Mi Ae?” tegur teman Ji Ha
“Mi Ae! Mi Ae, Oppa akan mengganti nama. Coba kamu carikan aku sebuah nama!” teriak Ji Ha tersadar dan segera mengejar Mi Ae
Mal Soon berjalan-jalan ke pasar. Sepasang sepatu berwarna biru muda menarik perhatiannya. Mal Soon sepertinya sangat menginginkannya namun entah hal apa yang menghalanginya untuk membelinya. Mal Soon pun memutuskan pulang ke rumah tetapi tak ada seorang pun di rumah. Yang ada hanyalah barang belanjaan yang diletakkan begitu saja di atas meja dan tumpahan air dari sebuah gelas. Kemana semua orang?
Ji Ha, Ha Na dan Hyun Chul sedang berada di rumah sakit. Ae Ja terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani operasi. Pasca operasi, Ae Ja dipindahkan ke kamar. Mal Soon yang ikut bergabung bersama dengan anak dan cucunya terus memantau perkembangan kondisi Ae Ja, sayang Ae Ja meminta agar ibu mertuanya untuk keluar dari kamar atau dengan kata lain, Ae Ja tak ingin melihat ibu mertuanya. 
Dokter yang memeriksa Ae Ja mengingatkan Hyun Chul untuk merawat istrinya dengan baik. Ae Ja selama ini merasa tertekan dan meminum obat depresi. Ucapan sahabatnya membuat Hyun Chul mengalami dilema. Di satu sisi, Istrinya dan anak perempuannya menginginkan agar Ibunya dikirim ke panti Jompo tapi disisi lain, Hyun Chul tak mungkin melakukannya, biar bagaimanapun Ibunya adalah orang tua yang sudah membesarkannya seorang diri hingga dirinya menjadi seperti sekarang ini. Apa yang harus dilakukannya sekarang? 
Pada akhirnya, Hyun Chul pun mengambil keputusan mengirimkan Ibunya ke panti jompo. Hyun Chul berjanji akan menjemput Ibunya begitu kondisi istrinya mulai membaik. Hyun Chul sama sekali tidak memikirkan perasaan Ibunya yang tersakiti karena keputusannya. Dan belum selesai masalah yang menimpa Mal Soon, seorang wanita seumurannya datang ke kafe dan memakinya bahkan memukulinya. Wanita tersebut sakit hati dan dendam pada Mal Soon yang sudah memporak pandakan keluarganya di masa lalu. Mal Soon yang baru saja melahirkan putra pertamanya sudah ditolong, diberi tempat tinggal dan makan tetapi balasannya adalah Mal Soon malah mencuri resep sup rahasia Ibu wanita tersebut.
“Oke... Mau maki silakan memaki, mau meludah silakan meludah. Anakku yang karena sakit parah hingga tidak sanggup menelan air susu, aku yang membesarkan dia dengan susah payah. Anakku adalah seorang dosen… Dosen sebuah universitas negeri. Siapa yang lebih jago dariku dalam hal mengajari anak, ayo keluar! Anakku juga tahu, karena itu dia sayang sekali padaku. Tahukah kalian?” teriak Mal Soon dengan linangan air mata. semua beban yang dirasakannya akhirnya ditumpahkannya hari ini.
Malam harinya
Sepulang dari kafe, Mal Soon memutuskan berdiam diri di sebuah halte bus. Air mata masih membasahi wajahnya yang tak muda lagi. Rasa sesak karena diabaikan oleh keluarganya membuat Mal Soon semakin terisak. Bunyi Hp menghentikan kegiatan Mal Soon sesaat. Ji Ha cucunya meneleponnya dan meminta agar Neneknya mentraktirnya makan. Mal Soon setuju dan mereka berjanji bertemu di stasiun Hongdae jam 8 nanti. Usai berbicara dengan Ji Ha, Mal Soon tanpa sengaja melihat sebuah studio foto di seberang jalan. Studio foto Cheongchun. Mal Soon memutuskan mendatanginya dan berhenti sesaat untuk memandangi foto seorang gadis cantik yang terpajang di etalase sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam studio foto. 
“anda harus dandan yang cantik ya! Jika tidak, aku tidak akan mengambil fotomu” ucap fotografer
“Foto yang dipajang di luar itu adalah foto Audrey Hepburn, kan?” tanya Mal Soon dan mulai menyapukan bedak ke wajahnya
“Iya”
“Itu film apa itu yang seorang putri melarikan diri bersama seorang pria?” tanya Mal Soon lagi
“Roman Holiday?”
“Iya, Roman Holiday. Dari semua artis yang kutahu, dia yang paling cantik. Umur berapa dia sekarang?” tanya Mal Soon untuk kesekian kalinya
“Jika masih hidup, seharusnya sudah 85 tahun kali”
“Audrey Hepburn sudah meninggal?” tanya Mal Soon terkejut
“Iya, sudah meninggal dua puluh tahun lebih. Waktu Anda masih muda, anda juga pasti secantik Audrey Hepburn.
“Jujur saja, dulu begitu bilang aku adalah putri keluarga Oh, Oh Mal Soon. Tidak ada satupun pria di Boseong yang tidak kenal padaku. Ditambah aku itu pintar menyanyi. Direktur opera setelah mendengarku bernyanyi, tidak henti-hentinya memintaku menjadi seorang penyanyi. Dia bilang aku punya vokal, wajah, dan tubuh seorang biduanita. Katanya aku itu satu paket atau apalah” jawab Mal Soon sedikit malu
“Sekarangpun anda masih terlihat seperti seorang nona” puji fotografer
“Karena itu aku ingin foto sekarang sebelum bertambah jelek. Jika di atas meja altar terdapat sebuah foto yang jelek, begitu lihat juga tidak ingin, benar tidak menurutmu? Bedak yang tidak pernah kugunakan saat aku masih muda, ternyata kugunakan pada saat mengambil foto altar” ucap Mal Soon dan memoleskan lipstick ke bibirnya.
Mal Soon beranjak menuju tempat pemotretan dan mulai mengatur posisi
“Aku akan membuatmu terlihat lebih muda 50 tahun” ucap fotografer
“Terima kasih atas kata-katamu yang menghibur” jawab Mal Soon
“Siap-siap ya! Satu, dua, tiga...”.

Suara jepretan kamera dan cahaya lampu blits menandakan Mal Soon telah selesai dipotret. Namun hal yang aneh mulai terjadi. Seseorang keluar dari studio foto tetapi yang keluar bukanlah Mal Soon melainkan sosok gadis muda berusia 20th an yang mengenakan baju Mal Soon. Gadis tersebut berlarian mengejar Bus yang akan menuju stasiun Hongdae.
Saat berhasil naik ke dalam Bus, gadis tersebut segera didekati seorang pemuda berpenampilan nyentrik. Pemuda tersebut tak henti-hentinya menggodanya dan bahkan tidak menggunakan bahasa banmal. Si gadis tentu saja marah, bagaimana bisa pemuda di hadapannya ini berlaku kurang ajar terhadapnya lagipula apa pemuda tersebut tak menyadari perbedaan usia diantara mereka yang sangat jauh. Bayangan si gadis di kacamata pemuda tersebut berhasil membuatnya terdiam. Dirinya tidak salah lihat kan? Kenapa yang duduk di hadapan pemuda tersebut adalah sosok gadis muda? Anio, ini tidak mungkin…. Arggggghhhhhhh.
Mal Soon bergegas ke apotek untuk membeli obat penenang. Dirinya bisa gila sekarang menyadari hal aneh yang terjadi pada tubuhnya…. Saat berdiri bersebelahan dengan seorang pria, Mal Soon bertanya pada pria tersebut, terlihat seperti umur berapakah dirinya dan dijawab oleh Seung Woo 20an. Mal Soon masih tak mempercayainya, Mal Soon bertanya pada apoteker terlihat berapa usianya sekarang dan dijawab 19th? Jam dinding yang berdetak menandakan waktu sudah pukul 8 malam. Mal Soon sontak panik dan berlarian menuju stasiun Hongdae tempat dimana dirinya dan Ji Ha cucunya sudah berjanji untuk bertemu. 
Dari kejauhan, Mal Soon hanya bisa memandangi Ji Ha cucunya yang telah menunggunya bersama dengan teman-temannya. Mal Soon tak mungkin menemui Ji Ha dalam kondisi seperti ini, bisa-bisa dirinya dianggap gila karena mengaku sebagai Nenek Ji Ha. Tak ada pilihan lain, Mal Soon harus membatalkan janjinya bersama dengan Ji Ha dan yang lebih menjadi prioritas sekarang adalah mencari tahu bagaimana bisa dirinya berubah menjadi muda?
Mal Soon mendatangi studio foto tempatnya terakhir kali terlihat sebagai Mal Soon usia 70 an tetapi anehnya studi foto Cheongchun telah berubah menjadi sebuah rumah makan. Bagaimana mungkin? Mal Soon sangat yakin jika ini adalah tempatnya tetapi wanita pemilik rumah makan menegaskan jika tak ada studio foto disini dan dirinya telah membuka usaha rumah makan selama 10th.

Keesokan harinya
Hyun Chul mendatangi kediaman Tuan Park untuk mencari keberadaan Ibunya, dari semalam Ibunya sama sekali tidak pulang. Hyun Chul memang berencana mengirim Ibunya ke Panti Jompo tapi tak secepat ini. Tuan Park jelas saja kaget mendengarnya dan mulai panik, apa mungkin agassinya diculik? Na Young segera membantah ucapan Ayahnya, siapa yang mau menculik Nenek tua? Tuan Park meminta Hyun Chul untuk melapor polisi namun Hyun Chul menjawab jika mereka baru bisa membuat laporan jika dalam waktu beberapa hari, Ibunya tidak memiliki kabar.
Mal Soon terbangun dari tidurnya karena bermimpi buruk… Mal Soon melihat anak, menantu dan ke dua cucunya tertawa bahagia ketika mengira dirinya sudah mati. Dari kejauhan terdengar gelak tawa. Mal Soon berbalik sesaat dan mendengus kesal ketika melihat 3 orang gadis tertawa terbahak-bahak dan terlihat sangat senang. Mal Soon berusaha mengabaikannya dan fokus dengan keanehan yang kembali terjadi pada dirinya. Tubuhnya yang dulunya terasa kaku dan sakit saat bangun tidur sekarang tak terasa lagi… Mal Soon bahkan dengan lincahnya bisa melakukan salto dan melompat kesana kemari.
Mal Soon sekarang berada di tempat sauna… tidak ada tempat yang ditujunya saat ini dan tempat ini adalah tempat yang terbaik untuknya. Mal Soon melirik sesaat Hpnya yang lowbath
99 Panggilan tidak terjawab, bukannya aku mau diusir? Kenapa telepon lagi?
Mal Soon kemudian melihat sosok wanita paruh baya yang mungkin tua 10th darinya
Iya nih! Mau lihat aku menua dan mati begitu saja? Benar-benar tidak adil. Karena itulah aku diberi kesempatan seperti ini oleh Tuhan.
Tak hanya itu, sekumpulan wanita tua yang sedang asyik menonton tv membuat Mal Soon terkejut.
Yang di situ itu manusia atau kol?
Mal Soon membayangkan salah satu dari mereka melihat ke arahnya dan wajahnya adalah wajah Mal Soon. 
Tak ada jalan lain selain menikmati kesempatan ke dua yang diberikan Tuhan kepadanya. Kembali ke usia muda dan melakukan segala hal yang belum pernah dilakukannya dulu. Dimulai dari berbelanja ke mall membeli baju yang dulu sangat ingin dipakainya, mengganti gaya rambutnya, membeli sepatu yang kemarin-kemarin hanya bisa dilihatnya dan terakhir mencari rumah kost. 
Rumah yang dituju Mal Soon adalah rumah Tuan Park. Na Young menyambutnya dengan tatapan sinis dan mengatakan biaya sewa kamar adalah 500 ribu/bulan. Mal Soon sontak tertawa terbahak-bahak dan berucap dengan sinis juga “Kamu kira aku idiot? Aku tahu dulu harganya 400 ribu. Apaan 500 ribu? Makan aku bisa sendiri. Menurutku untuk kamar itu 300 ribu cukup. Arah kamarnya lumayan lagipula, gadis muda yang tinggal di tempat ini dulu meninggalkan sebuah meja rias”. Disaat yang bersamaan Tuan Park datang, Na Young memperkenalkan kepada Ayahnya jika ada seorang gadis yang ingin kos di rumah mereka.
“Tapi, siapa namamu?” tanya Na Young yang sibuk mengunyah buah semangka
“Itu... Namaku adalah...Oh Doo Ri” jawab Mal Soon lirih
“Oh Doo Ri? [NOTE: Pelafalan Audrey dan Oh Doo Ri mirip] Agassi-ku paling suka dengan Audrey Hepburn” ucap Tuan Park
“Doo Ri... Oh Doo Ri” ucap Mal Soon lagi menegaskan dan bergegas menuju ke kamarnya

Malam harinya
Doo Ri (mulai disini kita panggil Doo Ri ya bukan Mal Soon) mengendap-ngendap menuju rumahnya. Doo Ri menyelipkan sebuah surat di antara besi-besi pagar dan bergegas pergi setelah sebelumnya berpapasan dengan anaknya, Hyun Chul. 
Hyun Chul terlihat sedih ketika istrinya, Ae Ja membacakan isi surat Ibunya. Ha Na berucap bagaimana jika mereka lapor polisi saja namun Ae Ja sontak tak setuju. Bagaimana bisa mereka melaporkan kasus hilangnya Nenek Ha Na pada polisi, karir Ayah Ha Na bisa hancur terlebih bidang yang diajarkan suaminya adalah Gerontologi (Ilmu yang mempelajari melalui berbagai aspek terhadap proses penuaan). 
Keesokan harinya
Doo Ri mengunjungi kafe tempatnya bekerja dulu tapi kali ini datang sebagai pelanggan. Kehadiran Ok Ja disana membuatnya kesal terlebih Ok Ja bergelayut manja pada Tuan Park, sahabatnya. Tak hanya itu Ok Ja juga bernyanyi dan mengirimkan sinyal-sinyal cinta pada Tuan Park.
Mau apa lagi wanita ini?
Ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan?
Dasar perempuan satu ini!
Perempuan ini, kulit mukanya setebal badak!

Tak ingin kalah, Doo Ri juga mengambil inisiatif untuk bernyanyi. Suara Doo Ri yang indah mampu menghipnotis semua orang yang berada di ruangan tersebut termasuk Ji Ha, cucunya yang baru saja datang demi mencari dirinya (Mal Soon) dan juga Seung Woo yang kebetulan berada tak jauh dari kafe tempat Doo Ri bekerja.
Tepuk tangan terdengar di seluruh ruangan… Doo Ri tersenyum senang dan melambaikan tangan kepada semuanya. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, Doo Ri tanpa sengaja menangkap sosok Ji Ha. Tanpa menunggu lebih lama, Doo Ri segera kabur dan berhasil membuat Ji Ha dan Seung Woo terkejut dan buru-buru mengejarnya namun mereka tidak menemukan Doo Ri dimanapun. 
Doo Ri dan Tuan Park menonton drama bersama. Tuan Park merasa sedikit heran melihat sikap, cara berbicara bahkan Nyanyian lawas yang dibawakan Doo Ri tadi…. Tuan Park merasa Doo Ri mirip seseorang yang dikenalnya… merasa terpojok, Doo Ri bergegas masuk ke kamarnya namun kemunculan Ji Ha yang mencarinya berhasil membatalkan niat Doo Ri. 
“Sebentar! Kasih salam ayo! Dia itu sudah seperti cucuku sendiri. Katanya ada yang mau dia bicarakan denganmu” ucap Tuan Park pada Doo Ri
Doo Ri berada di sebuah kedai bersama cucunya, Ji Ha.
Aigoo, anak ingusan yang tidak kuat minum ini sedang apa?- batin Doo Ri
“Nona Doo Ri pernah minum soju berduaan dengan lelaki?” tanya Ji Ha
Ayahmu keluar gara-gara aku dan kakekmu minum kebanyakan, kunyuk!-batin Doo Ri lagi
“Kenapa harus malu-malu? Tidak berani menatap orang lain” ucap Ji Ha
Aigoo, yang tidak berani menatap orang itu kau, kunyuk -batin Doo Ri
“Pertama kali dalam hidupku, baru pertama kali kurasakan perasaan seperti tadi itu” ucap Ji Ha
Tunggu dulu! Kata-kata inilah yang pertama kali diucapkan oleh kakek kunyuk ini padaku. Aigoo, takut orang tidak tahu mereka itu kakek cucu apa? Sampai tatapan mata juga mirip- batin Doo Ri mulai panik
“Aku ada sebuah permintaan, kamu sama sekali tidak boleh menolakku. Mengerti?” ucap Ji Ha
Bukankah ini adalah dialog malam itu?- Doo Ri
“Bersama denganku…” ucap Ji Ha 
…. melewati hidup ini bagaimana?... “Tidak! Sama sekali tidak boleh! Jangankan menuangkan pasir ke dalam mataku, menuang lumpur juga tidak boleh! Tidak!” teriak Doo Ri menolak
“Tidak boleh ya? Jujur saja, band seperti kami ini... memang terlalu merugikanmu” ucap Ji Ha sedih. Jadi maksud permintaan Ji Ha tadi adalah meminta Doo Ri untuk bergabung dalam grup bandnya. Sepeninggal Mi Ae, band yag digawangi Ji Ha tak memiliki vokalis lagi.
“A--apa? Nyanyi? Yang kamu ingin kulakukan bersamamu adalah nyanyi?” tanya Doo Ri mulai tenang
“Aku membentuk sebuah grup band tapi tidak punya lead vocal. Dia bertengkar denganku. Tidak ada lead vokal, juga tidak ada tempat untuk latihan…. Ada sedikit masalah dalam keluargaku. Ibuku mengalami serangan jantung. Ayah dan noonaku merasa kejadian itu adalah tanggung-jawab nenekku karena itu nenekku melarikan diri dari rumah. Tapi semua itu adalah tanggung-jawabku. Nenek melarikan diri dari rumah, Ibuku jatuh sakit juga semua ini gara-gara aku terlalu menyebalkan. Siapa tahu? Nona Doo Ri kan tidak memahamiku. Ban Ji Ha, nama seperti apa ini? Nama saja sudah menyebalkan.
Nama itu adalah pemberianku kunyuk- batin Doo Ri “ Ya sudah! Nyanyi kan? Ya sudah nyanyi. Aku nyanyi nanti. Sebuah band kan? Besok kita mulai latihan. Dasar!” ucap Doo Ri akhirnya
Keesokan harinya
Seung Woo masih gelisah karena kehilangan sosok Cinderella yang bersuara emas. Seung Woo bahkan tidak menyukai penyanyi yang disodorkan kepadanya… sementara itu Doo Ri sendiri hanya bisa menganga ketika menyaksikan cucunya Ji Ha beserta teman-temannya melakukan performance mereka. Bagaimana bisa mereka menyebut diri mereka penyanyi? Penyanyi adalah seseorang yang menyanyi dengan hati, bisa menggetarkan jiwa dan bukan menggetarkan gendang telinga. Doo Ri menunjukkan bagaimana penyanyi yang sesungguhnya dan sekarang posisi menjadi terbalik. Gantian Ji Ha dan teman-temannya yang menganga melihat aksi Doo Ri. Mereka band dengan aliran musik metalik harus berubah menjadi band dengan aliran musik Soul? Doo Ri terdiam sesaat dan melemparkan sebuah kiss kepada Ji Ha, cucunya dan teman cucunya… mereka bertiga sontak saja tersenyum.
Jadilah Doo Ri, Ji Ha dan ke dua sahabat cucunya tersebut menyanyi di jalanan.. dan dari hasil menyanyi, mereka berhasil mengumpulkan banyak uang dan makan malam bersama. Ji Ha dan ke dua temannya meminta Doo Ri memanggil mereka Oppa karena ternyata Doo Ri jauh lebih muda dari mereka. Penampilan Ji Ha dan sahabat-sahabatnya berubah 180◦ semenjak munculnya Doo Ri. Mereka merubah image menjadi lebih ceria dan jauh lebih fresh…
Doo Ri naik kereta api…. Disampingnya seorang wanita tengah kewalahan mengatasi anaknya yang tengah menangis dan membuat Doo Ri mau tak mau ikut membantunya. Awalnya wanita tersebut merasa terbantu dengan adanya Doo Ri namun ocehan Doo Ri yang tak hentinya berkomentar membuat wanita tersebut kesal. Layaknya orang tua, Doo Ri menasehati wanita yang jauh lebih tua dengannya mengenai cara merawat anak.
Turun dari kereta api, Doo Ri berjalan menuju rumah kosnya. Entah kenapa Doo Ri merasa ada seseorang yang membuntutinya. Tapi siapa dia? Doo Ri mempercepat langkahnya dan berhasil menangkap basah pria yang membuntutinya tersebut. Pria tersebut adalah Seung Woo yang sedaritadi sudah mengikuti Doo Ri karena tanpa sengaja melihat Doo Ri di kereta. Sayang, sepertinya Doo Ri salah sangka dan menyangka dirinya adalah pria jahat
“Kamu mungkin tidak pernah melihatku tapi aku pernah melihatmu” ucap Seung Woo membuka pembicaraan
“Aigoo, jadi muda ternyata begitu melelahkan” lirih Doo Ri
“Maaf? Pokoknya, kita bisa sering bertemu, berarti memang kita berjodoh” ucap Seung Woo lagi
“Berjodoh? Kamu dan aku?” ucap Doo Ri kesal
“Wah! Benar-benar unik! Benar-benar berbeda dengan gadis-gadis zaman sekarang. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang sebentar di suatu tempat?” ajak Seung Woo namun Doo Ri malah menyudutkannya dengan mengarahkan seekor ikan ke arahnya
“Cukup! Selagi aku masih berbicara baik-baik, segera pergi kamu dari sini! Jodoh kepalamu!” ucap Doo Ri mengingatkan. Doo Ri kemudian berjalan pergi setelah cukup yakin jika pria di hadapannya ini mengerti dengan ucapannya namun sepertinya tidak. Seung Woo berniat untuk menghentikan Do Ri dengan cara memegang bahunya namun seperti pegangan Seung Woo terlalu kencang sehingga kancing baju Doo Ri bagian atas terbuka sedikit. Doo Ri tentu saja panik dan memanggil polisi yang kebetulan lewat. Mau tak mau Seung Woo harus berurusan dengan pihak yang berwajib akibat salah paham yang terjadi antara dirinya dan Doo Ri.
Doo Ri mendatangi rumah Ji Ha yang tak lain rumahnya sendiri… saat pintu pagar terbuka, muncullah Ji Ha yang terkesima dengan kecantikan gadis dihadapannya ini. Ji Ha kemudian mengajak Doo Ri masuk ke dalam rumah. Ae Ja dan Ha Na menyambutnya dan membuat Doo Ri sedikit mendengus kesal dalam hati karena kondisi menantunya baik-baik saja, percuma dirinya khawatir.
Saat melewati sebuah kamar, Doo Ri meminta ijin kepada Ji Ha agar bisa melihat ke dalam kamar tersebut. Ji Ha bingung ingin menyetujuinya atau tidak karena kamar yang ingin dimasuki Doo Ri adalah kamar Neneknya. “Aku dibesarkan oleh nenekku. Aku jadi teringat pada nenekku yang telah meninggal itu” ucap Doo Ri sedih lengkap dengan tatapan mata kucingnya. Ji Ha membuka pintu seketika dan membiarkan Doo Ri melihatnya sesuka hati…. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Do Ri untuk mengambil buku tabungan dan stempelnya terlebih Ji Ha pergi selama beberapa saat.
Sementara itu
Pencarian terhadap Oh Mal Soon masih dilakukan… polisi mengambil kesimpulan jika Mal Soon tidak melarikan diri tetapi diculik. “Kesimpulan dari penyelidikan kami...Oh Mal Soon bukan melarikan diri dari rumah, tapi diculik. Dari sini bisa dilihat jika dia telah memastikan sudut dan lokasi dari CCTV. Ditambah dia menggunakan payung. Ini bukanlah sembarang residivis. Dinilai dari lokasi pengambilan uang, kemungkinan besar tempat di mana pelaku dan korban tinggal sangat dekat. Di daerah sekitar kalian ada orang seperti ini?” . Tuan Park yang menemani Hyul Chul mencerna ucapan polisi dan menatap lebih jelas layar computer. Payung tersebut tidak asing baginya, akhir-akhir ini dia sering melihatnya


BERSAMBUNG

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015