[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 32

EPISODE 32
Da Mo,Ra Ra, Gong Joo....  aku akan bahagia


Ibu Da Mo mengunjungi Sa Ran untuk mengetahui kondisi Sa Ran. Ibu Da Mo bercerita mengenai Da Mo dan yang dilakukannya begitu sampai di rumah. Da Mo lebih banyak diam dan pernah sekali Ibunya mendapati botol minuman di kamarnya. Ibu Da Mo juga mengabarkan jika besok Da Mo akan ke luar negeri.
Ibu Da Mo meminta kepada Sa Ran untuk menghubunginya jika memerlukan sesuatu. Ibu Da Mo kemudian bertanya… dulu Da Mo pernah meminta kepada ke dua orang tuanya untuk mengadopsi seorang anak perempuan, mungkinkah itu Sa Ran? Sa Ran membenarkannya namun permintaan Da Mo tersebut ditolaknya. Ibu Da Mo menyayangkan keputusan Sa Ran, jika saja Sa Ran menerimanya tentu Sa Ran tidak akan berada di Buyonggak sekarang ini.
“itu tidak mungkin untuk menjadi seorang kakak dan adik… belum lagi dengan menipu ke dua orang tua” ucap Sa Ran dengan linangan air mata yang membuat Ibu Da Mo ikut meneteskan air mata. Ibu Da Mo melepaskan gelang yang melingkar di tangan kirinya dan memberikannya kepada Sa Ran sebagai kenang-kenangan. “ini akan terus membuatku mengingat kalian” jawab Sa Ran menolak.

Di perjalanan pulang
Ibu Da Mo terus saja memikirkan Sa Ran dan Da Mo
Ibu maafkan aku, jalan kami sangat menyedihkan begitupun dengan mereka

Hwa Ja mengobrak abrik isi lemari pakaian Gong Joo seperti mencari sesuatu… saat menemukan yang dicarinya, Hwa Ja menyuruh Gong Joo untuk segera mengenakannya. Gong Joo melirik sesaat pakaian yang dipilihkan Ibunya dan seketika menolak memakainya. Gong Joo dengan tegas mengatakan tidak akan pergi ke pertemuan dengan Perwakilan Ma. Gong Joo tidak habis pikir bagaimana bisa Ibunya terlihat tenang dan bersemangat bertemu dengan calon suami kakaknya? Tidak puaskah Ibunya dengan melihat kakaknya ke Buyonggak?
Sa Ran dan Perwakilan Ma sedang berada di sebuah restoran mewah. Mereka sedang menunggu seseorang. Saat Ayah dan Ibu Sa Ran muncul, Perwakilan Ma segera berdiri dan memberi hormat kepada mereka. Percakapan pun mulai mengalir, Hwa Ja terlihat sangat antusias dan interaktif terlebih ketika Perwakilan Ma menghadiahkannya sebuah kosmetik mahal dan untuk Ayah Sa Ran sebotol anggur. 
Sedangkan di rumah, Gong Joo dan Son Ja juga sedang makan siang bersama. Gong Joo terkesima dengan makanan yang dihidangkan di atas meja, semuanya terlihat sangat enak…. Son Ja sangat pandai memasak dan berbanding terbalik dengan dirinya. Saat makan, Son Ja bahkan memisahkan daging ikan dari tulangnya dan memberikannya pada Gong Joo.
Da Mo sedang mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke luar negeri. Da Mo sepertinya menuruti saran Sa Ran agar dirinya lebih baik ke luar negeri untuk menenangkan diri.  Da Mo membawa serta jepit rambut Sa Ran.

Aku akan melupakanmu baik itu hati, wajah dan suaramu

Kembali ke Gong Joo dan Son Ja
Son Ja tiba-tiba bertanya apa saat di perjalanan pulang di taxi kemarin Gong Joo tak merasakan apa-apa? Son Ja menjelaskan jika dadanya berdetak begitu hebat ketika berada di dekat Gong Joo. Gong Joo tak mengerti dan meminta Son Ja menjelaskannya, Gong Joo bahkan mengancam akan menyiram air ke wajah Son Ja jika Son Ja tak menceritakannya secara detail. Dengan terbata-bata, Son Ja bercerita jika sewaktu di taxi, Gong Joo tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu Son Ja dan bahkan memeluknya erat… Son Ja merasakan sesuatu yang berbeda dan memeluk Gong Joo balik, mendekatkan dagunya ke dahi Gong Joo dan tak lebih. Gong Joo tak percaya dengan apa yang didengarnya dan berdiri dari kursinya kemudian berkacak pinggang. Son Ja ikut berdiri dan segera berlutut meminta maaf dan bersumpah tidak melakukan apapun seperti apa yang dipikirkan Gong Joo. “jika aku berbohong aku rela disambar petir” ucap Son Ja dan tiba-tiba di luar sana petir menyambar, hujan turun dan lampu mati seketika. Gong Joo memeluk Son Ja erat karena takut dengan kegelapan dan bunyi petir. Dan lagi-lagi Son Ja merasakan hal yang aneh di dalam dirinya…. Suka dengan scene ini Wkwkwkwk…. Suasana mendukung banget buat Son Ja.^^
Hwa Ja dan Ayah Sa Ran pulang…. Hwa Ja bergegas mencari Gong Joo ke kamarnya dan menceritakan kesan dan pemikirannya setelah pertemuan tadi. Hwa Ja menyesalkan karena Gong Joo tak turut serta dan juga, Perwakilan Ma tak seburuk yang mereka pikirkan, dia sangat tampan, baik dan juga seorang sutradara terkenal. Dari luar kamar terdengar suara Ayah Sa Ran yang berteriak “anggurnya sangat mahal” dan membuat Hwa Ja bergegas keluar. Gong Joo hanya geleng-geleng kepala, kenapa ke dua orang tuanya bisa seperti itu…. Bersenang-senang di atas penderitaan anak mereka, uang seolah sudah membutakan mata hati mereka.
Keesokan harinya
Sa Ran bangun lebih awal dibandingkan Gisaeng lainnya. Sa Ran sudah siap dengan pakaian olahraganya. Saat membuka pintu dan melihat sepatu yang tertata rapi di depan pintu, pikiran Sa Ran kembali tertuju pada Da Mo. Sewaktu pertama kali Da Mo datang ke Buyonggak, hal yang pertama dilakukannya adalah menyusun sepatu Sa Ran yang berantakan.
Pakaian pengantin Sa Ran telah selesai dijahit. Sa Ran mencobanya disaksikan Do Hwa dan Hwa Ran. Jika biasanya seorang calon pengantin perempuan sangat bahagia mencoba pakaian pengantinnya, hal yang sama tidak berlaku untuk Sa Ran… wajahnya diliputi kesedihan dan Hwa Ran bisa melihatnya meskipun Sa Ran berusaha menyembunyikannya di balik senyuman yang terlihat dipaksakan. 

Sementara itu Da Mo akhirnya tiba di bandara. Saat selesai melakukan pengecekan tiket, Da Mo berjalan pelan menuju pintu pesawat dan berhenti sesaat kemudian berbalik berharap seseorang muncul dan mencoba menghentikan kepergiannya… sayang harapan Da Mo sia-sia karena yang diharapkannya tak kunjung datang.
Dan seseorang yang dinantikan Da Mo lebih memilih untuk tetap berada di Buyonggak dan berpikir jika Da Mo pasti sudah berada di atas pesawat. Benarkan pemikiran Sa Ran?
Gong Joo terlihat berdiri di pinggir jalan, sepertinya menunggu sesuatu…. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Gong Joo bergegas masuk ke dalam mobil yang ternyata dikemudikan Ra Ra. Mereka saling menatap penuh arti. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua.
Sebuah mobil berhenti di depan Buyonggak. Seorang pemuda tampan turun dengan koper di tangannya dan bergegas masuk ke Buyonggak. Bong Yi yang tak sengaja melintas terkejut ketika melihatnya dan berulang kali mengucek matanya memastikan apa yang dilihatnya sekarang adalah kenyataan ataukah cuma mimpi di siang bolong? Langkah kaki Bong Yi dipercepatnya hingga akhirnya sampai di dapur. Disana Eun Ja, Ahjussi Saeng Kang dan para Koki lainnya tengah berkumpul. “Da Mo berada disini” ucap Bong Yi dengan nafas ngos-ngosan.
Da Mo menemui Hwa Ran dan meminta agar Hwa Ran mengizinkannya tinggal di Buyonggak sampai hari pernikahan Sa Ran. Da Mo tidak akan mengganggu Sa Ran. Sama seperti Sa Ran, hati Da Mo juga sudah mati. Da Mo hanya ingin melihat Sa Ran menikah agar tidak ada lagi kenangan tentang Sa Ran yang bisa diingatnya.
Ra Ra dan Gong Joo menemui Perwakilan Ma…. Sama seperti Da Mo, Ra Ra dan Gong Joo mencoba membujuk Perwakilan Ma agar membatalkan pernikahannya dengan Sa Ran. Umur mereka terlalu jauh dan juga Perwakilan Ma bisa menikah dengan wanita lain…di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Sa Ran dan memiliki perbedaan umur tak jauh dengannya. Perwakilan Ma menjawab jika dirinya sudah tertarik dengan Sa Ran dan ketika Sa Ran mengajaknya untuk menikah, dirinya menyambut dengan senang hati, lagipula dirinya merasa kasihan dengan Sa Ran dan tak ada alasan baginya untuk membatalkan pernikahan.
Sedih, itulah yang dirasakan Gong Joo dan Ra Ra. Usaha mereka sia-sia untuk meyakinkan Perwakilan Ma. Padahal mereka memiliki keyakinan dapat melakukannya. Gong Joo dan Ra Ra bisa saja mencoba untuk membujuk Sa Ran namun mengingat karakter Sa Ran yang keras kepala dan berpendirian kuat, tak mudah bagi mereka untuk merubah keputusan Sa Ran.
Sa Ran terkejut ketika kembali ke Buyonggak dan mendapati sosok Da Mo juga berada di tempat yang sama. Sa Ran tersenyum bahagia seketika dan berlari menuju Da Mo dan memeluknya erat namun semua hanya khayalan Sa Ran… senyuman di wajahnya begitupun dengan kebahagiaannya yang sempat memuncak melebur seketika.
“apa yang terjadi?” tanya Sa Ran
“begitu tiba di bandara, aku terus memikirkan ingin melihat pernikahanmu… dengan begitu aku tidak akan mengingatmu lagi. Seperti kamu, aku juga sudah menyerah. Teman? Aku juga tidak membutuhkannya. Di masa depan aku juga tidak ingin melihatmu lagi. Aku tidak akan memberikan kesulitan padamu, aku akan tenang menyaksikan upacara pernikahanmu dan hilang selamanya dari pandanganmu. Jadi kamu hanya berpura-pura tidak pernah melihatku” jawab Da Mo dan bergegas pergi meninggalkan Sa Ran yang sedih mendengar semua ucapannya…
Ra Ra tengah merapikan kamar yang akan ditempati Son Jan nanti. 
Soon Duk mendatangi Buyonggak. Sesuai dengan janjinya pada Hwa Ran, Soon Duk lah yang akan bertanggung jawab untuk makanan dalam pernikahan Sa Ran nanti. Saat berada di dapur bersama dengan Eun Ja untuk mempersiapkan dan mencatat bahan makanan yang akan mereka beli nanti, Da Mo muncul untuk mengambil minuman. Eun Ja mengatakan jika dia adalah Da Mo, pacar Sa Ran. Da Mo adalah orang kaya dan berniat mengajak Sa Ran keluar dari Buyonggak namun Sa Ran menolak. “tetapi kenapa?” tanya Soon Duk namun pembicaraan mereka terpotong ketika Koki lainnya datang.

Son Ja bersiap-siap hendak meninggalkan apartemen, tempat tinggalnya selama ini pasca kematian Neneknya. Son Ja mencari sosok Gong Joo di kamarnya hendak berpamitan namun yang didapatinya Gong Joo sedang sibuk menyulam dan hanya menjawab “mmmm” ketika ditanya.
“aku akan pergi tapi tidak ingin melihatku?” tanya Son Ja karena sedaritadi Gong Joo terus menunduk dan tak sekalipun memandang wajahnya. Gong Joo terdiam sesaat dan mengangkat wajahnya untuk melihat Son Ja… tatapan mereka bertemu. Gong Joo menghapus air mata yang sedaritadi berusaha ditahannya “tidak ingin aku pergi kan?” tanya Son Ja dengan mata berkaca-kaca namun Gong Joo malah menyuruh Son Ja untuk segera pergi… Sesaat sebelum pergi, Son Ja sekali mengingatkan Gong Joo untuk berhati-hati dan tidak mabuk sembarangan.
“aku sudah gila… kamu menangis karena apa Dan Gong Joo?” gumam Gong Joo dan menghapus air mata yang kembali menetes.
Son Ja berusaha beradaptasi di tempat tinggal barunya… berusaha beradaptasi di kamar barunya dan juga keluarga yang selama ini selalu dirindukannya dan terkadang membuatnya iri terhadap teman-temannya yang memiliki keluarga yang lengkap.
Perwakilan Ma kembali datang ke Buyonggak. Da Mo yang melihatnya hanya bisa diam terlebih ketika melihat Sa Ran menuju ke ruangan tempat Perwakilan Ma berada… mereka berdua hanya berjalan tanpa saling bertegur sapa. Sewaktu kembali ke dapur, Da Mo meminum segelas soju dan kegiatannya tersebut dilihat oleh Eun Ja… Eun Ja bisa merasakan kemarahan pada diri Da Mo.

Gong Joo mendatangi kamar Son Ja yang sekarang sudah kosong. Dulu kamar itu adalah kamarnya namun ketika Son Ja datang, Gong Joo mengungsi ke kamar Sa Ran. Sekarang kamar ini kembali kosong, kembali tak memiliki nyawa. Gong Joo membuka lemari es dan melihat es loli yang sudah dibelikan Son Ja dalam jumlah banyak untuknya.
Unnie sudah pergi dan sekarang Son Ja juga 

Sedangkan Son Ja sendiri terus teringat dengan sosok Gong Joo. Tinggal di rumah yang besar dan mewah tak membuatnya bisa tidur dengan lelap. Bayangan dan kenangan tentang Gong Joo, Noonanya terus terngiang-ngiang di benak Son Ja.
Dan Se, ahjussi Saeng Kang, Bong Yi dan juga Da Mo berkumpul di kamar. Ahjussi Saeng Kang menasehati Da Mo jika lebih baik Da Mo tidak perlu menyaksikan pernikahan Sa Ran, namun Da Mo berkeinginan tetap ingin melihatnya “semuanya akan baik-baik saja” ucap Da Mo.
Ayah Da Mo menyuruh istrinya untuk menelepon putra mereka… sampai saat ini tidak ada satupun kabar dari Da Mo tentang kondisinya di luar negeri sana.
Soon Duk berpapasan dengan Da Mo. Da Mo hanya memberi salam dan berlalu pergi… Soon Duk tiba-tiba merasa kasihan dengan Da Mo.

Hyo Ri menemui Ra Ra. Hyo Ri menginginkan agar saat pernikahan Ra Ra nanti, dirinya bisa berada di posisi sebagai Ibu Ra Ra. Sepengetahuan orang-orang, Eo San dan Joo Hee telah bercerai dan tak menjadi masalah jika sekarang Hyo Ri yang menggantikan posisi Joo Hee. Hyo Ri kembali mengungkit masalah pengangkatan Ra Ra sebagai anak Eo San dan Joo Hee. Kenapa Ra Ra menimpakan semua kesalahan pada Hyo Ri dan Kang San? kenapa tak sedikitpun menyalahkan Kakeknya?
Ra Ra hanya terdiam… Ra Ra akhirnya setuju dengan keinginan Hyo Ri tapi dengan satu syarat, Hyo Ri harus menerima Son Ja. Hyo Ri menyanggupinya tapi kali ini gantian Hyo Ri yang mengajukan syarat. Hyo Ri ingin bertemu dengan calon Ibu Mertua Ra Ra karena cepat atau lambat mereka akan mengetahui jika Ra Ra sebenarnya adalah Putri Kang San dan Hyo Ri dan bukan putri Eo San dan Joo Hee.
Soon Duk berjalan pulang dari Buyonggak…. Sebuah van berwarna hitam berhenti tepat di depannya dan muncullah Do Hwa dan Sa Ran dari dalam mobil. Do Hwa menawarkan agar Soon Duk menggunakan mobil untuk pulang namun Soon Duk menolak. Do Hwa kemudian memperkenalkan Soon Duk pada Sa Ran. Soon Duk lagi-lagi merasakan sesuatu ketika melihat Sa Ran tapi Soon Duk sendiri bingung untuk menjabarkannya, rasa ini disebut apa?

Sebelum hari pernikahan, Hwa Ran menyuruh Sa Ran untuk pulang ke rumahnya berkumpul dengan keluarganya membawa seserahan…. Sayang ketika sampai di rumah, Sa Ran tak mendapati seorang pun disana.
Sa Ran memutuskan menelepon Ra Ra dan mengajaknya bertemu…
Ra Ra menjelaskan jika kemarin dirinya dan Gong Joo menemui Perwakilan Ma untuk menghentikan pernikahan Sa Ran namun Perwakilan Ma tak berniat mundur. Sa Ran sedikit terkejut karena kemarin saat bertemu Perwakilan Ma, perwakilan Ma tak mengatakan apa-apa. Pembicaraan mereka terhenti ketika 2 sahabat mereka muncul.
Gong Joo baru saja pulang dan mendapati sebuah pesan yang ditinggalkan Sa Ran untuknya “aku menemui teman-temanku dulu dan akan kembali untuk tidur di rumah”. Gong Joo tersenyum seketika.
Kang San mengunjungi rumah Ibunya untuk melihat kondisi Son Ja. Kang San tersenyum senang melihat kamar yang ditempati Son Ja, Ra Ra sangat pandai dalam menatanya… kebahagiaan Kang San tak berhenti sampai disitu, Son Ja putranya sangat jago dalam menghibur dan membuat seseorang tertawa. Son Ja beberapa kali melontarkan guyonan dan candaan yang membuat Neneknya tertawa bahagia.
Kembali ke Sa Ran dan Ra Ra
Sa Ran, Ra Ra dan ke dua sahabatnya melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah klub. Sa Ran terlihat sangat bahagia dan menari dengan begitu lepasnya…. melepaskan semua penat dan masalah yang menderanya akhir-akhir ini. Ini mungkin akan menjadi kali terakhir Sa Ran melakukannya karena jika dirinya sudah menikah dengan Perwakilan Ma, belum tentu Sa Ran akan bisa sebebas ini . Buktinya saja, seorang pria sedaritadi terus mengawasinya dan kemudian melaporkan kegiatan Sa Ran kepada Perwakilan Ma.

Saat mereka ber4 berada di sebuah ruangan dan menghabiskan waktu dengan minum-minum, Ra Ra tiba-tiba berucap
“Sa Ran, aku sangat sedih. Kamu, apa tidak bisa merubah pikiranmu?” tanya Ra Ra dan kemudian menangis. Ke dua teman mereka bingung dengan apa yang terjadi dan memilih mendengarkan percakapan Sa Ran dan Ra Ra.
“uljima” ucap Sa Ran berusaha membujuk Ra Ra
“kami akan memberikanmu uang dan kamu melarikan diri ya?” bujuk Ra Ra
“apa kami tidak mengetahui sesuatu? Apa itu?” tanya Ah Mi semakin bingung
“aku akan menikah dengan Perwakilan Ma” jawab Sa Ran
“benarkah? Kamu bercanda kan?” tanya Ah Mi lagi mengira Sa Ran sedang mempermainkan mereka sekarang. Tidak mungkin kan Sa Ran akan menikah dengan sutradara yang dikenal sebagai pria yang hoby bergonta ganti pasangan.
“jangan merasa terlalu buruk, dia tak seperti apa yang kalian kepikiran” ucap Sa Ran
“dia sudah keriput” ucap Ra Ra
“apa sekarang penampilan yang terpenting? Dia sangat baik dan Humoris. Apa kalian ingat film yang telah kita nonton “Mawar Hidup”. Perasaanku sekarang seperti itu, sama sekali tidak menyesal” ucap Sa Ran dengan wajah sedih. Air mata semakin deras membasahi wajah Ra Ra dan ke dua sahabat mereka …. Mereka sama sekali tidak menyangka jika salah satu sahabat mereka akan menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya. “hei, apa ada yang meninggal? Kalian seharusnya memberi selamat padaku, kenapa menangis? Melihat Ah Da Mo yang mendengarku akan menikah dia sangat marah dan seperti orang gila” tambah Sa Ran
“kamu tahu, waktu aku melihat pertengkaran kalian, hatiku sangat sakit. Sekarang belum terlambat” bujuk Ra Ra lagi
“bagaimana bisa?” tanya Sa Ran
“sebuah ponsel bisa menyelesaikan, segera hubungi Da Mo”
“kamu pikir kamu siapa?”
“lalu membiarkanku hanya melihatmu akan menikah dengannya?”
“tidak… karena aku akan bahagia, kalian hanya perlu mendoakanku saja… aku tidak akan menyesal. Aku juga tidak memiliki kenangan lagi tentang Ah Da Mo, aku akan bahagia” ucap Sa Ran semakin sedih.

BERSAMBUNG


Hwaaaaaaa, nangis kejer.... Ikatan persahabatan Sa Ran dan ke 3 temannya erat banget. Walaupun Sa Ran dan Ra Ra belum mengetahui jika mereka berdua saudara sepupu tetapi Ra Ra care banget sama Sa Ran.
Ada yang pernah bertanya episode favoritku episode berapa? Nah aku jawab disini ya. Episode favoritku adalah episode dimana Da Mo mutusin Sa Ran, Nenek Da Mo dan Kakek Ra Ra meninggal, Sa Ran masuk ke Buyonggak, Da Mo menyusul Sa Ran ke Buyonggak, Sa Ran-Da Mo akhirnya merit dan pastinya episode 33^^
Jongmal Kamsahamnida untuk setiap komentar sahabat yang masuk dan juga semangatnya, maaf belum bisa balas komentarnya.... Lagi fokus menulis rekapnya. hehehehe, annyeong^^


0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015