[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 47

EPISODE 47
Cinta bukan hanya saling menerima tetapi juga saling memberi



Hyo Ri tanpa sengaja melewati kamar Son Ja-Gong Joo dan membukanya untuk membangunkan mereka. Hyo Ri sedikit bingung ketika melihat Son Ja tidur di lantai sementara Gong Joo tidur di tempat tidur. Beberapa menit kemudian, Hyo Ri kembali mengetuk kamar ke dua anaknya lagi dan berteriak menyuruh mereka bangun… ketika membuka pintu, Hyo Ri mendapati Son Ja dan Gong Joo tidur di tempat tidur yang sama.
“kenapa bantal dibawah? Apa kalian bertengkar?” tanya Hyo Ri dan dijawab Son Ja-Gong Joo secara bersamaan “tidak”.

Ayah Da Mo kembali ke rumah dan terkejut ketika mendapati Sa Ran, menantunya menyambutnya… ayah Da Mo tersenyum bangga, istrinya akhirnya kembali. Namun ketika melihat Sa Ran segera berlutut dihadapannya dan meminta agar Ayahnya mengikuti keinginan Ibu mertua, Ayah Da Mo terlihat sedikit kecewa. 
Sa Ran mengatakan kepada Ayah Da Mo untuk mengalah kali ini saja, Ibu Da Mo dalam beberapa hari ke depan memutuskan untuk ke India dan melakukan meditasi. Ayah Da Mo tentu saja terkejut mendengarnya. Sa Ran menambahkan jika seseorang yang ke India untuk melakukan meditasi akan tinggal disana selama bertahun-tahun. Apa Ayah Da Mo tak akan kesepian jika harus ditinggal istrinya? Bagaimana jika mereka tak diberi umur panjang untuk bersama? Bagaimana jika salah satu dari mereka harus pergi terlebih dahulu, misalnya saja Ibu Da Mo? Apa Ayah Da Mo tak akan bersedih dan menyesali semuanya? Ibu mertuanya hanya ingin dihargai dan dimengerti… cinta bukanlah saling menerima tapi juga saling memberi. Ayah Da Mo tak pernah sekalipun memuji Ibu Da Mo namun pada Andrew, Ayah Da Mo sering melakukannya dan bahkan menyanjungnya. Sa Ran meminta Ayah mertuanya untuk memikirkannya lagi, akan jauh lebih baik jika Ayah mertuanya mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk istrinya nanti.

Saat akan tertidur, Hyo Ri mengatakan semua yang diihatnya tadi pagi pada Kang San, suaminya. Son Ja dan Gong Joo tidur terpisah dan terasa sangat aneh… mereka terlihat mesra di depan umum namun ketika hanya berdua, mereka bersikap seperti seorang kakak dan adik dan bukannya seperti suami-istri.
Bong Yi membujuk Dan Se agar ikut ke tempat karaoke bersama dengannya dan juga Eun Ja… Dan Se awalnya menolak dengan alasan mengantuk namun karena Bong Yi terus membujuknya, Dan Se akhirnya luluh. Ketika berada di tempat karaoke, Bong Yi memutuskan untuk tampil menyanyi pertama sementara itu, Dan Se hanya terdiam di kursinya dan disampingnya, Eun Ja sudah seperti cacing kepanasan. “apakah ini saat yang tepat untuk mempraktekkannya?” batin Eun Ja. Namun sesuatu hal yang tak terduga justru terjadi, Dan Se tiba-tiba berdiri dari kursinya dan menari dengan begitu lincahnya. Eun Ja terperangah dan tak menyangka jika sosok lelaki pujaannya bisa tampil begitu mempesona. Niatan awal dirinya yang akan menari justru yang terjadi sebaliknya. Dan Se terlihat sangat macho dan seksi, wkwkwkwk….
Ayah Da Mo memikirkan ucapan Sa Ran… Ayah Da Mo bahkan membayangkan bagaimana sosok istrinya ketika pulang dari India setelah melakukan meditasi selama bertahun-tahun.
Ketika pulang ke rumah, Da Mo mendapati Sa Ran berbaring di tempat tidur. Da Mo menghampiri Sa Ran dan bertanya apa Sa Ran sudah tertidur? Sa Ran perlahan membuka mata dan mengatakan jika kondisinya sedang dalam keadaan tidak baik, seluruh tubuhnya terasa sakit. Da Mo sontak khawatir dan menyuruh Sa Ran untuk beristirahat.
Da Mo memutuskan memasak bubur untuk dimakan Sa Ran. Tak lupa Da Mo menambahkan Kimchi sebagai pelengkap, namun Sa Ran segera meminta Da Mo untuk menyingkirkannya karena Sa Ran tidak menyukai baunya.

Hyo Ri mengunjungi Ibu mertuanya ditemani Kang San. Hyo Ri bertanya dimana Ra Ra dan dijawab Ibu mertuanya jika Ra Ra sedang keluar bersama dengan Kyle. Ibu mertua Hyo Ri menasehati Hyo Ri jika sangat susah untuk memisahkan Ra Ra dan Kyle, terlebih Ra Ra sangat menyukai Kyle dan Hyo Ri pastinya sangat mengetahui sifat putrinya tersebut yang sangat keras kepala.
Hyo Ri mengalihkan pembicaraan dan bertanya apa Kakak dan Kakak iparnya sudah memiliki tanda-tanda akan mempunyai seorang anak dan sekali lagi dijawab Ibu mertuanya tidak. Nenek Ra Ra akhirnya memberitahukan rahasia yang selama ini hanya diketahuinya bersama suaminya, Eo San dan juga Soon Duk jika Soon Duk telah memiliki seorang anak dan anak tersebut adalah bayi yang ditinggalkan 25th silam di depan rumah mereka.

Sa Ran terbangun dan membuat Da Mo yang tidur disampingnya ikut terbangun. Sa Ran berucap jika hari ini ulang tahun Ibunya dan Ayahnya harus diingatkan. Da Mo meminta Sa Ran untuk tidur kembali, dirinyalah yang akan melakukannya.
Da Mo bergegas ke kamar Ayahnya dan yang didapatinya hanyalah Andrew dan juga piyama Ayahnya yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. “dimana Ayahmu?” tanya Da Mo pada Andrew namun Andrew tentu saja hanya terdiam…. Saat menelepon Ibunya, Ibu Da Mo mengatakan jika Ayahnya sedang berada disini dan memasak. Da Mo tertawa mendengarnya dan meminta kepada Ibunya untuk mengatakan enak walaupun rasanya tak sesuai seperti harapan. Yeeeee, akhirnya… Sa Ran daebak.
Koki Ah Soo Ra

Son Ja terbangun dari tidurnya… mimpi buruk yang baru saja dialaminya terasa begitu nyata. Saat sedang berdansa dengan Gong Joo, seorang pria tiba-tiba datang dan menggantikan posisinya. Son Ja sama sekali tak bisa berkutit ataupun bergeming karena 2 orang pria lainnya memeganginya dengan begitu erat.
Ibu Da Mo telah selesai berdandan saat ketukan pelan terdengar di pintu… Ayah Da Mo masuk dan memintanya untuk segera keluar. Sup rumput laut dan juga nasi kari telah terhidang di atas meja. Ibu Da Mo tersenyum bahagia dan mencicipinya, eemmmmm, sangat nikmat. Ternyata suaminya diam-diam memiliki keahlian tersembunyi, jago memasak… Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara saja. Selera makan Ibu Da Mo tiba-tiba hilang ketika melihat ekpresi suaminya yang sepertinya tak ikhlas dalam mempersiapkan semua kejutan. Ekpresinya tak sama saat pulang dari bermain golf atau sedang bersama dengan Andrew…. Ibu Da Mo memutuskan tak melanjutkan makannya dan kembali masuk ke dalam kamar. Ayah Da Mo tentu saja kesal, setelah semua yang dilakukannya, istrinya sama sekali tak menghargai kerja kerasnya.
Ayah Da Mo memilih pulang dengan kemarahan yang dibawanya hingga ke rumah. Dia tak akan perduli bahkan jika istrinya pergi ke India atau tinggal disana selama bertahun-tahun. Sa Ran yang masih dalam kondisi lemah berusaha menasehati Ayah mertuanya jika dirinya juga akan melakukan hal yang sama. Seseorang akan makan dengan sangat nikmat jika orang yang memasakkkan makanan tersebut menampilkan wajah yang bahagia. Ayah Da Mo sontak terdiam dan kembali memikirkan ucapan Sa Ran.
Son Ja dan Gong Joo sedang berada di sebuah kolam renang. Saat selesai berganti pakaian renang dan bergerak menuju kolam renang, Son Ja terlihat kesal ketika mendapati seorang pria mendekati Gong Joo dan mengajaknya berbicara … Son Ja sontak berteriak dengan kerasnya “Yeobo” dan berhasil membuat beberapa pasang mata tertuju padanya. Gong Joo yang mendengar teriakan Son Ja, hanya bisa menertawai kekonyolan dan rasa cemburu yang ditunjukkan Son Ja, suaminya.
Ayah Da Mo kembali ke apartemen Sa Ran-Da Mo. Disaat bersamaan istrinya baru saja akan berangkat menuju ke India… Ayah Da Mo meminta istrinya untuk membatalkan niatnya tersebut, dia akan melakukan semua yang diinginkan istrinya termasuk permintaan konyol istrinya yaitu tinggal selama seminggu di apartemen Sa Ran-Da Mo layaknya pasangan pengantin baru.
Kondisi Sa Ran tak kunjung membaik… demamnya semakin tinggi dan Da Mo semakin khawatir dibuatnya. Sa Ran tiba-tiba berucap jika dirinya ingin makan es krim tapi tak ingin jika Da Mo yang pergi membelinya.
“kamu ingin aku tinggal didekatmu kan sayang?” tanya Da Mo dan Sa Ran tersenyum “seandainya saja aku yang sakit” tambah Da Mo…
Kembali ke Ayah dan Ibu Da Mo
Sebuah kue ulang tahun telah dipersiapkan Ayah Da Mo untuk merayakan ulang tahun istrinya… tak hanya itu, sebuah topi kerucut juga tak lupa dibelinya sebagai pelengkap meriahnya acara. Ibu Da Mo kemudian meminta suaminya menyanyikan lagu ulang tahun untuknya, sama seperti yang dilakukannya saat ulang tahun Andrew… Ayah Da Mo setuju, tak ada penolakan yang terlontar dari bibirnya. Lantunan lagu selamat ulang tahun terdengar di seisi kamar…. Ibu Da Mo berusaha menahan tawanya dan ikut bertepuk tangan bersama suaminya. Akhirnya setelah sekian lama… hari ini datang juga.
Hyo Ri membicarakan masalah anak Eo San dan Soon Duk bersama suaminya, Kang San… apakah anak iparnya sama cantiknya dengan Ra Ra? Jika dia dibawa oleh pengurus rumah tangga, pasti hidupnya dalam kesulitan sekarang. Bagaimana jika dia sudah menikah? Apakah dia menikah dengan pria baik ataukah dengan seorang pria yang hanya membuatnya semakin menderita? Bagaimana jika wanita yang membesarkannya meminta ganti rugi, tentu jumlahnya tak sedikit? Akan jauh lebih baik jika anak itu tak ditemukan… Kang San yang sedaritadi memilih diam, sontak bereaksi… Hyo Ri tak boleh berbicara sembarangan terlebih jika hal ini sampai didengar Ibunya aka Nenek Ra Ra. Dia pasti akan marah besar dan kecewa ketika mendengarnya.
Tiba waktunya tidur. Ibu Da Mo memberikan baju ganti berupa piyama kepada suaminya dan satu untuk dikenakan dirinya juga. Piyama dengan motif yang sama dan merupakan hadiah dari putra mereka, Da Mo. Ayah Da Mo tak banyak berbicara dan memakainya. Tapi ketika istrinya meminta lengan untuk bersandar, Ayah Da Mo memutuskan berbicara “apa kita benar-benar harus melakukan ini selama seminggu penuh disini?” dan dijawab Ibu Da Mo senang “hanya 2 hari kalau begitu”.

Andrew, Ayah akan berada didekatmu lagi setelah 2 hari… jadi tunggu Ayah

Lain Ayah Da Mo, lain juga pasangan pengantin baru kita, Son Ja-Gong Joo. Jika Ayah Da Mo merasakan beban dan derita ketika istrinya meminta lengannya, Son Ja justru dengan sukarela menawarkan lengannya untuk ditiduri Gong Joo. Son Ja mencuri-curi kesempatan dengan naik ke atas tempat tidur dan kemudian menyelipkan lengannya dibalik leher Gong Joo, sayang Gong Joo dengan mudahnya tersadar dan melemparkan sebuah tatapan maut kepada Son Ja seolah perintah agar Son Ja segera turun.
Keesokan harinya
Sa Ran menelepon Ibu Da Mo dan menanyakan bagaimana perkembangan hubungan ibu mertuanya dengan Ayah mertuanya? Ibu Da Mo tersenyum dan menjawab jika semuanya terasa sangat menyenangkan.
Kondisi kesehatan Sa Ran sudah membaik. Sa Ran bahkan berjanji untuk bertemu dengan Soon Duk. Soon Duk bertanya apa sudah ada kabar baik dari Sa Ran(kehamilan)? Sa Ran menjawab tidak. Soon Duk pun menceritakan perihal mimpinya beberapa malam yang lalu, dimana dirinya dan Sa Ran sedang berada di sebuah kebun yang ditumbuhi banyak pohon jeruk… Soon Duk menambahkan jika arti dari mimpinya tersebut adalah Sa Ran sedang hamil. Sa Ran terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin? Apa itu bukan arti dari mimpi Soon Duk sendiri? Soon Duk menjawab tidak dan meminta Sa Ran untuk mengeceknya dengan tespeck.
Di perjalanan pulang
Soon Duk kembali memikirkan putrinya yang tak kunjung ditemukan

Ini sudah memasuki musim gugur, kapan kita bisa bertemu nak?

Ra Ra mengajak Kyle menemui Ibunya, Hyo Ri… Kyle berusaha mengakrabkan diri dengan Hyo Ri, sayang Hyo Ri sepertinya belum bisa menerima dirinya sebagai calon menantunya. Begitu Kyle pulang, Ra Ra segera memprotes sikap Ibunya. Kenapa ibunya bersikap sangat dingin pada Kyle sedangkan saat Michelle datang ke rumahnya dulu, Ibunya terlihat sangat antusias dan berusaha menerima Michelle dengan tangan terbuka.
Sa Ran tiba di rumah. Hpnya berbunyi… ayah mertuanya menelepon menanyakan kondisi kesehatan Sa Ran dan pastinya Andrew. Seusai menerima telepon dari Ayah mertuanya, Sa Ran bergegas ke kamar mandi dan melakukan tes. Tespeck menunjukkan 2 garis dan hasilnya Sa Ran positif hamil.
Terima kasih, terima kasih Tuhan

Sa Ran segera menelepon Soon Duk untuk mengabarkan berita menggembirakan tersebut… Sa Ran mengucapkan terima kasih, jika bukan karena Soon Duk, dirinya tak akan mengetahui tentang kehamilannya saat ini. Soon Duk ikut senang mendengarnya dan memberi saran nasehat agar Sa Ran jangan terlalu banyak bergerak, usia awal kehamilan sangat rentan dan beresiko.
Da Mo membawakan bunga untuk Ayahnya… bunga tersebut harus diberikan Ayahnya pada Ibunya. Ayah Da Mo tentu saja menolaknya namun Da Mo mengatakan jika Ayahnya harus sesekali memberikannya sebagai tanda cinta dan juga untuk mengekspresikan isi hatinya. Sepeninggal Da Mo, sosok Nenek tak kasat mata kembali muncul dan masuk ke dalam tubuh Ayah Da Mo. Senyum seketika mengembang di wajah Ayah Da Mo dan semakin merekah begitu melihat bunga di atas meja…. Terlihat jelas jika Nenek yang merasuki tubuh Ayah Da Mo sangat menyukai bunga.

Ayah Da Mo melangkah masuk ke dalam apartemen dengan wajah sumringah dan bahagia… sebuah bunga berada dalam genggamannya. Saat berjalan menuju ruang tamu, Ayah Da Mo tanpa sengaja terpeleset dan sosok Nenek tak kasat mata yang merasukinya sontak keluar. Rasa sakit akibat terjatuh membuat Ayah Da Mo mengeluh, istrinya yang berada dalam kamar seketika keluar dan terkejut melihat kondisi suaminya. Ibu Da Mo bertanya apa suaminya ingin ke rumah sakit dan dijawab Ayah Da Mo tidak perlu dan mengambil bunga yang tergeletak tak jauh darinya dan memberikannya pada istrinya. Ibu Da Mo tak percaya dengan apa yang dilihatnya… suaminya memberikannya bunga. Senyum dan rasa bahagia terpancar dari wajah Ibu Da Mo. Ibu Da Mo memeluk mesra suaminya dan mendaratkan sebuah kecupan di pipinya “aku menyukainya, aku benar-benar menyukainya” ucap Ibu Da Mo namun Ayah Da Mo hanya terdiam dan memasang wajah biasa saja.
Tak hanya Ibu Da Mo, Sa Ran pun berbahagia ketika menerima hadiah bunga dari Da Mo, suaminya yang baru saja pulang bekerja. Dan tak ingin menjadi egois, menikmati kebahagiaan yang datang terus menerus seorang diri, Sa Ran memutuskan mengatakan berita kehamilannya pada Da Mo. Da Mo tentu saja berbahagia dan ingin buru-buru mengatakan hal tersebut pada ke dua orang tuanya namun Sa Ran melarangnya.. lebih baik mereka memberitahukannya setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit nanti.
“apa yang harus aku lakukan untukmu?” tanya Da Mo
“biarkan aku menjadi tenang ketika marah… jika aku merasa kesal, hanya menerimanya saja dan jangan memasukkannya ke hati. Mereka mengatakan, wanita di awal kehamilannya menjadi mudah sensitif dan tersinggung” jawab Sa Ran
“kalau aku tidak masalah tapi demi anak kita cobalah untuk tidak melakukannya. Selanjutnya untuk 2-3 bulan ke depan, kondisimu harus stabil bahkan jika perlu makan disini” ucap Da Mo
“tapi, Kepala Dapur, dia sudah tua dan tak pernah memiliki anak, bagaimana dia sangat mengerti hal ini? Dia juga tahu tentang mimpi itu dan gejala kehamilanku?” tanya Sa Ran
“mungkin dia belajar dari teman-temannya” jawab Da Mo
Sementara itu
Kondisi Buyonggak semakin parah sejak masuknya Joo Hee… Joo Hee mulai menerapkan aturan seenaknya sendiri dan tak memikirkan konsekuensi atas keputusan yang diambilnya. Dimulai dari dirubahnya tatanan rambut para Gisaeng hingga keinginannya yang ingin diakui sebagai Pemilik sah Buyonggak. Untuk 2 hal tersebut, Hwa Ran masih bisa menerimanya dan mentolerirnya tapi keputusan Joo Hee yang menginginkan agar Buyonggak mulai menerima tamu dari kalangan menengah dan tidak adanya pembatasan pemesanan minuman soju membuat Buyonggak yang dulunya memiliki citra positif perlahan mulai mengalami penurunan. Tak hanya itu, beberapa properti dirusak oleh pengunjung yang berada di bawah pengaruh minuman dan jika biasanya para Gisaeng hanya diperkenankan menuang minuman dan menari, sekarang beberapa tamu ada yang mulai bertindak tak sopan.
Keesokan harinya
Hwa Ran mengambil keputusan untuk berhenti dari Buyonggak… Do Hwa sontak saja terkejut mendengarnya. Hwa Ran memiliki alasan tersendiri, dirinya sudah merasa tak nyaman dengan kondisi Buyonggak dan baginya, Joo Hee sudah mampu mengoperasikan Buyonggak tanpa bantuannya.
“aku akan berhenti juga, dimana Ibu berada disitulah juga tempatku berada” ucap Do Hwa sedih
“hanya tinggal disini, kamu masih muda untuk tidak bekerja” ucap Hwa Ran menasehati
“aku sudah memperoleh cukup uang dan bisa membuka sebuah restoran. Sebuah Buyonggak tanpa Ibu, tidak berarti bagiku” ucap Do Hwa dengan mata berkaca-kaca
Joo Hee yang mendengarnya langsung dari bibir Hwa Ran tentu saja senang, salah satu penghalang terbesarnya akhirnya memiliih mundur. Joo Hee juga sudah tak tahan dengan aturan kolot yang diterapkan di Buyonggak dan masih dijaga Hwa Ran hingga saat ini. Namun ketika mendengar jika Do Hwa akan mengundurkan diri juga, Joo Hee tertawa kecut. Kenapa semua orang memilih mengundurkan diri sekarang? Joo Hee tak tinggal diam dan menawarkan akan menaikkan gaji Do Hwa hingga 3000$, sayang Do Hwa menolaknya dengan halus.
“satu yang aku pesan, aku tidak ingin mendengar Buyonggak menjadi rumah penghibur” pesan Do Hwa.
Ibu Da Mo akhirnya kembali ke rumah… Sa Ran sangat senang melihat Ibu mertuanya lagi. Ibu Da Mo juga merasakan hal yang sama dan menceritakan kejadian romantis yang dialaminya kemarin. Ayah Da Mo memberikannya bunga seperti di drama-drama korea. Jika saja dirinya tahu akan seperti ini kejadiannya, sudah lama dirinya melakukan pemberontakan, hehehe.
Da Mo mulai protektif terhadap Sa Ran… saat Sa Ran membawa baki yang diatasnya berisikan buah, Da Mo segera mengambilnya dan mengantarkannya kepada Ayah dan Ibunya.
Eun Ja, Dan Se dan Bong Yi berkumpul bersama membicarakan masalah keluarnya Hwa Ran dan Do Hwa… Eun Ja merasa ingin mengikuti jejak mereka juga namun Dan Se berucap tidak ada tempat untuk mereka pergi. Satu-satunya tempat yang bisa mereka naungi sekarang adalah Buyonggak

Hwa Ran dan Do Hwa untuk saat ini menetap di apartemen Soon Duk…
Ayah Da Mo bersiap-siap berangkat ke kantor… parfum dengan aroma menyengat disemprotkan ke seluruh tubuhnya dan tak ayal membuat Sa Ran yang berniat mengantar Da Mo hingga ke depan pintu menjadi mual dan merasa ingin muntah.


BERSAMBUNG


Jongmal Mianhae baru sempat posting...

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015