[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 42

EPISODE 42
Sa Ran-ah, Uljima…



Ra Ra terkejut mendengarkan ucapan Kyle… Jatuh cinta? Bagaimana mungkin? Mereka baru beberapa kali bertemu? Kyle seketika tertawa dan berucap jika dirinya hanya bercanda. Alasannya masuk ke Buyonggak karena Bong Yi ingin belajar bahasa inggris tetapi sayangnya tidak bisa bergabung dengan wanita lainnya. Kyle balik bertanya kenapa Ra Ra masuk ke Buyonggak?
“ada banyak peristiwa yang mendasarinya, ada seseorang yang aku benar-benar mencintainya. Aku berhenti kuliah dan mencari pekerjaan untuk membantunya. Tetapi begitu dia mendapat pekerjaan, dia malah meninggalkanku dan berkencan dengan wanita lain” jwab Ra Ra
“syukurlah karena kamu sudah berpisah dengannya” ucap Kyle turut sedih
“aku hanya bercanda” ucap Ra Ra tiba-tiba tertawa “aku ingin menjadi seperti Presiden Oh Hwa Ran” tambahnya dan membuat Kyle ikut tertawa… Ra Ra mengerjai Kyle balik.
Malam harinya
Saat Ra Ra akan menuju ke ruangan para tamu untuk melaksanakan tugasnya sebagai Gisaeng penari, Kyle tanpa sengaja melihat Ra Ra. Ra Ra melemparkan sebuah senyum dan berhasil membuat Kyle terdiam…. Ra Ra mampu membuat seorang Kyle jatuh dalam pesonanya dan ucapan Kyle tadi siang tadi sepertinya adalah ungkapan tulus dari dalam hatinya.

Son Ja mengunjungi Gong Joo. Tak hanya kunjungan biasa, Son Ja memasakkan makanan untuk Gong Joo karena Gong Joo, Noonanya sama sekali tidak bisa memasak. Terlebih ke dua orang tuanya belum kembali dari rumah sakit.

Seusai makan, Son Ja tiba-tiba berucap jika mereka cocok antara satu sama lainnya.
“Kamu memulainya lagi” ucap Gong Joo merasa bosan dengan bahasan Son Ja akhir-akhir ini yang tidak masuk akal dan menurutnya ngawur
“Noona , kamu tidak mungkin tinggal sendiri selamanya kan? Keluargamu tidak akan membiarkannya dan sosok suami yang cocok untukmu adalah aku” jawab Son Ja
“ucapanmu bahkan tidak bisa membuatku tertawa” ucap Gong Joo
“kakak iparmu mengatakan ingin mencarikan calon suami yang baik untukmu, apa Noona mengharapkannya?” tanya Son Ja
“apakah aku seorang gadis matrealistis, aku juga tidak menyukai pria yang hidup seperti pangeran” jawab Gong Joo
“itulah seperti yang aku katakan, keterampilan berumah tangga Noona adalah nol… jadi mari kita lihat secara obyektif. Noona tidak tertarik untuk menikah tapi keluarga Noona tidak akan membiarkan Noona hidup melajang seumur hidup dan pastinya mau tak mau, Noona harus menikah. Bisakah Noona seperti itu? Tidak mungkin kan? Itulah sebabnya aku mengatakan, akulah satu-satunya yang pas untuk menjadi suami Noona” jelas Son Ja
“apakah kamu merasakan sesuatu yang berbeda denganku dan pada orang lain?” tanya Gong Joo balik
“pada titik tertentu, iya. Seperti Noona, aku juga tidak menyadarinya. Ketika kita berpisah, aku terus memikirkan Noona dan dihantui oleh bayangan Noona. Aku merindukannya”
“itu karena kita telah bersama selama 10th . kamu merindukan teman-teman kita yang lain ketika tidak melihat mereka juga” ucap Gong Joo. Son Ja tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mendekati Gong Joo
“Apa yang kamu lakukan ?” tanya Gong Joo ketika Son Ja memegang tangannya
“Noona tidak menyukainya kan? Mereka mengatakan seseorang tidak bisa hidup dengan pria yang tidak disukainya saat menyentuh atau memegang tanganmu”
“tidak ada sesuatu hal yang baik tentang itu, aku tidak merasakan apa-apa”
“aku menyukainya dan aku merasakan percikan api kadang-kadang juga”
“pekerjaan bagus, kamu tidak normal ” ucap Gong Joo
“aku tidak kekurangan dalam segi materi, aku memiliki sebuah rumah dan 2 toko. meskipun aku tidak memiliki Ibu tapi aku memiliki Ayah. Aku melakukan semua pekerjaan dengan baik. Noona, mari kita bertunangan” ucap Son Ja akhirnya dan berhasil membuat Gong Joo terdiam sesaat
“apakah kamu terlibat sesuatu yang mengharuskanmu mengatakannya? Jika Ibuku tahu dia akan marah” ucap Gong Joo
“hanya memikirkan hatimu saja, kamu merasa nyaman denganku kan?” tanya Son Ja berusaha meyakinkan Gong Joo
“karena kamu seperti adikku” bela Gong Joo
“Sejujurnya , Noona merasakan kekosongan setelah aku pindah kan? Aku tahu, Noona belum merasakan hal yang sama denganku. Tapi jika Noona berpikir tentang hal ini, Noona akan merasa bahwa kita cocok satu sama lain”
“aku tidak akan menjawab panggilanmu lagi. Jadi , jika kamu perlu untuk berkomunikasi , hubungi ibuku” jawab Gong Joo. Son Ja akhirnya memutuskan berdiri dan bersiap-siap pulang
“Aku memanggilmu Noona tapi kamu tampak seperti orang yang sama setelah 10th . aku tahu, Dan Gong Joo tidak bisa hidup sendiri. Mengapa? Karena dia takut dengan hujan dan suara petir. Jika Noona hidup sendiri, mungkin akan berakhir dengan serangan jantung. Kita sudah tumbuh cukup melekat selama bertahun-tahun dan telah membuat banyak kenangan indah bersama-sama . Apakah Noona tidak ingin menguji sekali? Jika Noona merasa aku seorang pria…. “ Son Ja maju mendekati Gong Joo
“apa yang kamu lakukan?” tanya Gong Joo
“Mari kita berpelukan sekali” jawab Son Ja
“kamu benar-benar gila” ucap Gong Joo menolak
“Yang pasti, kita ditakdirkan untuk berjodoh dan aku yakin itu. Jangan lupa untuk menutup pintu”
“Tunggu...aku membuat ini untuk hadiah ulang tahunmu tapi aku akan memberikannya sekarang karena kita tidak akan bertemu lagi” ucap Gong Joo dan memberikan Son Ja sebuah tas yang didalamnya entah berisi benda apa. Selepas kepergian Son Ja, Gong Joo terlihat berpikir. Bagaimana bisa, seseorang yang sudah dianggapnya adik dan telah hidup bersama dengannya selama 10th bisa mengatakan hal seperti itu? Mengajak bertunangan? Maldo Andwae…

Ibu Da Mo menanyakan pesanan es krimnya ketika suaminya pulang…Ayah Da Mo mengatakan jika dia tidak membelinya. Dugaan Sa Ran memang tepat, suaminya akan mengabaikan permintaannya kali ini tapi bukan berarti permintaan berikutnya tidak ada lagi dan berhenti sampai disini saja.
Ayah Da Mo mulai terbiasa dengan kehadiran Sa Ran dan juga kebiasaannya yang menyiapkan jus sayuran untuknya. Tetapi sikap mesra Sa Ran dan Da Mo membuatnya merasa jengkel. Da Mo dan Sa Ran saling menyuapi es krim di hadapannya… tindakan mereka sangat kekanakan dan seolah ingin sengaja menunjukkannya di depan umum. 
Son Ja terlihat senang ketika melihat hadiah pemberian Gong Joo, sebuah bantal duduk. Terlihat sangat manis dan sangat cocok untuknya. Son Ja segera mencobanya dengan menaruhnya sebagai sandaran kursi…dan hasilnya sangat nyaman digunakan.
Sa Ran kembali mengajarkan Ibu mertuanya sebuah trik. Kali ini adalah membuat Ayah mertua menjadi cemburu… hal yang harus dilakukan Ibu mertuanya adalah memuji actor kesukannya di hadapan sang suami.
Ibu Da Mo segera mempraktekkan hal yang diajarkan Sa Ran padanya. Saat masuk ke dalam kamar, Ibu Da Mo segera menyalakan televisi dan berucap riang kegirangan ketika melihat actor idolanya “Jang Hyuk”. Ayah Da Mo merasa kesal melihat dan mendengarnya dan meminta kepada istrinya untuk mematikan tv atau menonton di luar saja. Ibu Da Mo menuruti ucapan ke dua suaminya, menonton di tv di luar. Hal tersebut membuat sang suami heran karena tidak biasanya istrinya mengabaikan perintahnya. Lagipula dirinya jauh lebih tampan dibandingkan actor bernama Jang Hyuk….
Sebuah hal yang tidak disadari seisi rumah terjadi…
Sosok seorang Nenek berwujud makhluk tak terlihat/kasat mata terlihat mengamati perilaku mereka termasuk ketika Ibu Da Mo menonton sendirian di ruang tamu ataupun ketika Sa Ran dan Da Mo saling bercengkrama mesra di kamar mereka berdua…
Gong Joo sama sekali tidak bisa berpikir tenang… buket bunga yang didapatkannya ketika hari pernikahan kakaknya terus dipandanginya. Ucapan Son Ja beberapa jam yang lalu kembali diingatnya dan sms ucapan terima kasih Son Ja atas pemberian bantal semakin membuat Gong Joo bingung dengan apa yang harus dilakukannya? Haruskah Gong Joo menyetujui ajakan Son Ja???

Ayah Da Mo kembali membicarakan actor idola istrinya, apa yang dimiliki pria tersebut yang tidak dimilikinya… Ibu Da Mo menjawab jika Jang Hyuk adalah pria yang tampan dan tak memiliki lemak sama sekali. Mendengarnya Ayah Da Mo menjadi kesal dan mengatakan sesuatu hal yang akhirnya menyinggung hati sang istri.
Ibu Da Mo bangun dari tidurnya dan bergegas menuju lantai 2, kamar Sa Ran-Da Mo untuk melaporkan apa yang diucapkan suaminya. Ayah Da Mo tak tinggal diam dan berlarian menyusul. Tepat sebelum istrinya mengetuk pintu kamar Sa Ran-Da Mo, Ayah Da Mo berhasil menghentikannya dan membekap mulut sang istri dan menariknya kembali ke kamar. Ayah Da Mo mengancam jika Ibu Da Mo sekali lagi berbuat hal kekanakan seperti itu, dirinya tidak akan segan-segan mengusir Sa Ran-Da Mo. Lagipula perubahan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini pastinya mendapat dukungan dari anak-anak mereka.

Kyle berdiri di depan pintu tempat dimana Ra Ra menghibur para tamu… ketika Ra Ra keluar dalam keadaan sempoyongan, Kyle segera berdiri dan membantu Ra Ra, membawanya ke bangku favorit Sa Ran-Da Mo dan sekarang menjadi tempat favorit Ra Ra. Ra Ra mulai berucap jika semua Gisaeng mengacuhkannya dan seolah-olah menganggapnya tidak ada. Apa dirinya tidak cantik sehingga tidak ada seorang pun yang menyukainya bahkan tidak ada seorang pria pun yang mencintainya? Kyle menjawab itu tidak benar…. Para pria mungkin menyangka jika Ra Ra sudah memiliki kekasih sehingga tidak ada seorang pria pun yang berani mendekati Ra Ra.
Kyle meminta Ra Ra untuk menunggu, dirinya akan ke dapur dan membuatkan Ra Ra teh madu… sayang, saat Kyle kembali, Ra Ra sudah tidak berada di tempat…

Keesokan harinya
Sa Ran kembali menyiapkan sarapan untuk suami, Ayah dan ibu mertuanya dan menjelaskan manfaat dari masing-masing makanan yang dihidangkannya. Ayah Da Mo merasa heran karena Sa Ran tidak menyiapkan makanan kesehatan untuknya dan akhirnya memilih mengambil jatah istrinya yaitu kenari salah satu makanan yang tidak disukainya namun dipilih untuk dimakan… Sa Ran, Da Mo serta Ibu Da Mo berusaha menahan tawa melihatnya, wkwkwkwk.
Soon Duk menemui Ibu mertuanya…. Soon Duk menceritakan hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini dimana dirinya seringkali memikirkan Sa Ran. Mungkinkah Sa Ran adalah anaknya yang hilang? Namun Ibu Mertua Soon Duk mengatakan itu tidak mungkin dan menceritakan hal yang dilakukannya bersama sang suami sebelum suaminya meninggal termasuk mengunjungi rumah Sa Ran dan bertemu dengan Ibunya.

Kyle kembali bertemu Ra Ra dan memutuskan untuk mengikuti Ra Ra yang akan pergi membeli bubur untuk sarapan paginya…. Kyle mengatakan jika Ra Ra meminta kepada orang dapur, mereka akan membuatkannya namun Ra Ra menjawab jika orang dapur sama seperti Gisaeng lainnya, mereka mengabaikannya dan menganggapnya tidak ada.
Sebuah ide brilliant tiba-tiba muncul di benak Ra Ra… bagaimana jika Kyle menjadi asisten, manager sekaligus bodyguardnya? Dengan menjadikan Kyle sebagai Bodyguard, Ra Ra tidak akan merasa kesepian lagi dan tak perlu memperdulikan perilaku para Gisaeng dan karyawan dapur terhadap dirinya… Kyle mengangguk setuju, dirinya bahkan rela tidak dibayar dan akan melakukannya dengan senang hati.

Ide Ra Ra dan keputusan Kyle membuat Gisaeng lainnya dan Eun Ja menjadi terkejut dan khawatir…. Begitupun dengan Hwa Ran dan Do Hwa. Bagaimana mereka bisa membuat Ra Ra keluar dari Buyonggak jika Ra Ra mendapatkan satu dukungan di sisinya? Mengatakan kebenaran kepada Kyle, mungkinkah Kyle tidak akan mengatakannya kepada Ra Ra? Eottoke?
Son Ja dan Gong Joo kembali bertemu… Son Ja mengajak Gong Joo makan siang bersama.
Gong Joo bertanya bagaimana bisa Son Ja memiliki pemikiran untuk menikah di umur semuda ini?apa yang akan dikatakan keluarga Son Ja nanti, mereka pasti akan kecewa… Son Ja menjawab, jika dirinya tidak mengambil keputusan menikah di usia muda, dirinya bisa saja kehilangan Gong Joo. Lagipula Ayahnya juga menikah di usia muda dan Hyo Ri lebih tua 3th dibandingkan Ayahnya… sangat cocok dengan hal yang dialami mereka berdua sekarang. Gong Joo hanya bisa menghela nafas dan meminta Son Ja untuk tak membahasnya lagi.

Gong Joo terkejut ketika pulang dan mendapati Sa Ran, kakaknya sudah menunggunya sedaritadi… jika saja Gong Joo tahu kakaknya akan datang, Gong Joo akan pulang lebih awal.
Gong Joo terlihat lahap menyantap makanan yang dibawa Sa Ran… Sa Ran memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya apakah Gong Joo mau jika dikenalkan dengan seseorang? Salah satu teman Da Mo tanpa sengaja melihat Gong Joo di pesta pernikahan dan ingin mengajak Gong Joo berkenalan lebih dekat. Gong Joo menolaknya dan menjawab jika dirinya sama sekali tidak ingin menikah tetapi Ibu mereka pasti tidak menyetujuinya. Sa Ran menasehati adiknya, jika wanita harus menikah… meskipun mereka memiliki karir yang bagus tapi akan jauh lebih baik jika memiliki pendamping hidup. Son Ja salah satu tipe yang sempurna. Gong Joo terdiam mendengarnya dan menanyakan pendapat Sa Ran mengenai Son Ja.
“dia pria yang baik, bersih dan dapat dipercaya. Dia juga melengkapi kamu di atas segalanya dan kalian saling cocok satu sama lain. Dia cerdas dan juga tidak memiliki Ibu dan saudara yang akan membuat hidupmu sengsara. Aku berharap ada seseorang seperti Son Ja yang jauh lebih tua darimu” ucap Sa Ran

Ayah Da Mo pulang dan sebuah bungkusan kecil terlihat ditangannya. Ibu Da Mo mengikuti petunjuk Sa Ran untuk mengirimkan sms jika makanan Andrew habis dan benar saja, suaminya dengan cepat membelikannya dan tak menunda atau mengabaikannya… ya ampun, tepok jidat.
Ayah Da Mo sempat kesal karena Sa Ran sebagai menantu yang harusnya tinggal di rumah malah bepergian keluar. Sa Ran menjelaskan jika kemarin dirinya menengok adiknya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ayah Da Mo yang awalnya menolak meminum jus sayur buatan Sa Ran pada akhirnya tetap meminumnya.

Tak hanya itu, kali ini Ayah Da Mo lagi dan lagi mencicipi makanan yang disiapkan Sa Ran untuk Ibu mertua dan suaminya dan tidak disiapkan Sa Ran untuknya… Ayah Da Mo sepertinya masih merasa gengsi jika harus meminta kepada Sa Ran agar menyiapkan makanan yang sama.
Kyle mulai menjalankan tugasnya sebagai manajer Ra Ra. Dimulai dari menyiapkan teh madu untuk Ra Ra dan membopong Ra Ra kembali ke kamarnya… kesedihan terpancar dari wajah Kyle melihat Ra Ra bekerja sangat keras dan tak mengenal lelah.
Hyo Ri merasa sangat senang ketika mendengar Son Ja memanggilnya dengan sebutan Ibu dan bukan ibu tiri… Kang San juga ikut senang mendengarnya karena putra dan istrinya semakin dekat dan lebih mirip dengan Ibu dan anak kandung sekarang.

Sa Ran mendatangi rumahnya… Ayahnya memanggilnya karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakannya dengan Sa Ran.
“Apa Ayah memiliki sesuatu untuk dikatakan?” tanya Sa Ran
“ketika aku dirawat di rumah sakit, aku mulai berpikir ini dan itu. Saat aku mengalami kecelakaan mobil tepat di hari pernikahanmu aku berpikir mungkin ini adalah hukuman untukku” ucap Ayah Sa Ran
“hukuman apa?” tanya Sa Ran tertawa
“Sebenarnya, aku mengetahui rumah tempat dimana kamu ditinggalkan” jawab Ayahnya
“benarkah?” tanya Sa Ran terkejut “tapi kenapa Ayah mengatakan tidak mengetahuinya?”
“Aku hanya merasa bahwa jika mengatakannya, kamu akan meninggalkan kami dan hal tersebut membuatku gelisah. Aku tidak ingin mengambil resiko” jawab Ayah Sa Ran sedikit menyesal
“Mengapa aku akan pergi?” tanya Sa Ran bingung
“Rumah tempat ibumu bekerja... saat aku menjadi sopir ketua sebuah perusahaan. Mereka tinggal di lingkungan yang sama, hanya di gang yang berbeda. Aku pergi untuk mencari rumah tempat kamu ditinggalkan berharap aku mengingatnya. Mungkin karena itu lingkungan yang kaya, tidak ada yang berubah sama sekali” jawab Ayah Sa Ran “Mungkin akan ada gunanya pergi, aku merasa seperti aku harus membiarkan kamu mengetahuinya”
“Rumah itu masih sama? dimana itu?” tanya Sa Ran semakin penasaran

Sa Ran bergegas menuju alamat yang dimaksud Ayahnya… semangat dan kekhawatiran beserta rasa ingin tahu terlihat jelas di wajahnya.

Jika aku bertanya kepada mereka, aku mungkin bisa menemukan ke dua orang tuaku nanti.

Ketika taxi memasuki sebuah gang, Sa Ran merasa tak asing dengan lingkungan tersebut.

Bukankah ini sekitar rumah Ra Ra?

Dan ketika taxi tiba-tiba berhenti di depan rumah Ra Ra, Sa Ran semakin bingung… Sa Ran kembali melihat alamat pemberian Ayahnya dan mencocokkannya dengan nomor rumah Ra Ra. Hasilnya sama… Air mata seketika membasahi wajah Sa Ran. Sa Ran membayangkan dirinya yang dibuang 25th silam…waktu itu dirinya masih bayi dan tidak mengetahui apa-apa. Ditinggalkan dalam keadaan tak berdaya di depan rumah dalam keadaan kedinginan dan terus menangis. Mengapa ke dua orang tuanya sekejam itu? Apa mereka tidak memiliki hati nurani ataupun rasa iba walaupun sedikit saja?

Dua puluh lima tahun yang lalu, anda pasti meninggalkanku disini… tepat di rumah Ra Ra?

Sa Ran menuju ke Buyonggak untuk menemui Ra Ra… Sa Ran awalnya menanyakan bagaimana kondisi Ra Ra sebelum akhirnya bertanya tentang Ra Ra dan rumahnya.
“sudah berapa lama kamu tinggal di rumahmu?” tanya Sa Ran
“sejak aku lahir, mengapa?” tanya Ra Ra
“rumahmu terlihat sangat baik, aku hanya bertanya saja” jawab Sa Ran berbohong
“Kakek membangunnya ketika Ayahku masih kuliah” ucap Ra Ra
“berarti sudah lama… aku hanya iri ketika melihat teman-temanku tinggal di lantai 2 rumah mereka”
“kamu datang hanya untuk menanyakan ini?” tanya Ra Ra penasaran
“ya dan untuk melihatmu. Mobilmu akan dibawa sopir besok”

Sa Ran terduduk di taman memikirkan semuanya termasuk penjelasan Ra Ra tadi

Lalu, Kakek Ra Ra tidak ingin membesarkanku. Jika mereka memilih membesarkanku dan mengangkatku sebagai cucu, mungkin aku akan menjadi sepupu dengan Ra Ra dan aku tidak akan masuk ke Buyonggak…. Tidak, jika itu terjadi maka aku tidak akan pernah bertemu dengan Da Mo. Aku bekerja paruh waktu karena kondisi keuangan keluarga dan karena itu aku bertemu dengannya. Pikirkan hal yang baiknya Dan Sa Ran.
Do Hwa dan para Gisaeng kembali melancarkan aksinya. Kali ini Do Hwa mengembalikan Hp Ra Ra dan hal tersebut dilakukannya di depan para Gisaeng lainnya. Tak hanya itu, Do Hwa memarahi salah satu Gisaeng karena akhir-akhir ini terlalu lemah meminum soju. Para Gisaeng kembali berkomentar jika salah seorang dari mereka mendapat perlakuan khusus. Bukannya Hp dilarang dipakai di Buyonggak tetapi Ra Ra justru mendapat pengecualian.
Sa Ran kembali memikirkan masa kecilnya dimana saat Ibu kandungnya meninggalkannya di depan rumah Ra Ra dan membayangkan bagaimana Nenek Ra Ra justru meminta Ibu angkat Sa Ran untuk mengasuh dan membesarkan dirinya.

Bayi ditinggalkan di depan pintu rumah mereka. Merasa merasa menyesal karena tidak membesarkannya, itukah mengapa Kakek serta Nenek Ra Ra memperlakukanku begitu baik?

Sa Ran menghapus dengan cepat air mata yang menetes di pipinya ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka… Da Mo masuk dan tentu saja heran melihat istrinya menangis… Apa Ayah mertua mengatakan sesuatu lagi? Sa Ran menjawab tidak namun Da Mo tidak mempercayainya dan berniat menemui Ayahnya jika saja Sa Ran tidak segera menghentikannya.
“lalu katakan padaku, kenapa kamu menangis?” tanya Da Mo sedikit memaksa
“kalau kamu mendengarnya, kamu akan sedih” jawab Sa Ran.
Da Mo menarik tangan Sa Ran dan mengajaknya duduk. Pasti ada sesuatu hal yang tidak beres dengan istrinya. “apa itu?” tanya Da Mo lagi
Sa Ran terdiam sesaat dan akhirnya memilih mengatakan penyebab dirinya menangis… Da Mo sudah menjadi suaminya dan tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan semua masalah yang terjadi padanya terhadap Da Mo “hari ini aku menemui Ayahku dan dia mengatakan rumah tempat aku ditinggalkan”
“dia mengetahuinya?” tanya Da Mo terkejut. Sa Ran mengangguk “bukannya ketika kamu bertanya dia mengatakan tidak tahu?”
“Ayah memilih mengatakannya ketika menyadari jika dirinya dihukum karena tidak mengatakannya”
“di mana rumahnya kalau begitu?” tanya Da Mo lagi semakin penasaran
“ini benar-benar mengejutkan. Aku pergi ke alamat rumah yang diberikan Ayah dan ternyata itu adalah rumah Ra Ra” jawab Sa Ran dengan mata berkaca-kaca
“tidak mungkin, benarkah? Kamu yakin?”
“Ayah tidak tahu dimana Ra Ra tinggal dan aku pergi ke alamat yang diberikannya, ternyata rumah Ra Ra”
“kemudian secara kebetulan apa Direktur Geum ayahmu? “ tanya Da Mo untuk kesekian kalinya
“ini tidak mungkin, dia tidak memiliki anak jadi dia mengadopsi Ra Ra. Mengapa Direktur Geum memberikanku kepada Ibuku jika aku adalah anaknya? Jika Direktur Geum adalah Ayahku tentu saja aku akan memberitahunya”
“kamu tidak masuk dan menanyakannya?” tanya Da Mo
“apa aku harus memberitahu mereka jika aku bayi yang dibuang di depan pintu rumah mereka?”
“ada kemungkinan seseorang datang mencarimu setelah peristiwa itu. Mungkin mereka tidak mampu merawatmu jadi meninggalkanmu di depan rumah Ra Ra. Bagaimana kalau aku yang pergi bertanya tanpa memberitahu identitasmu”
“jangan memikirkannya lagi, aku merasa buruk denganmu sayang… “
“bagaimana kamu bisa mengatakan itu? Kamu tumbuh dengan begitu baik”
“aku berharap kita memiliki anak secepatnya dan bisa melupakan tentang masa laluku ketika membesarkan anak kita”
“apa kamu benar-benar tidak merasa memiliki ikatan dengan keluarga Ra Ra? Aku berpikir kita harus bertanya setidaknya sekali”
“aku tidak mau, terasa menyakitkan” jawab Sa Ran dengan linangan air mata.

Son Ja kembali memandangi foto Gong Joo yang sedang tertidur…. Gong Joo terlihat sangat lucu.
Sementara itu di Buyonggak,
Dan Se mengatakan kepada Bong Yi apakah Bong Yi tidak merasakan sesuatu ketika melihat Ra Ra dan Kyle? Bong Yi menjawab tidak… Dan Se berucap jika dirinya merasa Kyle dan Ra Ra akan menjadi sepasang kekasih bahkan suami istri. Mereka akhir-akhir ini sangat dekat dan menurut pepatah ‘Cinta bisa tumbuh karena sering bersama’.

Saat akan tertidur, Ibu Da Mo meminta kepada suaminya agar mengembalikan Da Mo ke perusahaan… Ayah Da Mo menolak dan menjawab, Sa Ran pasti akan senang jika Da Mo kembali ke perusahaan… Ibu Da Mo melakukan pembelaan, Sa Ran bukan wanita seperti yang dipikirkan suaminya, Sa Ran gadis yang baik dan dia menikah dengan Da Mo dilandaskan cinta dan bukan materi…
Ketika tengah malam tiba, Ayah Da Mo terbangun dan menuju ke kamar mandi. Tanpa disadarinya, tiba-tiba sosok Nenek yang sejak beberapa hari yang lalu mengamati keluarganya, seketika masuk ke dalam tubuhnya.


BERSAMBUNG.


Pengen cerita sedikit nih fams… aku pernah membaca di beberapa website, kesan para pecinta drama korea New Tales Of Gisaeng. Ada yang mengatakan setelah episode 40 ceritanya mulai sedikit ngawur dan melenceng terlebih ketika Ayah Da Mo dirasuki hantu dan ceritanya yang terfokus pada Ra Ra-Kyle serta Gong Joo-Son Ja…. Dan ada juga yang mengatakan jika walaupun ceritanya sedikit melenceng, mereka masih merasa sedikit terhibur ketika melihat kisah cinta Gong Joo-Son Ja.

Bagaimana menurut kalian? Kalau aku asyik-asyik aja, malah aku merasa ceritanya semakin manis dan berwarna. Scene dimana Ayah Da Mo dirasuki hantu memang agak tidak masuk akal tetapi aku justru merasa disitulah letak kelucuan dari drama ini menjelang episode-episode terakhir. Bawaannya pengen tertawa terus ngebayangin Ayah Da Mo yang dikenal dengan sosok yang tegas, keras berubah drastic menjadi sosok dengan kepribadian yang bermacam-macam. Sekilas mengingatkanku dengan Film Korea Hello Ghost.

Sampai jumpa di episode 43

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015