[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 20

=Episode 20=
Keputusan Terberat dalam hidupku


Da Mo melihat topi pemberian Sa Ran…. Dan yang dilakukan Sa Ran akhirnya dilakukan juga oleh Da Mo. Da Mo meminta bibi pengurus rumahnya untuk membuangnya. Hiks,hiks,hiks.
Saat turun dari bus sepulang bekerja, Sa Ran tanpa sengaja bertemu Son Ja. Son Ja baru saja makan malam. Sa Ran bertanya apa tidak ada orang di rumah dan dijawab Son Ja ada. Son Ja hanya merasa tidak enak jika terus menerus makan di rumah terlebih sekarang dirinya tinggal di rumah Sa Ran. Sa Ran meminta Son Ja untuk tak memikirkannya dan menganggap rumah tersebut seperti rumahnya sendiri.
Akhir-akhir ini Da Mo sering mengajak Andrew ke kamarnya…. Rasanya aneh memang karena dulu Da Mo sangat membenci anjing tersebut terlebih sang Ayah lebih menyayangi Andrew dibandingkan dirinya. Kali ini Da Mo kembali curhat kepada Andrew jika dirinya tidak ingin menikah karena semua wanita sama.
Eun Ja melaporkan kasus pencurian makanan di dapur oleh Hwa Ja kepada Nenek Wang dan Hwa Ran. Nenek Wang bertanya seberapa banyak yang diambil Hwa Ja dan dijawab Eun Ja dengan mengepalkan tangannya…. Bagi Eun Ja bukannya seberapa banyak yang diambil Hwa Ja tetapi tindakannya yang tak bisa diterima dan ditolerir. Bisa saja di kemudian hari, Hwa Ja melakukan hal yang sama jika tidak diberikan peringatan dan sanksi yang tegas.
Di klinik milik Kang San
Kang San mengambil sebuah Hp miliknya yang selalu disimpannya di laci. Hp tersebut sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh Hyo Ri. Kang San kemudian menghubungi seorang pria dan meminta pria tersebut untuk mencarikan wanita bernama Son So Young, seorang perawat yang bekerja di rumah sakit kurang lebih 20th yang lalu. Jika dihitung umur So Young sekarang 50th.
Hwa Ja menemui Nenek Wang. Hwa Ja meminta maaf dan mengakui kesalahannya telah mencuri bahan makanan dari dapur. Hwa Ja menangis dan mengatakan jika makanan yang diambilnya diberikan kepada anak-anaknya, dirinya berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Satu yang disesalkan Nenek Wang, kenapa Hwa Ja melakukannya secara diam-diam…. Hwa Ja bisa saja meminta tanpa perlu mencurinya dan menyebabkannya mendapat image sebagai pencuri.
Da Mo kembali berkencan dengan gadis yang terakhir kali ditemuinya…. Sang gadis menginginkan makan daging di restoran yang terakhir kali mereka datangi (tempat kerja Sa Ran) namun Da Mo menolak dengan alasan tidak menyukai daging.
Son Ja mengunjungi restoran Sa Ran bersama dengan Gong Joo…. Selain ingin melihat Sa Ran, Son Ja juga ingin mentraktir Gong Joo lobster. Disaat bersamaan Ra Ra juga datang ke tempat kerja Sa Ran bersama Ah Mi dan mereka berakhir dengan makan bersama di satu meja yang sama. Melihat kebersamaan Gong Joo dan Ra Ra, Sa Ran tertawa senang melihatnya….

Kebersamaan mereka berlanjut ke restoran yang lain. Ra Ra mentraktir Son Ja dan Gong Joo minuman untuk menebus rasa bersalahnya dan juga berterima kasih atas kebaikan hati 2 adik Sa Ran tersebut. Mereka bertukar cerita tentang kehidupan mereka masing-masing dimana Ra Ra yang baru saja kehilangan Neneknya dan Son Ja yang tidak mengetahui keberadaan Ayah kandungnya.
Merasa mulai nyaman dan menganggap Son Ja dan Gong Joo teman curhat yang baik, Ra Ra mulai bercerita tentang masalah yang akhir-akhir ini dihadapinya. Orang tua yang selama ini merawatnya ternyata adalah Paman dan Bibinya dan Paman dan Bibinya adalah orang tua kandungnya…. Tak hanya itu, orang tuanya sedang dalam proses perceraian. Gong Joo dan Son Ja merasa bersedih mendengarnya dan berusaha menghibur Ra Ra.

Sebuah kejadian sedikit lucu terjadi di kamar mandi restoran
Gong Joo sedang sikat gigi di wastafel guna membersihkan sisa makanan yang menempel di gigi… seorang gadis juga ingin melakukan hal yang sama dan memilih berdiri di belakang Gong Joo. Merasa lama menunggu, gadis tersebut menegur Gong Joo namun Gong Joo tetap fokus pada kegiatan yang dilakukannya dan bahkan terkesan membuatnya menjadi lebih lama.
Gong Joo memiliki alasan tersendiri dan Gong Joo tak mungkin melakukannya tanpa alasan yang tak jelas. Ibaratnya tak ada asap tanpa ada api. Gadis sombong dan sok cantik tersebut juga membuatnya menunggu beberapa menit yang lalu saat Gong Joo hendak buang air kecil. Gadis tersebut menelepon terlalu lama di kamar mandi padahal hal tersebut bisa dilakukannya di luar.
Aksi tarik rambut, tampar menampar tak bisa dielakkan. Perkelahian baru bisa dihentikan saat Ra Ra menyusul ke kamar mandi dan melerai ke dua gadis yang sedang bersitegang. Gadis tersebut hendak membawa masalah ini ke kantor polisi. Gong Joo tentu saja tak gentar dan mengatakan jika bukan dirinya yang memulai. Lagipula ada kamera cctv yang merekam semua kejadian tadi, hehehe…
Ra Ra mengantarkan gadis tersebut kembali ke mejanya. Betapa terkejutnya Ra Ra saat melihat rekan dari gadis tersebut adalah seseorang yang dikenalnya. Ya, dia adalah Ah Da Mo.
“maafkan aku. Temanku bernama Sa Ran, adiknya baru saja berkelahi dengan dia” ucap Ra Ra menjelaskan dan kemudian mengangkat Hpnya yang berdering dan ternyata dari Sa Ran. Ra Ra pamit dan menunjukkan senyuman mengejek pada Da Mo dan juga gadis yang sempat berkelahi dengan Gong Joo tadi. Wkwkwkwk, daebak Ra Ra.
Da Mo memutuskan mengakhiri makan malam dan segera pulang. Saat menuruni tangga restoran, Da Mo melihat Sa Ran yang baru saja datang. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat namun mereka tetap bersikap seolah-olah tak saling mengenal.
Sa Ran menghampiri ke tiga orang yang sudah menunggunya sedaritadi… Ra Ra menatap Sa Ran dan dari tatapan Sa Ran, Ra Ra bisa menebak jika sewaktu tiba tadi Sa Ran sempat bertemu dengan Da Mo. Ra Ra mengajak Sa Ran ke kamar mandi dan menjelaskan jika tadi Gong Joo bertengkar dengan pasangan Da Mo. Ra Ra bahkan menyesalkan, Sa Ran dan Da Mo baru saja putus tapi dengan mudahnya Da Mo berpaling. Da Mo bahkan sudah merencakan pernikahan dengan wanita tersebut.
Sesampainya di rumah, Da Mo mendapat telepon dari Ra Ra. Ra Ra menjelaskan jika pertengkaran tadi dimulai oleh teman Da Mo dan Gong Joo hanya berusaha membela diri. Ra Ra seolah-olah ingin mengejek Da Mo karena mendapatkan wanita yang jauh dibawah Sa Ran. Da Mo terlihat kesal seusai mendengar penjelasan Ra Ra. Gwaenchana, selama gadis itu bisa melahirkan semuanya akan baik-baik saja.

Sementara itu
Gong Joo menceritakan semua hal yang didengarnya dari Ra Ra jika selama ini orang tua yang merawat Ra Ra adalah paman dan bibinya sedangkan paman dan bibinya adalah orang tua kandung Ra Ra. Sa Ran sedikit tak percaya mendengarnya, semuanya terasa tidak masuk akal.
Keesokan harinya
Di dalam kamarnya, Hwa Ja mengatakan kepada suaminya jika dia akan memberitahu yang sebenarnya kepada Sa Ran… sang suami hanya bisa pasrah mendengar ucapan Hwa Ja dan sama sekali tidak berniat mencegahnya.

Hwa Ja menyajikan teh untuknya dan juga untuk Sa Ran. Hwa Ja sekali lagi membujuk Sa Ran untuk masuk ke Buyonggak namun Sa Ran masih tetap pada jawaban yang sama, menolak. Hwa Ja mengancam jika dirinya akan bercerai dengan Ayah Sa Ran dan membawa Gong Joo pergi. Sebagai seorang anak, Sa Ran harusnya menunjukkan bakti kepada orang tuanya.
Tak hanya dengan kata-kata, Hwa Ja membuktikannya dengan mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper. Sa Ran berusaha menghentikannya namun Hwa Ja tetap bersikeras akan pergi (acting) hingga akhirnya kata yang seharusnya tak terucap atau bisa dikatakan sengaja diucapkan terlontar jua… ADOPSI.
“aku juga belum lama ini mengetahuinya. Pertama tariklah nafas dalam-dalam…. Ibumu menemukanmu di suatu tempat” ucap Hwa Ja mulai menjelaskan
“aku? Dimana?” tanya Sa Ran dan kemudian berusaha tertawa “kamu pasti sengaja mengatakan ini agar aku ke Buyonggak”
“baiklah jika itu yang kamu pikirkan…. Ambil rambut Ayahmu dan lakukanlah tes DNA. Apa kamu tidak ingat saat bertanya perihal mimpi saat dirimu dilahirkan? Ayahmu terlihat tegang dan tak bisa menjawabnya. Aku terus menanyakan hal tersebut dan akhirnya dia mengakuinya” jelas Hwa Ja

Sa Ran melangkah ke dalam kamarnya dengan langkah berat…. Sebuah cerita yang tak masuk akal baru saja didengarnya… ini pasti tidak mungkin, semuanya hanya omong kosong belaka yang sengaja diciptakan Ibu tirinya untuk menggoyahkan hatinya. Tapi kenapa semuanya terasa nyata.
Ayah Sa Ran kembali ke rumah… saat masuk ke dalam kamarnya, dirinya sedikit terkejut ketika melihat pakaian istrinya berhamburan di atas koper. Hwa Ja menjelaskan jika dirinya telah memberitahu Sa Ran kebenarannya dan insiden baju adalah sebagai pelengkap aktingnya saja. Wajah Ayah Sa Ran mendadak berubah sedih, jauh di lubuk hatinya dia tidak ingin Sa Ran putrinya mengetahui yang sebenarnya. Biarlah rahasia kelahiran Sa Ran tetap menjadi sebuah rahasia yang seharusnya dikubur namun bujukan Hwa Ja seolah membuatakan mata hatinya. Huffftttt T^T
Gong Joo masuk ke dalam kamar dan mendapati Sa Ran kakaknya tertidur lemas dan menunjukkan raut wajah sedih. Gong joo bertanya apa yang terjadi namun bukannya menjawab, Sa Ran malah bangun dan melangkah ke luar kamar menuju kamar ke dua orang tua mereka.

“ayah di rumah sakit mana aku dilahirkan?” tanya Sa Ran dengan raut wajah sedih
“itu… itu…aku tidak ingat”
“aku ingin melakukan tes DNA. Ayah tidak mengingat tempatku dilahirkan, tidak mengingat mimpi Ibu saat aku dalam kandungan, apa aku diadopsi?”
“Sa Ran, kamu tidak tahu situasi ini…..”
“setelah aku memikirkan semuanya, aku tahu…. Ibu tidak seperti seorang wanita yang habis melahirkan. Ibu tetaplah seperti seorang gadis. Ayah tolong katakan kebenarannya, dimana Ayah mengadopsiku? Setelah aku tahu semuanya, aku akan membiarkannya saja atau menerimanya” isak Sa Ran “apa dari panti asuhan?”
“ibumu pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Seseorang meninggalkanmu di pintu tempatnya bekerja. Aku tidak mengetahui rumah itu dimana, yang ayah tahu rumah itu terletak di daerah Selatan. Ayah mandul dan Ibumu membawamu, kami percaya bahwa kamu adalah karunia Tuhan dan kami memperlakukanmu seperti putri kami sendiri dan kamu tahu itu” ucap Ayah Sa Ran dan ikut menangis.

Sa Ran memutuskan keluar rumah mengikuti langkah kakinya yang entah kemana akan membawanya pergi… Hwa Ja meminta Gong Joo untuk mengikuti Sa Ran, takut jika Sa Ran akan melakukan tindakan nekat.
Dari kejauhan Gong Joo hanya bisa memandangi Kakaknya yang memilih duduk di salah satu bangku taman dengan tatapan kosong. Saat ini adalah masa terberat bagi Sa Ran.
“jangan khawatir, pulanglah” ucap Sa Ran ketika Gong Joo tiba-tiba duduk didekatnya “setelah hatiku merasa baik, aku akan pulang” tambahnya
“jangan terlalu lama” pesan Gong Joo dan pergi meninggalkan Sa Ran. Gong Joo memutuskan kembali ke rumah dan berselang beberapa menit kemudian, Son Ja juga pulang dan mengatakan jika tadi dirinya bertemu Sa Ran.
Sa Ran meminjam uangnya karena lupa membawa dompet. Hwa Ja kembali meminta Gong Joo untuk mencari Sa Ran namun Gong Joo tidak dapat menemukan sosok Sa Ran dimanapun juga.
Di Buyonggak
Do Hwa penasaran ketika Dan Se meneleponnya dan memberitahukan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Rasa penasarannya akhirnya terjawab ketika melihat tamunya tersebut masuk ke dalam ruangan tempatnya berada saat ini. Do Hwa mengajak Dan Sa Ran menemui Hwa Ran selaku kepala di Buyonggak dan meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.

Sa Ran mengemukakan keinginannya untuk bergabung di Buyonggak. Jauh sebelum ibu tirinya menyuruhnya ke Buyonggak, Sa Ran memang pernah menerima ajakan yang sama dari Do Hwa dan juga Hwa Ran tetapi ditolaknya dengan halus. Yang menjadi pertanyaan Hwa Ran mengapa baru sekarang Sa Ran menyetujuinya setelah beberapa waktu berlalu. Sa Ran menjelaskan jika rombongan tari tempatnya akan melakukan audisi, tahun ini tidak menerima lagi. Dan juga, saat ini keluarganya sedang dalam masalah ekonomi.
Hwa Ran melihat keinginan Sa Ran bergabung di Buyonggak saat ini karena dorongan dari seseorang. Sa Ran tidak menampiknya namun apapun yang terjadi Sa Ran tidak akan mengubah keputusannya tersebut. Hwa Ran meminta Sa Ran untuk mempertimbangkan lagi keputusannya. Jika Sa Ran memang sudah yakin, Hwa Ran dengan senang hati menerima Sa Ran dengan tangan terbuka. Saat ini Sa Ran sedang diliputi dengan kebimbangan,dirinya tidak bisa berpikir jernih. Memutuskan untuk masuk ke Buyonggak adalah keputusan yang diambilnya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan dihadapinya ke depan.
Hwa Ja, Gong Joo, Son Ja dan Ayah Sa Ran bingung dan terus memikirkan Sa Ran yang sampai saat ini belum juga kembali. Saat pintu rumah berbunyi, ke empat-empatnya bergegas berdiri dan mendapati Sa Ran berjalan lesu dan memilih masuk ke dalam kamar tanpa berkata apapun.
Da Mo kembali menunggang kuda…sampai saat ini dia tak mengetahui apa yang sedang menimpa wanita yang dicintainya. Saat berkeliling, kuda yang ditunggangi Da Mo tiba-tiba memberontak dan membuat Da Mo jatuh terjerembep ke tanah seketika.

Sa Ran aku benar-benar bingung, bagaimana jika aku tak bisa melupakanmu

Di tengah malam
Saat semuanya tertidur dengan lelap, Sa Ran justru tak bisa memejamkan mata. Dipandanginya dengan lekat wajah Gong Joo adik tirinya yang sangat disayanginya. Sebentar lagi, mereka berdua akan berpisah dan Sa Ran akan memulai kehidupan barunya sebagai seorang Gisaeng.
Keesokan harinya
Saat Hwa Ran sedang memanjakan diri di sebuah salon, Hwa Ran tanpa sengaja mendengar suara seseorang yang sangat mirip dengan suara yang dikenalnya. Ya, benar saja… Joo Hee berbaring di tempat tidur disebelahnya, berbicara mesra dengan seorang pria di telepon. Tidak mungkin kan itu Eo San? Batin Hwa Ran….
Kang San San menerima panggilan dari seseorang. Seorang pria yang dimintanya mencari tahu keberadaan seorang wanita bernama So Young. Betapa terkejutnya Kang San saat mendengar jika wanita yang selama ini dicarinya telah meninggal dunia 10th yang lalu dan anehnya So Young memiliki anak padahal dirinya tidak pernah menikah….
Sa Ran mengunjungi makam Ibunya… sudah lama sejak terakhir kali Sa Ran mengunjunginya. Kenangan akan masa kecilnya bersama Ayah dan Ibunya dimana hanya ada kegembiraan, tawa dan canda membuat Sa Ran bersedih.

Waktu itu, aku benar-benar bahagia. Apakah aku akan mengalami kebahagiaan semacam itu lagi? Ibu akan selalu menjadi Ibuku. Aku sadar bahwa aku telah diadopsi dan dijaga dengan sangat baik termasuk Ayah. Hatiku kosong dan aku merasa itu akan terus kosong. Siapa aku sebenarnya? Aku tidak mempunyai firasat sama sekali, mengapa? Karena hal apa sehingga aku ditinggalkan? Mengapa mereka tidak bertanggung jawab? Memikirkannya sungguh tidak masuk akal. Aku tidak akan goyah seperti ini.


BERSAMBUNG

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015