[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 33

EPISODE 33
I should follow my heart , but I followed my head
Warning : Salah satu Episode yang paling menguras air mata


Gong Joo dan Son Ja menjemput ke dua kakak mereka yang sedang mabuk berat. Gong Joo ingin menangis melihat kondisi kakaknya yang sangat menyedihkan. 
“Gong Joo, aku mendengar kamu pergi bertemu dengannya, kenapa kamu melakukannya?aku tahu persis apa yang aku lakukan. Perwakilan Ma mengatakan akan pergi bersama-sama ke Eropa” ucap Sa Ran mulai ngawur.
“aku tidak membutuhkannya”
“kenapa tidak?kamu berkata ingin ke Paris, aku akan membawamu ke sana. Hei teman, adikku cantik kan? Son Ja, jika Ra Ra menyulitkanmu segera ke rumah kami” ucap Sa Ran dan membuat Gong Joo akhirnya menangis “Gong Joo berhentilah, aku mulai kesal, uljima. Teman-teman, adikku saat aku akan masuk ke Buyonggak, untuk mencegahku pergi dia tidak mengambil koperku tapi menggigit tanganku. Begitu berartinya aku untuknya” tambah Sa Ran. T^T
Sebuah kejadian lucu kembali terjadi pada Hwa Ja dan Hyo Ri. Masih ingat dengan insiden lantai licin dimana Hwa Ja menarik Hyo Ri hingga akhirnya mereka berdua jatuh bersama-sama? Nah, kali ini di sebuah tempat karaoke… Hyo Ri dan Hwa Ja lagi-lagi terlibat dalam sebuah masalah. Saat Hyo Ri ke kamar mandi untuk buang air kecil, Hyo Ri lupa mengunci pintu kamar mandi dan mengakibatkan seorang wanita langsung nyelonong masuk dan bisa ditebak… wanita tersebut seketika duduk di pangkuan Hyo Ri dan buang air kecil. Bagian bawah baju Hyo Ri basah dan tentunya bau pesing…
Hyo Ri marah-marah namun wanita tersebut malah pergi karena merasa bukan salahnya…. Salah Hyo Ri kenapa lupa mengunci pintu kamar mandi. Lagipula dirinya tak menyadari karena kondisinya sedang dalam mabuk berat. Hyo Ri tak tinggal diam dan segera menyusul wanita tersebut ke roomnya untuk meminta pertanggungjawabannya. 

Hwa Ja kembali bergabung dengan teman-temannya. Kemunculan Hyo Ri yang tiba-tiba dan langsung marah membuat emosi Hwa Ja ikut tersulut. Hwa Ja bahkan tidak takut dengan ancaman Hyo Ri yang akan memanggil Polisi. Salah satu teman Hyo Ri yang menyusul karena Hyo Ri melewati room mereka seketika mengenali Hwa Ja sebagai wanita di rumah makan barbeque. Pertengkaran tak dapat terelakkan, Hwa Ja mengambil makanan yang tersaji di atas meja dan melemparkannya ke tubuh Hyo Ri. Tak ingin kalah, Hyo Ri mengambil tumpukan es dan menyiramkannya ke tubuh Hwa Ja. Sepertinya memang sedariawal mereka ditakdirkan untuk bertemu dan bertengkar, hehehehe…. Tidak bisa ngebayangin bagaimana jika Gong Joo dan Son Ja berpacaran bahkan menikah?
Gong Joo membawa Sa Ran pulang dan Son Ja membawa Ra Ra. Saat mobil baru melaju sebentar, Gong Joo tiba-tiba memutuskan menepi dan menelepon seseorang.
Kang San pulang ke rumah dan mendapati istrinya sedang berendam. Melihat wajah istrinya yang kusut membuat Kang San bertanya apa ada yang salah? Hyo Ri menceritakan semua kejadian yang baru dialaminya tadi dan membuat Kang San terkejut dan berucap “apa dia gila?”

Pria yang mengawasi Sa Ran akhirnya pergi setelah memastikan Sa Ran pulang kembali ke apartemennya. Pria tersebut tak menyadari jika Da Mo telah menunggu Sa Ran… Gong Joo segera menghampiri Da Mo dan mengatakan jika kakaknya mabuk berat karena minum-minum dengan teman-temannya. Gong Joo kemudian meminta Da Mo untuk membawa Sa Ran ke suatu tempat hanya sampai upacara pernikahan berakhir.
Da Mo terkejut mendengarnya
“aku mohon padamu, aku yang akan bertanggung jawab” pinta Gong Joo dan membuka pintu mobil sisi sebelah kanan. Da Mo bingung apa yang harus dilakukannya sekarang . Berulang kali ditatapnya Sa Ran yang tengah tertidur pulas dan akhirnya Da Mo mengambil pilihan dengan menggendong Sa Ran masuk ke dalam apartemen.
Gong Joo bingung dengan tindakan mengejutkan Da Mo “aku mengerti bagaimana perasaanmu tapi ini bukan cara yang tepat. Jika dia tidak mendengarkan ketika kamu berbicara rasional padanya maka kamu harusnya menyerah” ucap Da Mo…. Hwaaa, Da Mo semakin dewasa dan bijaksana. Bisa saja kan Da Mo menuruti permintaan Gong Joo demi kebaikan Sa Ran dan juga kebaikannya sendiri tetapi Da Mo tak ingin egois. Membawa kabur Sa Ran tak akan menyelesaikan masalah justru akan membuatnya semakin pelik. Benar kata pepatah “Masalah akan membuatmu semakin dewasa”.
Da Mo membaringkan Sa Ran di kasurnya dan menatap wajah bidadarinya tersebut lekat sebelum akhirnya berpamitan pulang.
“maafkan aku” ucap Gong Joo ketika mereka berdua berdiri di depan lift apartemen
“aku mengerti perasaanmu, terima kasih banyak. Ketika dia bangun nanti, katakan padanya aku ke Chungpyung dan akan tinggal disana” ucap Da Mo

Keesokan harinya
Ahjussi Saeng Kang, Bong Yi dan Dan Se menuju ke ruang makan. Eun Ja dan beberapa koki lainnya sudah berada disana dan sedang menyiapkan makanan. Eun Ja bertanya dimana Da Mo dan dijawab Ahjussi Saeng Kang jika dari semalam Da Mo tidak pulang, setelah dia menerima telepon dia segera pergi.
Eun Ja bergegas menemui Hwa Ran dan Do Hwa untuk melaporkan apa yang didengarnya dari Ahjussi Saeng Kang dan yang lainnya… Eun Ja takut jika Da Mo pergi menemui Sa Ran dan melakukan hal yang aneh-aneh lagi. Hwa Ran meminta Do Hwa menelepon Sa Ran dan yang mengangkat Hp Sa Ran adalah Gong Joo. Gong Joo mengatakan jika kakaknya masih tidur. Do Hwa tersenyum lega dan mengakhiri percakapan.

“apa kakak ingat kejadian semalam?” tanya Gong Joo ketika Sa Ran bangun
“ya”
“Da Mo oppa mengatakan jika dia akan ke Chungpyung”
“kamu meneleponnya?” tanya Sa Ran terkejut
“aku memintanya datang tetapi rencanaku gagal. Aku memintanya untuk membawamu ke suatu tempat”
“mengapa kamu melakukannya?” tanya Sa Ran menyesalkan tindakan adiknya
“jika kakak menjadi aku dan aku mengatakan akan menikahi seseorang yang 20th lebih tua dariku apa kakak tidak akan perduli? Ini adalah hal yang sama. Oppa mengatakan jika kamu tidak mendengarkan alasan, aku harus menyerah lalu Oppa membawamu kemari dan pergi”
“mengapa aku tidak mengingatnya?” tanya Sa Ran dan memegangi kepalanya yang masih sakit akibat terlalu banyak minum semalam
“karena kakak tertidur begitu masuk ke dalam mobil dan oppa menggendongmu masuk ke apartemen. Aku berharap kamu bisa bersama Da Mo oppa” ucap Gong Joo dengan nada permohonan.
“itu karena kamu tidak mengetahui, belum tentu yang menurut orang lain baik, baik untukku”
“menolak Da Mo oppa apakah hal yang benar untuk dilakukan?”
“dia bukan anak yatim piatu, apakah kita harus menancapkan paku di hati ke dua orang tuanya karena keserakahan kita?” jawab Sa Ran.
Ra Ra kembali bertemu dengan calon Ibu Mertuanya… mereka makan siang bersama dan Ra Ra mengatakan jika Bibinya ingin bertemu.
Tiba saatnya Sa Ran pulang, Gong Joo tiba-tiba merasa sedih karena harus berpisah lagi dengan kakaknya.
Eo San mendatangi kediaman Soon Duk. Tak lupa Eo San membawa sebuah hadiah berupa topi berwarna pink. Eo San merasa kasihan dengan Sook Duk yang sering berjalan di bawah teriknya panas matahari tanpa memakai pelindung apapun. Eo San bertanya apa besok hari pernikahan itu? Dan membuat Soon Duk menjadi sedih.
“kenapa?” tanya Eo San
“aku merasa buruk pada anak itu. Entah kenapa hatiku seolah-olah sakit” jawab Soon Duk

Joo Hee makan siang bersama dengan pengacara Kim… pengacara Kim tiba-tiba melontarkan sebuah guyonan dengan maksud agar Joo Hee tertawa namun yang terjadi Joo Hee hanya terdiam dan menatap kesal padanya. Joo Hee merasa Pengacara Kim sudah mulai berubah, dulunya dia adalah orang yang rapi, tidak suka berbicara omong kosong tetapi sekarang Pengacara Kim saat makan terlihat sangat berantakan, saat menonton kata-kata kasar beberapa kali keluar dari mulutnya. 
Selera makan Pengacara Kim mendadak lenyap. Jika Pengacara Kim mau, di luar sana banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasangannya dan jauh lebih muda daripada Joo Hee tetapi pengacara Kim memutuskan memilih Joo Hee. Baginya, Joo Hee juga sudah tak seperti dulu lagi matanya…. Joo Hee sama sekali tidak bisa mengerti pasangannya, hidupnya selalu serius dan juga sama sekali tidak bisa diajak bercanda.
“kita kembali bersama untuk apa? Kita seharusnya hanya mengingat kenangan yang membuat rindu. Mari kita bersikap seolah semua ini tak pernah terjadi” ucap Joo Hee dan memilih pergi terlebih dahulu…. Waktu telah merubah segalanya termasuk kepribadian seseorang. Kita tak bisa berharap seseorang yang dulu kita cintai akan tetap menjadi orang yang sama apalagi setelah beberapa lama tak bersua. Rasa cinta yang dulunya ada akhirnya padam karena keegoisan manusia yang sulit menerima perubahan.

Sa Ran kembali ke Buyonggak. Dipandanginya pakaian pengantin yang akan dikenakannya besok. Hpnya tiba-tiba berbunyi, Perwakilan Ma meneleponnya hanya untuk menanyakan kabarnya.
Ibu Da Mo meminta kepada Bibi pengurus rumah untuk menelepon penjaga vila di Chungpyung agar melakukan pembersihan rutin… sebuah kabar mengejutkan didapatkannya, Da Mo ternyata berada disana dan bukannya di Eropa. Ibu Da Mo segera menelepon ke vila dan yang mengangkat telepon adalah Da Mo. Da Mo menjelaskan jika dia hanya mengubah tanggal kepergiannya menjadi hari minggu, Da Mo meminta Ibunya untuk tidak khawatir karena semuanya baik-baik saja. Da Mo juga meminta kepada Ibunya untuk merahasiakan hal tersebut pada Ayahnya.

Sa Ran menatap jam meja dengan sedih… dalam beberapa jam ke depan, dirinya akan menikah dan resmi menjadi istri Perwakilan Ma. Itu artinya, semua kenangan masa lalunya harus dihapusnya saat itu juga.
Joo Hee tiba-tiba mengingat Eo San, mantan suaminya… Entah kenapa Joo Hee merasa Eo San jauh lebih baik dibandingkan Pengacara Kim. Walaupun tidak ada cinta di antara mereka, Joo Hee merasa nyaman ketika berada di dekat Eo San. ya,ya,ya penyesalan selalu datang belakangan.

Da Mo sedang tertidur pulas di sofa. Bunyi klakson membangunkannya, siapa yang datang di tengah malam begini? Seorang gadis muncul dengan pakaiannya berwarna putih. Gadis tersebut tersenyum manis kepadanya. Da Mo menarik gadis tersebut ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Bunyi jam dinding membuat Da Mo terbangun, ternyata semuanya hanya mimpi.

Gadis itu tidak akan datang sama sekali

Da Mo mengambil segelas air dan meminumnya dengan sekali teguk. Kekesalan tiba-tiba menyeruak di hatinya ketika mengingat jika dalam hitungan jam, Sa Ran akan menikah dengan pria lain. Da Mo melempar gelas ke lantai hingga pecah berkeping-keping, sama seperti hatinya yang sekarang sudah hancur dan sulit untuk utuh kembali.

Keesokan harinya
Seisi Buyonggak sibuk karena hari ini sebuah pernikahan salah satu Gisaeng akan kembali di gelar… Sa Ran sendiri tengah mandi dengan campuran bunga mawar
“Ibu Yee Cheon berkata di masa lalu bahwa senyum Gisaeng seperti bunga, jalannya seperti bunga, ucapannya seperti bunga, nyanyiannya seperti bunga dan tariannya seperti bunga. Tapi kamu tidak perlu tersenyum atau berjalan atau menari karena keseluruhan dirimu adalah bunga. Tidak ada yang memaksamu dan ini adalah jalan yang kamu pilih, kamu dapat melanjutkan dengan berani sekarang bukan?” tanya Hwa Ran ketika menemui Sa Ran
“ya, aku harus”
“aku tidak akan khawatir” jawab Hwa Ran
Salah seorang Gisaeng masuk begitu Hwa Ran keluar (Gisaeng yang sering merasa kesal semenjak Sa Ran masuk ke Buyonggak). Gisaeng tersebut menyesalkan keputusan Sa Ran…. Jika dirinya adalah Sa Ran, dia akan lebih memilih Da Mo daripada Perwakilan Ma yang sudah berumur dan playboy.

Perwakilan Ma tengah berada di salon, melakukan make over besar-besaran untuk dirinya…
Para Koki Buyonggak beristirahat sejenak dari kegiatan memasak yang lumayan melelahkan. Saat berada di kamar Eun Ja, mereka mulai bercerita tentang Perwakilan Ma dan Sa Ran dimana pernikahan mereka berdua akan digelar nanti malam. Salah satu Koki berucap jika Sa Ran beruntung bisa menikah dengan Perwakilan Ma yang kaya raya tetapi Eun Ja sendiri memiliki pendapat lain, justru Perwakilan Ma-lah yang beruntung karena bisa menikahi Sa Ran yang memiliki kepribadian yang baik dan bijaksana.

Hwa Ja sedang menikmati soju… Gong Joo baru saja keluar dari kamar dan memilih duduk disamping Ibunya. Hwa Ja menasehati Gong Joo agar mulai sekarang semakin lebih memperhatikan Sa Ran. Gong Joo berucap kenapa baru sekarang Ibunya berkata seperti itu? Dan dijawab Hwa Ja jika dirinya tak mengetahui hasilnya akan seperti sekarang ini… akan lebih baik jika Sa Ran menikah dengan putra dari Perusahaan Eun Sung.
Gong Joo tiba-tiba terkejut mendengar ucapan Ibunya, bagaimana Ibunya bisa mengenal Da Mo? Dirinya saja mengenal Da Mo tanpa disengaja. Hwa Ja akhirnya memberitahukan rahasia yang disimpannya selama ini. Dulu Hwa Ja meminta tolong seseorang untuk memata-matai Sa Ran karena tanpa sengaja melihat Sa Ran bertemu dengan Da Mo . Sewaktu Hwa Ja bertanya tentang Da Mo, Sa Ran mengatakan mereka sudah putus.
“Ibu, kenapa ibu tidak bisa berhenti? Kenapa Ibu melakukan hal seperti itu? Bagaimana Ibu bisa menyuruh seseorang untuk membuntutinya, apa kakak orang luar? Ibu, benar-benar kelewatan” ucap Gong Joo dan memilih masuk kembali ke kamarnya.
Hwa Ran mendandani Sa Ran dan selama didandani Sa Ran hanya terdiam dengan tatapan kosong…. Sedangkan Da Mo sendiri saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Son Ja menemui Gong Joo…. Tujuan kedatangannya adalah ingin mengajak Gong Joo ke Buyonggak untuk melihat pernikahan Sa Ran namun Gong Joo menolak. Tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang dan datang ke pernikahan Sa Ran justru akan membuat hatinya semakin sedih.
“kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, mungkin saja sesuatu akan terjadi nanti” ucap Son Ja berusaha meyakinkan Gong Joo
“menurutmu apa sekarang semuanya masih bisa dibatalkan?” tanya Gong Joo pesimis
“aku ingin pergi bahkan jika seorang diri” jawab Son Ja
Malam harinya
Pada akhirnya Gong Joo memilih untuk ikut dengan Son Ja ke Buyonggak… saat memasuki pintu, terlihat beberapa orang penjaga dan juga beberapa karangan bunga. Bong Yi menyambut Gong Joo dan bertanya dimana orang tua Gong Joo dan dijawab Gong Joo jika mereka tidak datang. Gong Joo balik bertanya “dimana Da Mo oppa?” dan tiba-tiba seorang pria muncul tepat di belakang Gong Joo.
Di dapur
Beberapa orang Koki berlarian menuju halaman, sebentar lagi pernikahan akan segera dimulai. Eun Ja mengajak Soon Duk untuk ikut serta namun Soon Duk menolak “aku merasa hatiku tidak baik ketika  melihatnya” ucap Soon Duk.

Perwakilan Ma masuk ke tempat dilangsungkannya upacara pernikahan…. Para tamu yang datang mendekat untuk melihat lebih jelas. Salah satu tamu berpikir jika yang akan menjadi pasangan Perwakilan Ma adalah Hwa Ran.
Sa Ran dituntun menuju tempat berlangsungnya upacara…. Da Mo yang melihatnya hanya terdiam dan menatap Sa Ran dengan tatapan yang sulit dimengerti. Salah satu Gisaeng menyadari kehadiran Da Mo, segera memberitahukannya pada Gisaeng lain dan juga Hwa Ran.
“tidak heran Perwakilan Ma terpikat olehnya, wajahnya sangat cantik dan seperti bayi” ucap tamu lainnya
“dia seorang Gisaeng, bahkan jika terlihat cantik bagiku kecantikannya seketika luntur” tambah tamu lainnya menimpali.
Semua pendapat mereka didengar Da Mo yang berdiri di depan mereka. Jika biasanya emosi Da Mo meledak-ledak terutama ketika seseorang menyinggung hal yang sangat berharga untuknya, kali ini Da Mo memilih diam. Da Mo memilih menepati janjinya pada Sa Ran untuk tak membuat kekacauan di hari pernikahan Sa Ran… dan Da Mo sepertinya berusaha untuk terlihat tegar…
Dari kejauhan terlihat Soon Duk yang memilih melihat pernikahan Sa Ran dari kejauhan. Hatinya tiba-tiba perih dan sakit melihat Sa Ran, seolah-olah yang menikah tersebut adalah putrinya. Soon Duk memilih menutup matanya sebentar, kembali membukanya dan beranjak pergi. Gong Joo yang sedaritadi ikut terdiam dan menyaksikan pernikahan kakaknya seperti yang lainnya tanpa sadar meneteskan air mata….
Di sela-sela upacara pernikahannya, Sa Ran kembali mengingat hari-hari yang dilaluinya bersama Da Mo sebelum akhirnya Sa Ran harus menghapus memori terindah dalam hidupnya ketika dirinya dinyatakan sah sebagai istri Perwakilan Ma. Saat Da Mo memaksanya untuk keluar dari Buyonggak bahkan hingga rela disiram air, saat Da Mo menyematkan cincin di jari jemarinya, saat Da Mo marah dan hampir gila mengetahui jika Sa Ran memilih menikah dengan Perwakilan Ma, saat Da Mo memilih menyerah dan keluar dari Buyonggak. Semua kenangan itu membuat Sa Ran sedih tapi Sa Ran sama sekali berusaha untuk tidak menunjukkannya pada khalayak ramai. 
Para tamu yang hadir bisa saja mencap Sa Ran macam-macam terutama alasan Sa Ran menikah dengan Perwakilan Ma tetapi bagi yang mengetahui kisah cinta Da Mo dan Sa Ran tentunya akan meneteskan air mata melihat Sa Ran saat ini… dan tentunya si pemeran utama kita “Ah Da Mo” jauh lebih sedih menyaksikan orang yang disayangi dan dicintainya menikah dengan pria lain.

Upacara Pernikahan akhirnya selesai. Perwakilan Ma tertawa bahagia dan para rekan bisnisnya memberinya selamat. Perwakilan Ma mengajak Sa Ran menjauh dari kerumunan menuju kamar pengantin mereka.
Sa Ran berbalik sesaat. Sa Ran bisa melihat adiknya Gong Joo yang menangis dan juga Da Mo yang hanya menatap Sa Ran dari kejauhan…. Inilah akhir dari kisah cinta mereka berdua, Sa Ran dan Da Mo tidak ditakdirkan untuk bersama.
Perwakilan Ma menatap Sa Ran dari balik sekat yang memisahkan mereka berdua. Setelah meneguk segelas soju, Perwakilan Ma mendekati Sa Ran…. Sa Ran sudah menjadi istrinya dan sudah banyak uang yang dikeluarkannya demi Sa Ran jadi sekaranglah saatnya menunaikan kewajibannya dan menuntut haknya sebagai seorang suami. Tapi semua tadi hanya khayalan Da Mo…. Da Mo masih tidak rela jika Sa Ran dimiliki atau disentuh pria lain.
Da Mo memilih menyusul Sa Ran dan Perwakilan Ma bersama para tamu yang mengantar mereka hingga ke depan pintu kamar pengantin. Saat Perwakilan Ma telah masuk bersama Sa Ran, Da Mo hanya terdiam…. Namun tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi…. Da Mo menerobos masuk ke dalam kamar dan menarik tangan Sa Ran untuk segera pergi. Perwakilan Ma tidak tinggal diam, dulu Da Mo bisa saja berbuat sesuka hatinya tetapi sekarang Sa Ran adalah istrinya. Sebuah pukulan dialamatkannya ke wajah Da Mo hingga bibir Da Mo mengeluarkan cairan berwarna merah.
“pindah, aku bilang pindah” teriak Da Mo saat Perwakilan Ma berusaha menghalanginya. Tak mengindahkan permintaannya, Da Mo mendorong Perwakilan Ma hingga tersungkur ke lantai dan menyebabkan dahinya berdarah.
Rekan-rekan Perwakilan Ma datang begitupun dengan Hwa Ran. Hwa Ran meminta mereka untuk segera membawa perwakilan Ma ke rumah sakit dan sebagian yang lain berusaha membawa Da Mo keluar namun Da Mo terus memberontak. Sa Ran shock dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana bisa Da Mo melakukan hal seperti ini? Sekarang dirinya sudah menjadi istri Perwakilan Ma. Ahjussi Saeng Kang masuk “aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi” ucapnya dan pergi.

Gong Joo dan Son Ja ikut masuk ke dalam ruangan dan melihat Da Mo masih berdiri mematung dengan nafas ngos-ngosan. Da Mo kemudian melepaskan sepatunya dan berlutut di hadapan Sa Ran. 

“aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Aku sudah menggali kuburanku sendiri, putus denganmu adalah sebuah kesalahan. Aku seharusnya mengikuti kata hatiku tapi aku mengikuti akal pikiranku. Hatiku telah memilihmu tapi pikiranku menyuruhku putus. Aku pikir aku bisa terus hidup tanpa melihatmu. Aku menyedihkan, bahkan menurut pendapatku sendiri aku menyedihkan. Orang yang bijak sepertimu, silahkan pilih aku. Aku tahu seharusnya bukan aku tapi karena kasihan denganku. Untuk yang terakhir kalinya, satu kali lagi aku tidak akan melakukan hal yang lebih bodoh. Aku akan mengangkat rambut kamu, aku akan melakukan semua yang kamu katakan. Jika kamu tidak ingin dan menolakku lagi, kemudian bunuh aku terlebih dahulu sebelum kamu pergi. Aku tidak bisa hidup terpisah darimu” ucap Da Mo dengan linangan air mata “aku pikir lebih baik aku mati di tanganmu daripada harus kehilanganmu dan membuatku sakit. Sesungguhnya, aku tidak bisa hidup tanpamu, apa yang akan kamu lakukan?” tambah Da Mo dan menaruh tangan Sa Ran di lehernya “bunuh saja aku disini sekarang atau seperti yang aku katakan… aku akan melakukan apapun. Aku akan hidup sebagai manusia gisaeng jika kamu mau, semuanya!”
Sa Ran menangis lebih keras dan memukul dada Da Mo “kamu menghancurkanku dan sekarang kamu datang”
“mianhae, pukul aku sebanyak yang kamu inginkan”
“apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?” teriak Sa Ran semakin sedih
“aku akan mengurus semuanya dan bertanggung jawab”
“kamu benar-benar menyedihkan, kamu adalah orang terendah yang paling menyedihkan di dunia ini. Aku tidak tahan melihatmu”
“aku tahu, aku idiot dan bodoh, aku salah… aku tidak akan pernah menyalahkan kamu lagi” ucap Da Mo dan memeluka Sa Ran erat
Gong Joo, Son Ja, Hwa Ran bahkan Do Hwa serta Gisaeng lainnya menangis menyaksikan perjuangan kisah cinta mereka berdua. Mereka kemudian memutuskan pergi dan meninggalkan Sa Ran dan Da Mo berdua saja.
“tolong percaya padaku… aku bahkan akan menulis sumpah dengan darahku. Katakan saja, haruskah aku menulis sekarang?”
“dengan melakukannya, apa aku bisa kembali ke diriku yang dulu? Seperti sebelum aku masuk ke Buyonggak?” tanya Sa Ran
“dari pertama kali kita bertemu sampai sekarang, bagiku kamu tetap Sa Ran”
Sa Ran menggeleng “tubuhku mungkin masih sama tapi kepolosanku telah hilang”
“aku tidak perduli bahkan jika kamu adalah rubah manis itu akan baik-baik saja”
“jika kamu tidak mengkhianatiku seperti itu betapa indahnya aku mencintai seorang Ah Da Mo, jadi apa sekarang? Setelah menghapus semua jejak kemanusiaan dari diriku”
“dalam kehidupan kita berikutnya aku akan menjadikanmu malaikat kembali. Jika kamu disisiku, aku memiliki rasa percaya diri untuk melakukan semuanya. Aku bahkan akan mati jika kamu ingin mati denganku” isak Da Mo

BERSAMBUNG



Hiks,hiks,hiks.... Mata bengkak cuman karena buat recap episode 33. Ini bisa dikatakan sinopsis karena biasanya recap episode-episode sebelumnya cuma sampai 8 halaman tapi khusus untuk episode 33 mencapai 11 halaman.
Benar-benar dech Perjuangan Da Mo. Sa Ran sudah menikah pun Da Mo masih belum rela melepasnya. Lain di bibir lain pula di hati... Da Mo pernah berucap akan melupakan Sa Ran dan akan pergi ke luar negeri begitu melihat Sa Ran menikah tetapi kenyataannya hatinya semakin sakit dan tak bisa hidup tanpa Sa Ran.
Bagaimana selanjutnya, apa yang akan dilakukan Sa Ran terhadap Da Mo? dan apa yang akan dilakukan Da Mo pasca pernikahan Sa Ran dengan Perwakilan Ma?
Penasaran? Sama, saya juga, hehehehe. Annyeong^^


NB : Pernikahan bagi seorang Gisaeng disebut memasang rambut (tradisi "hair raised" atau menikah dengan gisaeng tapi tidak resmi terdaftar di hukum perkawinan). Artinya seorang Gisaeng menikah tetapi tetap menjadi istri simpanan atau jika di Indonesia bisa dikatakan menjadi istri siri. 

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015