[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 40

EPISODE 40
Hari Pernikahan Kami



Ra Ra menemui Ibunya dan meminta untuk mewariskan Buyonggak kepada dirinya. Joo Hee tentu saja terkejut, bagaimana bisa Ra Ra berpikiran sedangkal ini? Ra Ra mengatakan jika ini adalah keputusan yang sudah diambilnya. Melihat bagaimana perbandingan antara Ibunya yang memilih menikah dan hidup sebagai wanita biasa dan Hwa Ran yang dikenal banyak orang membuat Ra Ra berpikir jika ini adalah jalan yang sudah ditakdirkan untuknya… Ra Ra akan berbicara dengan Hwa Ran nanti dan memintanya agar bisa diikutkan dengan pelatihan anak baru nanti. Joo Hee berusaha memperingatkan Ra Ra namun Ra Ra menjawab jika tidak ada yang bisa merubah keputusannya… Omg, Ra Ra ingin menjadi Gisaeng.

Sa Ran bertemu dengan Hwa Ran… mereka makan siang bersama. Sa Ran mengucapkan banyak terima kasih karena Hwa Ran sudah membantunya sampai sejauh ini termasuk membuatkan dapur yang sangat indah untuknya. Hwa Ran berucap jika yang dialami Sa Ran-Da Mo tak sebanding dengan apa yang dilakukannya.
Sa Ran memutuskan menjawab pertanyaan Hwa Ran yang selama ini selalu digantungnya. Alasan terbesar kenapa Sa Ran memutuskan menjadi Gisaeng di Buyonggak dan juga alasan penyebab kesedihannya selama ini.
“aku akan memberitahu Ibu alasanku sekarang. Ibuku bekerja di Buyonggak” ucap Sa Ran memulai pembicaraan
“di dapur?” tanya Hwa Ran sedikit terkejut “tidak mungkin Ji Hwa Ja?”
“benar, dia adalah Ji Hwa Ja. Dia adalah Ibu tiriku, ayahku menikah lagi”
“lalu bagaimana degan Ibu kandungmu?” tanya Hwa Ran lagi
“Dia meninggal beberapa tahun yang lalu”
“aku mengerti sekarang… tidak heran jika keluargamu dengan mudahnya setuju untuk pengangkatan rambutmu”
“sebenarnya, aku hanya mengatakan ini pada Ibu. Aku juga diberitahu jika Ibu yang merawatku selama ini bukanlah Ibu kandungku. Pada hari pertama kali aku datang menemui anda untuk menjadi seorang Gisaeng, itu adalah hari dimana aku mengetahui kebenarannya. Mereka mengatakan jika aku bayi yang dibuang dan akhirnya diadopsi. Ibuku bekerja di sebuah keluarga, suatu hari aku ditemukan di depan pintu rumah mereka. Sayang, keluarga itu tidak ingin merawatku dan akhirnya Ibuku membawaku pulang dan membesarkanku hingga seperti sekarang ini. Aku sangat marah dan sedih, hatiku sakit begitu banyak dan sulit untuk menjelaskannya” tambah Sa Ran dengan mata berkaca-kaca
“apakah kamu yakin dengan hal ini?” tanya Hwa Ran semakin terkejut
Sa Ran mengangguk “ya, aku menyusun semua potongan kehidupanku dan semuanya masuk akal”
“lalu, kamu harus membayar pendidikan adik tirimu juga?”
“dia adalah gadis yang baik dan cantik. Dia memperlakukanku seperti saudara kandungnya. Dia juga gadis yang menyedihkan” jawab Sa Ran kali ini dengan deraian air mata
“itu pasti sangat menyakitkan setelah meyakininya jika mereka adalah orang tua angkatmu”
“aku tidak ingin memikirkan masalah itu lagi mulai dari sekarang”
“apa Da Mo mengetahuinya?”
Sa Ran kembali mengangguk “ya, itulah mengapa Ayahnya semakin menentang hubungan kami. Itu tidak menjadi masalah bagiku tetapi karena Da Mo memiliki pendiriannya juga, tolong jangan katakan padanya jika Ibu sudah mengetahuinya. Ini akan membuat dia seperti menyukai seseorang yang memiliki banyak kekurangan”
“tentu saja aku tidak akan mengatakannya. Apakah ini sebabnya kamu berubah pikiran dan memutuskan ke Buyonggak?” tanya Hwa Ran
Sa Ran tersenyum dan menghapus air matanya “karena itu, akhirnya aku bisa bertemu Ibu”
“Aku sangat berterima kasih kepada Da Mo” ucap Hwa Ran
“ya, aku berencana untuk menjadi baik padanya” ucap Sa Ran

Sa Ran kembali ke rumahnya…. Saat bersama dengan Gong Joo di kamar, Hp Sa Ran berbunyi. Joo Hee mengabarkan jika Ra Ra ingin menjadi Gisaeng dan meminta tolong Sa Ran untuk membujuknya karena Ra Ra sama sekali tidak ingin mendengarkan ucapannya. 

Sa Ran mengikuti permintaan Joo Hee untuk menemui Ra Ra, meskipun hari pernikahannya sudah di depan mata dan mengharuskannya untuk tak melakukan terlalu banyak aktifitas. Saat bertemu dengan Ra Ra, Sa Ran menasehati Ra Ra jika tak mudah untuk menjadi Gisaeng, apa Ra Ra tak berkaca pada hal yang dialami Sa Ran? Ra Ra menjawab jika alasannya menjadi Gisaeng karena melihat hidup Hwa Ran selama ini. Dalam beberapa tahun ke depan, Hwa Ran akan pensiun dan saat itulah dirinya akan mewarisi Buyonggak pemberian Ibunya… 
Sa Ran menambahkan jika tak mudah untuk berada di posisi Hwa Ran, banyak hal yang sudah dilalui Hwa Ran untuk bisa mencapai posisinya. Ra Ra membenarkannya, apa menuangkan minuman kepada para tamu adalah hal yang menjijikkan? Sejak dirinya berada dalam kandungan Ibunya dan diangkat anak oleh Bibi dan Pamannya, belum lagi dengan perlakuan Ibu Jin Am, Ra Ra meyakini jika ini adalah takdir dan jalan hidupnya. Ra Ra kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan jika akan memberikan mobilnya kepada Sa Ran-Da Mo sebagai hadiah pernikahan. Sa Ran terkejut, bagaimana bisa Ra Ra memberikannya, apa yang akan digunakan Ra Ra nanti? Ra Ra menjawab jika dirinya tak membutuhkan mobil ketika berada di Buyonggak lagipula ada mobil Ibunya yang bisa dikendarainya nanti. Yang terpenting Sa Ran-Da Mo bisa berbahagia karena sudah terlalu banyak hal dan rintangan yang mereka lewati untuk bisa bersama seperti sekarang.
Kang San tertawa seusai menelepon Son Ja untuk mengkonfirmasi ucapan Michelle jika Son Ja memiliki pacar… Kang San menjelaskan kepada Hyo Ri, jika kemarin Son Ja hanya bercanda karena terlalu malu untuk mengakui tak memiliki pacar di hadapan Michelle. Lagipula gadis yang diakui Son Ja sebagai pacar, dia adalah Gong Joo adik Sa Ran.
Nenek memberitahukan kepada Eo San dan Soon Duk jika mereka harus menghadiri pernikahan Sa Ran nanti… mengingat Sa Ran tidak memiliki terlalu banyak kerabat dan juga selama ini Sa Ran dan keluarganya sudah terlalu banyak membantu mereka termasuk Son Ja.

Hwa Ran memanggil Ra Ra untuk menemuinya. Hwa Ran sudah mendengar semuanya dari Joo Hee. Sama seperti Sa Ran, Hwa Ran mengatakan tidak mudah baginya untuk mencapai posisi seperti sekarang ini. Lagipula, Ibu Hwa Ran sejak dulu bekerja di Buyonggak… Hwa Ran lahir dan tumbuh besar di Buyonggak, wajar jika dirinya menjadi seorang Gisaeng. Tapi Ra Ra? Ra Ra memiliki banyak kelebihan, keluarganya tidak kekurangan dan serba berkecukupan… keputusan yang salah jika Ra Ra ingin menjadi seorang Gisaeng.
Ra Ra mengucapkan jika awalnya juga dirinya mengira jika semuanya terasa mudah, semua orang akan menyukainya tetapi kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik. Ra Ra tidak bisa membuat Da Mo mencintainya dan pria yang terakhir yang dikencaninya dan akan menjadi suaminya justru tidak mencintainya dengan tulus. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah menjadi seorang Gisaeng, Ra Ra memohon kepada Hwa Ran agar mengijinkannya bergabung dengan anak baru dan belajar menjadi seorang Gisaeng. Ra Ra tidak mengambil keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu… Ra Ra sudah memahami semua konsekuensi atas semua keputusannya.

Sa Ran sedang mempersiapkan semua barang-barangnya termasuk mengepak semua pakaiannya yang akan dibawanya nanti ke rumah baru. Gong Joo masuk dan bertanya apa ada yang bisa dibantunya dan dijawab Sa Ran tidak ada. Gong Joo meminta kepada kakaknya untuk tidak mengkhawatirkan mereka karena mereka tidak akan membayar biaya sewa apartemen lagi. Sekarang Sa Ran harus berbahagia setelah semua penderitaan dan air mata yang dilaluinya. Sa Ran tersenyum, memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya tetapi bagaimana dengan nasib sahabatnya, Ra Ra?
Da Mo menelepon Sa Ran menanyakan persiapan calon istrinya tersebut. Sa Ran kemudian bertanya apa Ibu Da Mo akan hadir namun dijawab Da Mo tidak, Ayahnya melarang ibunya untuk datang…

Sebuah taxi berhenti di depan rumah Da Mo… Sa Ran turun dan bertemu dengan bibi pengurus rumah Da Mo… saat masuk ke dalam rumah, Sa Ran bisa melihat aura kebencian di wajah Ayah Da Mo terhadap dirinya, buktinya ketika Sa Ran masuk dan disaat bersamaan Ayah Da Mo akan keluar bersama Andrew, Ayah Da Mo segera membatalkan niatnya dan memutuskan masuk ke dalam kamar.
“ketua, tolong dengarkan apa yang aku ingin katakan. Setiap kali, anda memintaku untuk datang, aku memenuhi panggilan anda. Jadi tolong luangkan waktu anda untukku sedikit saja” pinta Sa Ran dan berhasil membuat Ayah Da Mo mengurungkan niatnya meninggalkan Sa Ran. Disaat bersamaan, Ibu Da Mo keluar dari kamar “tolong hadirlah besok, aku memohon kepada anda”
“apakah kamu mendengar permohonanku? Aku bahkan memohon kepadamu”
“ketua, sama seperti anda yang tak bisa berpisah dengan Ibu… hal yang sama juga terjadi padaku dan Da Mo”
“apakah kalian berdua telah menikah?” tanya Ayah Da Mo mulai kesal
“sama seperti pasangan yang telah menikah, kami juga sama. Di masa depan, jika kita diberikan kesehatan maka kami akan memiliki anak. Kemudian ketika mereka melihat foto pernikahan kami, anak-anak akan bertanya dimana Kakek dan Nenek mereka? Mengapa mereka berdua tidak datang? Bagaimana kami akan menjawabnya? Jika kami memberitahukan kepada mereka jika Kakekmu tidak menyetujui pernikahan kami apakah anak-anak bisa memahaminya dengan mudah? Ketua, bahkan jika anda tidak menyukai kami, bahkan jika anda sangat membenciku, tolong datanglah demi cucu anda nanti. Anak-anak belajar cinta dari keluarga mereka ketika tumbuh dewasa, haruskah mereka belajar pertama kali tentang perselisihan? Meskipun aku dapat mengontrol tubuhku tetapi tidak dengan anak-anak… Da Mo merasa sedih dan menyesal karena tidak bisa menghabiskan waktu dengan anda hingga dirinya tumbuh dewasa… jika anda juga tidak hadir di pernikahan, betapa sakitnya hati Da Mo dan anda juga akan menyesalinya nanti” ucap Sa Ran
“kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, apa kamu sudah selesai sekarang?” tanya Ayah Da Mo dan berdiri dari duduknya
“aku tidak akan lagi merasa menyesal atau meminta maaf terhadap anda. Anda bersikeras menancapkan kuku ke hati anak anda” ucap Sa Ran tegas dan kembali menghentikan langkah kaki Ayah Da Mo
“ini semua karenamu, kamu adalah penyebabnya”
“jika aku tahu aku akan menikah dengan Da Mo, apakah aku segila itu hingga akhirnya masuk ke Buyonggak? Orang-orang tidak bisa melihat masa depan, lalu apa yang harus aku lakukan? Ayah yang membesarkanku tetaplah Ayahku, adik tiriku juga adalah adikku… tentu saja aku harus mendapatkan uang untuk mereka. Apakah menjadi Gisaeng adalah sebuah kesalahan besar? Apakah karyawan Eun Sung tidak pernah menuangkan minum pada teman atau atasan mereka? Jika aku seorang aktris terkenal, anda pasti tidak akan keberatan. Tapi apakah artis tidak lebih baik dari Gisaeng? Mereka berpelukan dan bahkan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi itu bisa dimengerti karena mereka sedang berakting. Lalu bagaimana dengan kami yang bekerja keras dengan hanya memberikan makanan, minuman dan menari? Seorang aktris menghibur semua orang sedangkan kami hanya menyambut tamu , bercakap sebentar dan memberi nasihat jika mereka membutuhkannya tetapi kami harus dihukum dan diremehkan… aku tidak akan memohon kepada anda lagi, aku akan memberitahu anak-anakku nanti semua yang aku lalui dan tak akan melewatkannya sedikitpun… untuk kami, asalkan anda senang dan berbahagia , bahkan jika anda ingin menyumbangkan semua kekayaan tidak menjadi masalah untuk kami. Aku hanya meminta kepada anda untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua dengan menghadiri pernikahan anak anda. Aku benar-benar tidak tahu mengapa permintaan ini terasa sangat sulit. Aku minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat anda, sama seperti anda yang melalui masa-masa sulit, aku dan Da Mo juga melaluinya” ucap Sa Ran dan memberi hormat kepada ke dua orang tua Da Mo dan berlalu pergi. 
Sa Ran tahu ini adalah usaha terakhirnya untuk meyakinkan Ayah Da Mo agar bisa hadir di pernikahan mereka besok…. Meskipun disadari Sa Ran sangat sulit untuk mengubah keputusan calon Ayah mertuanya tersebut.

Begitu Sa Ran pergi, Ayah Da Mo terlihat berpikir keras sementara Ibu Da Mo sudah mengambil keputusan akan pergi di pernikahan putranya besok walaupun suaminya melarangnya dan bahkan ingin menceraikannya. Ibu Da Mo sadar dirinya adalah seorang istri yang harus mematuhi semua ucapan suaminya tapi di sisi lain, dirinya adalah seorang Ibu…ucapan Sa Ran benar, bagaimana bisa orang tua tidak hadir di hari yang paling bersejarah untuk anaknya?
Sesampainya di rumah, Sa Ran menelepon Da Mo menanyakan keadaannya…. Sa Ran meminta maaf karena besok Da Mo akan menangis dikarenakan ke dua orang tuanya tidak datang di hari pernikahan mereka. Namun yang terjadi, Da Mo justru tertawa, dirinya tidak kenapa-kenapa jika ke dua orang tuanya tidak datang. Da Mo sudah melakukan semua usaha yang bisa dilakukannya dan yang akan menangis dan menderita bukan dirinya tetapi Ayahnya.
Ra Ra dan Joo Hee berbicara sebelum tidur. Joo Hee bertanya siapa yang akan menangkap buket besok dan dijawab Ra Ra, teman SMA mereka. Joo Hee berucap jika Hyo Ri pasti akan marah saat mengetahui jika Ra Ra akan menjadi Gisaeng namun Ra Ra terlihat malas untuk membahasnya dan memilih untuk tidur.
Keesokan harinya
Da Mo sudah menunggu Sa Ran…. Saat melihat Sa Ran, Da Mo segera memeluk calon istrinya tersebut. Gong Joo yang mendapat tugas menemani Sa Ran hingga di gedung pernikahan hanya tersenyum dan memilih masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.
Sa Ran dan Gong Joo akhirnya tiba di salon untuk memake over penampilan mereka. Di tempat yang berbeda, Ibu Da Mo juga sedang melakukan hal yang sama. Saat Sa Ran selesai mengenakan gaun pengantinnya, Gong Joo memanggil Da Mo yang menunggu di luar dan sudah selesai berpakaian sedaritadi. Da Mo terkesima dan takjub dengan penampilan Sa Ran hari ini, Sa Ran terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putihnya.

Sa Ran dan Da Mo berfoto bersama disusul berfoto bersama Gong Joo.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju gedung pernikahan dengan menggunakan limusin… di dalam mobil, Gong Joo menyempatkan mengabadikan moment kebahagiaan kakaknya dan calon kakak iparnya.

Hwa Ran dan Do Hwa juga sedang dalam perjalanan menuju gedung pernikahan… di perjalanan, Hwa Ran memberitahukan alasannya untuk tak mengizinkan anggota Buyonggak yang lainnya untuk hadir adalah karena Ibu Sa Ran adalah Hwa Ja, salah satu koki di dapur Buyonggak dulu. Do Hwa tentu saja terkejut….
Sebuah kejadian kurang menyenangkan terjadi
Saat sedang dalam perjalanan menuju tempat pernikahan Sa Ran digelar, ke dua orang tua Sa Ran dan Gong Joo mengalami kecelakaan lalin.
Namun di sisi lain kabar menggembirakan justru datang dari pihak Da Mo. Ayah Da Mo akhirnya memutuskan untuk datang di pernikahan Da Mo-Sa Ran. Melihat kehadiran suaminya, Ibu Da Mo merasa sangat senang.
Tak hanya itu, sesuatu hal yang baik datang dari sisi Ra Ra juga
Ra Ra sedang menelepon Ayahnya guna menanyakan dimana posisi Ayahnya sekarang. Ra Ra tak menyadari ketika memasuki kamar mandi, kamar mandi yang dimasukinya adalah kamar mandi pria hingga akhirnya seorang pria berkepala plontos menyadarkannya. Dia adalah Kyle, guru bahasa Inggris di Buyonggak. (Ra Ra belum pernah bertemu dengan Kyle)^^

Kehadiran Ayah Da Mo membuat beberapa orang tak mempercayai dengan apa yang mereka lihat…. Salah satunya adalah Nenek Ra Ra, Soon Duk dan juga Eo San. Setahu mereka, Ayah Da Mo menentang keras pernikahan Sa Ran-Da Mo dan menolak untuk hadir di acara pernikahan Da Mo-Sa Ran. 
Ra Ra berlarian ke tempat Da Mo dan Sa Ran sedang melakukan sesi foto pemotretan. Ra Ra memberitahu kepada ke 2 sahabatnya tersebut jika Ayah Da Mo berada disini. Da Mo terlihat terkejut sekaligus senang. Meskipun awalnya Da Mo mengatakan kepada Sa Ran tidak apa-apa jika Ayahnya tidak datang, mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri kehadiran ke 2 orang tuanya di hari bersejarahnya membuat Da Mo gembira bukan main…

Tapi tunggu dulu, kebahagiaan mereka terasa kurang karena Ayah dan Ibu Sa Ran tidak bisa hadir… Hwa Ja menelepon Gong Joo dan mengabarkan jika dirinya dan juga Ayah Sa Ran saat ini sedang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Kondisi mereka memang tidak terlalu parah tapi mereka tetap tidak bisa menghadiri pernikahan Sa Ran karena harus menerima beberapa perawatan. 
Kepanikan seketika melanda namun Ra Ra segera mengambil tindakan yaitu meminta Ayah dan Ibu barunya untuk menjadi wali Sa Ran.
Hwa Ran terlihat berpikir ketika mendengar berita kecelakaan ke 2 orang tua Sa Ran, mungkinkah ini hukuman karena mereka sudah mendorong Sa Ran hingga menjadi seorang Gisaeng?
Ataukah ini sudah menjadi takdir jika yang akan membawa Sa Ran ke altar adalah Eo San, ayah kandung Sa Ran?^^

Pernikahan digelar
MC meminta Da Mo masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan. Hwa Ran yang duduk sebagai salah satu tamu undangan seketika tersenyum ketika mengingat awal pertama kali Da Mo menginjakkan kakinya ke Buyonggak… Da Mo seperti orang gila dan terus memanggil Sa Ran. 
Kemudian disusul Sa Ran yang diapit oleh Ayah kandungnya Eo San

Putri kami usianya juga sama dengan Sa Ran. Dia mungkin juga belum menikah

Sa Ran mengingat semua hal yang sudah dilaluinya bersama Da Mo. Awal perkenalan mereka, saat mereka putus, saat Sa Ran memutuskan menjadi Gisaeng hingga menikah dengan Perwakilan Ma… ketika Da Mo menangis memohon agar Sa Ran jangan pernah meninggalkannya hingga akhirnya mereka berdua bisa berdiri di tempat yang sama mengucap janji suci sebagai pasangan suami istri.
Sa Ran dan Da Mo masih merasa tak percaya dengan apa yang terjadi dan sudah dilalui mereka berdua. Perjalanan cinta mereka terasa sangat rumit. Diwarnai dengan air mata, kesedihan, sakit hati, tawa dan senyuman… namun siapa sangka justru semuanya berakhir dengan indah di pelaminan.

Tiba akhirnya mereka memberi hormat kepada orang tua masing-masing… Sa Ran menyadari jika Ayah Da Mo masih membencinya tapi satu yang patut disyukuri Sa Ran, Ayah Da Mo akhirnya memutuskan untuk hadir dan itu sudah cukup baginya. Setidaknya, Da Mo nanti tidak akan pernah membenci Ayahnya begitupun sebaliknya.
Keanehan terjadi saat Sa Ran dan Da Mo memberi hormat kepada Eo San dan Sook sebagai wali Sa Ran. Sama seperti yang dialami Sa Ran saat melihat Soon Duk-Eo San menikah, kali ini Soon Duk tanpa sadar ikut meneteskan air mata. Entah kenapa, Soon Duk merasa senang sekaligus terharu melihat gadis manis di hadapannya ini akhirnya resmi menikah dengan pria yang dicintainya. Soon Duk hanya mendengar segelintir kisah Sa Ran tetapi justru dirinya yang jauh lebih sedih dibandingkan dengan tamu lainnya. Eo San, sang suami dan Ibu Da Mo yang melihatnya merasa heran. 
Da Mo dan Sa Ran resmi menjadi suami istri…. Ucapan selamat dan tepuk tangan terus terdengar.

Sekembalinya di rumah, Eo San bertanya kepada Soon Duk alasan kenapa tadi istrinya tersebut menangis… Soon Duk menjawab hal yang sama seperti yang dikatakan Sa Ran dulu ketika pertanyaan yang sama ditujukan kepadanya “tidak tahu”. 
Ra Ra akhirnya mengatakan kepada Ayahnya, Soon Duk dan juga Neneknya jika dirinya ingin menjadi Gisaeng di Buyonggak. Semuanya sontak terkejut, bagaimana bisa Ra Ra mengambil keputusan seperti itu?
Sa Ran dan Da Mo akhirnya tiba di pulau Jeju, tempat bulan madu mereka… Sa Ran meminta Da Mo untuk menelepon Ibunya mengabarkan jika mereka sudah sampai di Jeju dan juga menanyakan tentang perasaan Ayah Da Mo seusai menghadiri pernikahan tadi? 
Saat Sa Ran menutup gorden dan berbalik karena Da Mo memanggilnya…. Sa Ran sontak terkejut dan tertawa melihat penampilan suaminya. Da Mo berdandan layaknya wanita dan memakai wig. Da Mo mengatakan jika dirinya hanya ingin bernostalgia mengingat pertemuan pertama mereka dimana Sa Ran tanpa sengaja menjatuhkan jepit rambutnya…. Pertemuan dimana untuk pertama kalinya Da Mo mengalami cinta pada pandangan pertama.
Son Ja dan Gong Joo makan malam bersama. Son Ja mengutarakan niatnya ingin mengajak Gong Joo untuk ikut bersamanya ke luar negeri mempelajari bahasa inggris. Semua biaya akan ditanggung oleh paman Son Ja, Eo San. Gong Joo menolaknya dengan halus, Ibunya tidak akan pernah mengizinkannya.

Sa Ran masih merasa canggung dan malu ketika berdua saja dengan Da Mo di dalam kamar, meskipun saat ini status Da Mo adalah suami resmi Sa Ran. Beruntung Da Mo bisa menetralisir suasana, Da Mo mengajak Sa Ran berbicara sambil memijat kaki istrinya tersebut yang pastinya lelah setelah acara pernikahan mereka tadi siang.
Sa Ran mengatakan jika mereka harus merebut hati Ayah Da Mo lagi. Ayah Da Mo bisa saja menghadiri pernikahan tetapi dia belum bisa memberikan restu. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan kelemahan Ayah Da Mo yaitu Andrew, mereka harus membawa Andrew untuk tinggal bersama mereka… Da Mo seketika menjadi malas mendengar nama Andrew namun karena Sa Ran, istrinya menginginkannya... Da Mo mau tak mau akhirnya setuju. 
Da Mo masih memijat kaki Sa Ran dan merasa takjub dengan keindahan jari jemari Sa Ran. Da Mo bermain-main dan mengatakannya ingin menggigitnya namun Sa Ran seketika menarik kakinya hingga membuat Da Mo terjerembep jatuh ke lantai… wkwkwkwk

BERSAMBUNG

Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang, kurang lebih 39 episode…. Sa Ran dan Da Mo akhirnya menikah^^ Episode 40 juga termasuk dalam salah episode favoritku. Salah satu episode yang membuatku sedih dan meneteskan air mata. Bukan karena melihat perjuangan cinta Da Mo-Sa Ran tetapi karena terharu melihat mereka berdua akhirnya menikah. 

Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari episode kali ini yaitu “takdir tidak dapat dirubah”. Awalnya Ayah angkat Sa Ran dan Hwa Ja yang akan menjadi wali dalam pernikahan Sa Ran, namun siapa sangka sebuah kecelakaan berhasil mengubah semuanya. Pada akhirnya yang membawa Sa Ran ke altar dan yang menjadi wali nikahnya adalah orang tua kandungnya sendiri. Meskipun mereka berdua belum saling mengetahui tetapi telah terjalin sebuah ikatan yang tanpa mereka sadari menjadi penghubung dua hati yang saling merindukan. 

G sabar pengen lihat pertemuan Sa Ran dan ke 2 orang tuanya^^  
Sekian, bye-bye.

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015