Wednesday, April 30, 2014

EPISODE 37
Sisi Romantis uri Da Mo (Bagian Kedua)



Hyo Ri merasa kesal dengan calon Ibu Mertua Ra Ra. Mahar yang dimintanya terlalu banyak namun Ra Ra sama sekali tidak mempersoalkannya. Bagi Ra Ra hal tersebut adalah wajar. 
Usai menghadiri pertemuan, Hyo Ri dan Ra Ra melanjutkan perjalanan ke sebuah butik untuk melakukan viting baju pengantin pernikahan Ra Ra.
Da Mo mampir ke rumah yang sudah ditinggalkannya sejak beberapa hari yang lalu untuk mengambil beberapa barangnya yang ketinggalan. Ibunya menyambutnya dan terlihat sedih melihat putra kesayangannya tersebut… terlebih ketika mengingat hubungan Da Mo dan Ayahnya yang saat ini sedang memburuk. Ibu Da Mo bertanya dimana sekarang Da Mo tinggal dan dijawab Da Mo di hotel. Sampai kapan? Tanya Ibu Da Mo lagi dan Da Mo kembali menjawab jika dirinya akan segera mencari apartemen sederhana. Da Mo menambahkan jika Sa Ran menginginkan menunda pernikahan sampai Ayah Da Mo setuju.. entah itu 1 atau 2th. Mereka akan menunggu dan Da Mo berencana akan bekerja di perusahaan sahabatnya dan tidak ingin bergantung lagi pada Ayahnya^^

Hyo Ri mendiskusikan keinginan Ibu Mertua Ra Ra pada Nenek Ra Ra… terasa berlebihan rasanya membelikan mahar yang nominalnya tak bisa dikatakan sedikit. Sejak awal, Hyo Ri memang terlihat tidak menyukai calon Ibu Mertua Ra Ra terutama dengan cara memanggil Ra Ra dengan sebutan “bayiku”. 
Ra Ra sudah menduga hal seperti ini akan terjadi jika Hyo Ri bertemu dengan calon Ibu Mertuanya…. Bibinya pasti akan mengeluh dan mengomel jika tidak menyukai sesuatu. Hyo Ri mengatakan jika dirinya sangat pandai dalam menilai seseorang dan Ra Ra pasti akan menyesalinya namun Ra Ra segera membantah jika dirinya tidak akan tinggal dengan Ibu Mertuanya nanti sesudah menikah melainkan dengan suaminya dan Hyo Ri kembali menimpali apa Ibu mertua Ra Ra tidak akan mempengaruhi putranya? Ra Ra menjawab jika Jin Am calon suaminya sangat baik, perhatian dan seorang dokter yang hebat. Nenek Ra Ra yang sedaritadi memilih diam mengucapkan jika hal tersebut sudah cukup sebagai bahan pertimbangan.
Ra Ra sedang berada di sebuah ruangan yang sedikit gelap dan hanya disinari beberapa cahaya lilin. Ra Ra mengenakan pakaian pengantin namun anehnya wajahnya menunjukkan kesedihan. Air mata tak hentinya membanjiri wajahnya. 
Sa Ran terbangun dari tidurnya… Mimpi yang aneh, hal yang buruk apa yang akan menimpa sahabatnya tersebut?

Apakah pernikahan Ra Ra akan merepotkan?

Hwa Ran dan Joo Hee akhirnya bertemu… Joo Hee menceritakan masalah yang dihadapinya akhir-akhir ini pada Hwa Ran termasuk kegagalan mereka berdua yang tak bisa merebut hati Eo San. sebagaimana yang diketahui, Hwa Ran dulu sangat menyukai Eo San sedangkan Joo Hee baru menyadari jika dirinya menyukai Eo San begitu berpisah dengannya.
Joo Hee kemudian bertanya tentang sosok Soon Duk dan Hwa Ran mengungkapkan jika Soon Duk memiliki pribadi yang tenang dan elegan. Soon Duk lebih banyak menghabiskan waktunya di dapur Buyonggak dan hanya sesekali keluar dari Buyonggak untuk ke kuil. Soon Duk tak pernah dekat dengan seorang pria pun dan alasannya tersebut baru diketahui Hwa Ran akhir-akhir ini jika Soon Duk memiliki kerinduan terhadap Eo San…. dan Eo San sangat beruntung bisa memiliki Soon Duk sedangkan Joo Hee? Joo Hee menyia-nyiakan nasib baiknya.

Joo Hee menunjukkan raut wajah menyesal mendengar ucapan Hwa Ran, dirinya memang bodoh karena menyia-nyiakan seseorang yang sudah sangat sempurna untuknya. Yang dirasakannya sekarang adalah kesepian karena tidak memiliki seseorang pun disampingnya. Joo akhirnya mengatakan jika dirinya ingin pindah ke Buyonggak. Hwa Ran sedikit terkejut mendengarnya… Hwa Ran menyangka jika Joo Hee ingin mengambil alih Buyonggak karena selama ini Buyonggak memang atas nama Joo Hee namun Joo Hee mempercayakan pengurusannya pada Hwa Ran.
Saat pulang ke rumah Ayah Da Mo bertanya pada istrinya jika Da Mo datang hari ini kan? Dan dijawab Ibu Da Mo bagaimana suaminya tersebut bisa mengetahuinya? Ibu Da Mo kemudian mengatakan jika Da Mo menunda pernikahan sampai Ayahnya merestui, tak hanya itu Da Mo akan membeli sebuah apartemen sederhana dan mulai bekerja di perusahaan temannya mulai minggu depan. Ayah Da Mo sepertinya tak perduli dengan penundaan pernikahan Da Mo… sebuah senyum mencurigakan terlihat dari wajahnya. Tak hanya itu Ayah Da Mo berucap sesuatu hal yang membuat istrinya menjadi bingung dan bertanya-tanya apa maksud ucapan suaminya tersebut “bagaimana dia akan membeli apartemen? Apa begitu mudahnya menemukan sebuah pekerjaan?”

Ucapan Hyo Ri terbukti. Saat Jin Am pulang ke rumah, Ibu Jin Am memberitahukan jika Ra Ra bukanlah putri Direktur Geum melainkan hanya keponakannya saja yang diangkat sebagai anak. Jin Am tentu saja terkejut… Ibunya meminta Jin Am agar mempengaruhi Ra Ra untuk membeli vila dan membuatnya atas nama Jin Am, jika Jin Am tak bisa mewarisi rumah sakit setidaknya Jin Am bisa memiliki vila mewah.
Jin Am terdiam dan berucap jika Ra Ra pernah mengatakan kalau Ayahnya hanya akan menyewakannya apartemen dan tak berniat untuk membelikan mereka apartemen. Ibu Jin Am berbalik terkejut, bagaimana bisa semua ini terjadi? Tak ada jalan lain selain membatalkan pernikahan dan menganggap semuanya tak pernah terjadi. Untuk apa menikahkan Jin Am dengan Ra Ra jika ujung-ujungnya tak mendapatkan harta sepeser pun… raut wajah Jin Am seketika menunjukkan kekecewaan. Dari yang terlihat Jin Am sepertinya ingin menolak keputusan Ibunya tersebut namun rasa baktinya atau jika boleh dikatakan takut, membuat Jin Am akhirnya menurut saja apa yang diinginkan Ibunya.
Sa Ran terkejut ketika menerima telepon dari Da Mo yang mengabarkan jika dirinya sekarang berada di depan gedung apartemen Sa Ran dengan kondisi tangannya gemetar…. Sa Ran berlarian menuju lantai bawah dan bergegas masuk ke dalam mobil Da Mo. Da Mo tersenyum dan berucap jika dirinya tidak kenapa-kenapa. Da Mo hanya ingin melihat wajah Sa Ran saking rindunya pada sosok gadis di hadapannya ini dan mengajak Sa Ran menonton film… ckckck, Da Mo oppa gombal.
Di perjalanan
Da Mo berucap jika dirinya sudah mengatakan pada Ibunya akan menunda pernikahan sampai Ayahnya setuju dan Da Mo bisa menebak Ibunya akan memberitahu hal tersebut pada Ayah Da Mo. Dan memang benar Ibu Da Mo memberitahukan hal tersebut pada suaminya tadi…. Ayah Da Mo bahkan bertaruh dengan suaminya jika Da Mo tidak akan bisa bertahan lebih dari sebulan dan akan kembali ke rumah. Ayah Da Mo terlihat sangat percaya diri dengan ucapannya.

Kita bisa melihat Sa Ran dan Da Mo akhirnya tiba di gedung bioskop. Saat akan membeli tiket dengan menggunakan kartu kredit, Da Mo terkejut karena kartunya tak dapat digunakan. Tak hanya itu, debit card miliknya pun mengalami hal yang sama. Da Mo akhirnya mengetahui jika semua kartunya telah diblokir tanpa sepengetahuannya dan yang bisa melakukannya siapa lagi jika bukan Ayahnya. 
Da Mo mengantar Sa Ran kembali ke apartemennya. Niatan mereka untuk menonton film akhirnya batal dan juga Sa Ran tidak membawa uang karena terburu-buru ketika menerima telepon dari Da Mo.
Sesampainya di kamar, Sa Ran terus gelisah memikirkan Da Mo. Apakah ini salah satu cara Ayah Da Mo untuk memisahkan mereka dengan membuat Da Mo tak memiliki apa-apa hingga pada akhirnya Da Mo memilih menyerah?
Da Mo memutuskan kembali lagi ke rumahnya untuk menemui Ayahnya dan menanyakan alasan Ayahnya memblokir kartunya seenaknya…. Sayang Ayahnya sudah tertidur dan Ibunya menyuruh Da Mo untuk berbicara keesokan harinya saja. Membangunkan Ayah Da Mo saja saja membangunkan macan yang sedang tertidur.
Sebuah kejadian lucu sekaligus romantic serta menyebalkan terjadi di dapur Buyonggak
Saat Dan Se baru saja mau tertidur, Eun Ja meneleponnya dan mengatakan jika katup gas di dapur bermasalah… Dan Se memilih bangun dan memenuhi panggilan Eun Ja. Namun apa yang terjadi, sesampainya Dan Se di dapur, Katup gas sama sekali tak bermasalah, yang menjadi masalah adalah Eun Ja. Eun Ja sebenarnya ingin mengajak Dan Se makan bersama dan menjadikan katup gas sebagai alasan supaya Ahjussi Saeng Kang dan Bong Yi tak ikut. Sayang, harapan Eun Ja untuk bisa menghabiskan malam dengan makan malam berdua romantic dengan Dan Se gatot. Ahjussi Saeng Kang yang bisa mencium niatan mencurigakan Eun Ja tiba-tiba muncul bersama Bong Yi dan hasilnya mereka mengacaukan makan malam romantic Eun Ja bersama Dan Se.

Keesokan harinya
Da Mo bergegas menemui Ayahnya untuk mengkonfirmasi perihal pemblokiran kartunya. Ayahnya membenarkan jika dia yang sudah melakukannya. Da Mo tentu saja protes, bagaimana bisa Ayahnya melakukannya? Kakeknya sudah mewariskan uang untuk Da Mo dan juga Da Mo telah bekerja keras selama 2th terakhir ini di perusahaan Ayahnya. Ayah Da Mo menjawab jika dirinya akan mengembalikan semuanya kembali kepada Da Mo jika Da Mo kembali ke rumah dan membatalkan pernikahannya dengan Sa Ran.
Da Mo sangat kecewa dengan sikap Ayahnya yang memanfaatkan kelemahan orang lain untuk memuluskan rencananya….apa menikah dengan seorang Gisaeng akan membawa penyakit menular kepadanya? Ayahnya balik berucap jika dirinya juga sama kecewanya dengan Da Mo. Saat Da Mo lahir ke dunia, Ayahnya sangat senang dan berharap bisa membuat Da Mo menjadi orang yang hebat walaupun tak menjadikannya presiden. Berharap Da Mo bisa menikah dengan gadis dari keluarga yang baik. Semua yang dilakukannya pada Da Mo adalah karena dirinya sangat mencintai dan menyayangi putranya tersebut, karena dirinya menginginkan yang terbaik untuk Da Mo.
Da Mo berucap jika memang Ayahnya menyayanginya kenapa sewaktu Da Mo kecil Ayahnya tak pernah bersamanya, tak pernah menemaninya? Mengajaknya bermain atau menonton film seperti anak-anak lainnya yang menghabiskan waktu bersama ayah mereka? Jika memang Ayahnya menyayanginya seharusnya melakukan hal yang membuat anaknya bahagia, bukankah kebahagiaan seorang anak adalah kebahagiaan orang tua? Ayahnya hanya mementingkan harga diri dan omongan orang sekitar…

Ayah Da Mo mengatakan jika memang itu yang diinginkan Da Mo menikah dengan Gisaeng… terserah. Ayahnya hanya akan melihat Da Mo hidup menjadi pengemis karena semua saham yang diatasnamakan atas nama Da Mo telah diblokir.
Da Mo tentu saja kesal mendengarnya. Da Mo akhirnya memilih mengembalikan semua barang-barang yang dibeli dengan menggunakan uang Ayahnya termasuk jam tangan dan mobil yang selama ini digunakannya. Ibunya tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya termasuk membujuk suaminya. Ibunya sama sekali tidak memiliki keberanian bahkan untuk marah ataupun membentak, dirinya tak berani.

Sa Ran menemui Hwa Ran untuk menceritakan semua masalahnya yang dihadapinya bersama dengan Da Mo sepeninggalnya mereka dari Buyonggak. Hwa Ran terkejut mendengarnya namun disisi lain Hwa Ran memuji keputusan Sa Ran karena sudah mengambil tindakan yang tepat menunda pernikahan mereka. 
Sebenarnya tujuan kedatangan Sa Ran adalah meminta tolong kepada Hwa Ran untuk menerimanya bekerja sebagai guru tari di Buyonggak dan juga sebagai koki. Sa Ran sudah bisa menebak apa yang menimpa Da Mo saat ini, dirinya tak mungkin tinggal diam tanpa berbuat apa-apa. Selain bisa menghasilkan uang dengan menjadi guru tari, keputusan Sa Ran menjadi koki di Buyonggak agar dirinya bisa belajar memasak dari koki ahli misalnya saja Eun Ja.
Son Ja dan Gong Joo akhirnya tiba di Seongju…. Seusai menemui sahabatnya, Gong Joo menemani Son Ja menemui sahabatnya juga yang tak asing lagi bagi Gong Joo.

Sa Ran sedang membuat kue… wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Dulu boleh saja kue yang dibuatnya tak sempat dinikmatinya bersama Da Mo tapi kali ini Sa Ran memastikan kue yang dibuatnya akan dimakannya bersama Da Mo.
Sa Ran memberitahukan Da Mo jika dirinya akan menjadi guru tari di Buyonggak dan juga belajar memasak dari Eun Ja. Da Mo tentu saja menolak namun Sa Ran meyakinkan jika tak akan terjadi hal yang sama seperti sebelumnya. Raut wajah Da Mo perlahan berubah…. Da Mo mengatakan kepada Sa Ran jika dirinya sama sekali tidak memiliki apa-apa sekarang, semua asset miliknya sudah dibekukan oleh Ayahnya.
“aku merasa buruk terhadapmu dan malu pada diriku sendiri” ucap Da Mo sambil menggenggam tangan Sa Ran
“aku yang seharusnya malu karena kamu seperti ini karenaku. Aku menyukaimu tulus, kita akan mencari uang bersama-sama. Kita bisa naik kereta bawah tanah, kita bisa makan di warung pinggir jalan dan bukan restoran, untuk pakaian, kita bisa memakai yang kita miliki saat ini. Kita akan bekerja keras selama 1th dan jika Ayahmu masih belum menyetujui, kita tetap akan menikah” ucap Sa Ran
“sekarang aku akhirnya memiliki energy” ucap Da Mo senang. Ucapan Sa Ran yang berusaha menguatkannya serasa sebuah energy baru untuknya.
Ra Ra menemui Joo Hee, Ibunya…. Melihat sebuah koper membuat Ra Ra bertanya hendak kemana Ibunya? Dan dijawab Joo Hee “Buyonggak”. Ra Ra tentu saja tersenyum, bagaimana bisa Ibunya akan kesana, pasti semua ini bercanda. Joo Hee akhirnya bercerita jika pemilik asli Buyonggak adalah dirinya, Bibinya seorang Gisaeng terkenal menghadiahkan Buyonggak kepada Joo Hee. Melihat Eo San telah memiliki wanita lain dan Ra Ra yang akan segera menikah, Joo Hee memutuskan untuk ke Buyonggak dan belajar sedikit demi sedikit untuk mengelolanya.
Sepulang dari Seongju, bukannya disambut dengan ucapan selamat datang… Gong Joo justru mendapat omelan dari Ibunya. Hwa Ja kesal karena Gong Joo tak memberitahunya jika dirinya pergi berdua dengan Son Ja… Hwa Ja melarang Gong Joo untuk dekat dengan Son Ja, sebentar lagi Sa Ran akan menikah dengan putra dari Eunsung grup, dan Gong Joo bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Son Ja. Hehehehe, Hwa Ja sudah bisa menebak nich kalau Son Ja memiliki perasaan terhadap Gong Joo.
Kembali ke Da Mo dan Sa Ran
Da Mo mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya… Sa Ran juga melakukan hal yang sama. Mereka sepakat untuk mengikat janji sebagai pasangan kekasih atau bertunangan.
“saranghaeyo, kita pasti akan menikah” ucap Da Mo dan menyematkan cincin di jari manis Sa Ran. Tak hanya itu, Da Mo mencium lembut tangan Sa Ran… hal yang baru pertama kali ini dilakukannya.
“kamu memiliki aku, jadi kamu harus kuat” ucap Sa Ran dan menaruh tangan Da Mo di wajahnya….
“aku merasa sangat kuat sehingga bingung ingin melakukan apa. Tidak perduli apapun yang terjadi, kamu tidak akan goyah kan?” tanya Da Mo dan Sa Ran tersenyum sambil menganggukan kepala tanda setuju.
Hal romantis tak hanya terjadi pada Sa Ran dan Da Mo tetapi pada Son Ja serta Gong Joo juga dalam perjalanan pulang mereka kembali ke Seoul…. Kebiasaan buruk Gong Joo adalah seringkali tertidur dalam perjalanan pulang dan hal tersebut membuat Son Ja takut dan khawatir jika Gong Joo akan melakukan hal yang sama ketika pergi dengan teman prianya. Saat mengantar Gong Joo kembali ke apartemen, Son Ja iseng memotret Gong Joo yang tengah tertidur pulas dan sama sekali tidak menyadarinya. Son Ja tersenyum ketika kembali melihat foto tersebut.
Ayah Da Mo menuju suatu restoran…. Disana sahabat-sahabat Da Mo telah menunggu. Tujuannya adalah meminta kepada sahabat-sahabat Da Mo agar tak membantu Da Mo sedikitpun…. Dengan begitu Da Mo bisa membatalkan pernikahannya dengan Sa Ran dan kembali ke rumah.


BERSAMBUNG
Category: articles
EPISODE 36
Sisi Romantis uri Da Mo (bagian pertama)



Ayah Da mulai menjalankan rencananya…. Salah satunya adalah mencegah Da Mo untuk mengklaim warisan yang didapatkannya dari Kakeknya, tak hanya itu Ayah Da Mo akan memblokir semua rekening dan kartu kredit milik Da Mo. Ini adalah konsekuensi yang didapatkan Da Mo karena sudah berani membantah dan menantang Ayahnya.

Sementara itu
Keluar dari rumah, Da Mo memilih tinggal di Hotel. Dan pagi ini, Da Mo janjian sarapan bersama dengan Sa Ran. Mereka mulai membahas rencana masa depan mereka termasuk membeli rumah yang akan ditempati mereka berdua nanti.
“memiliki rumah kita sendiri? Apakah boleh untuk melakukannya? Ide siapa itu?” tanya Sa Ran sedikit terkejut. Biasanya seorang wanita yang sudah menikah akan tinggal di rumah suaminya bersama dengan orang tua suaminya tetapi kenapa Da Mo malah akan membeli rumah?
“aku meninggalkan rumahku” jawab Da Mo akhirnya.
“kenapa? Apa Ayahmu menentangnya?” tanya Sa Ran terkejut
“Ayah berkata jika kita ingin menikah, harap melakukannya di luar. Ini adalah keputusanku. Mari kita memiliki anak segera setelah menikah lalu Ayah akan menarik gencatan senjatanya sehingga dia bisa melihat cucunya” jawab Da Mo
“jadi ini maksud dari ucapannya kemarin untuk membawa kamu dan hidup denganmu” ucap Sa Ran khawatir.
“jangan mengkhawatirkan apapun, kita akan menikah, hidup bahagia, memiliki anak. Aku akan bekerja keras dan akan meminta teman-temanku untuk mempekerjakan aku di perusahaan mereka… jangan membuat wajah seperti itu” bujuk Da Mo
“aku adalah penyebab seorang Ayah dan Anak memutuskan hubungan mereka, apakah aku bisa tertawa sekarang?”
“aku bisa membujuk dia lagi tapi aku tidak ingin melakukannya”
“bagaimana dengan menghadiri pernikahan? Kamu mengatakan akan mendapatkan persetujuannya?”
“aku berpikir itu akan memakan banyak waktu, aku mencoba meyakinkannya melalui logika tetapi Ayahku tidak mendengarkannya dan terus saja gusar” ucap Da Mo berusaha menenangkan Sa Ran tetapi entah kenapa Sa Ran sama sekali tidak tenang memikirkan jika Da Mo dan Ayahnya sedang dalam masalah. Sa Ran tiba-tiba memiliki ide, bagaimana jika Da Mo menyerahkan semua warisan yang didapatkannya dari sang Kakek? Ayahnya mungkin akan berubah pikiran dan memberikan mereka restu. Tak masalah jika mereka tak memiliki apa-apa nanti lagipula Da Mo akan bekerja dan Sa Ran pun akan bekerja… Da Mo tentu saja tak setuju. Dirinya tak akan membiarkan Sa Ran hidup menderita lagi,sudah cukup penderitaan yang dialami Sa Ran selam ini. Yang harus mereka lakukan nanti adalah hidup dengan bahagia dan memiliki anak perempuan seperti yang diinginkan Ayah Da Mo. Tentu saja Ayahnya yang akan menyesal karena tidak menyetujui dan menghadiri pernikahan mereka nanti.

Pemikiran Da Mo sama persis dengan pemikiran Hwa Ja… Hwa Ja tak terlalu mengkhawatirkan mengenai restu orang tua Da Mo. Da Mo dan Sa Ran bisa menikah dengan cara yang sederhana. Saat mereka memiliki anak nanti, ke dua orang tua mereka akan menyetujuinya. 
Joo Hee masih tertidur ketika Ra Ra datang…. Ra Ra hanya ingin mengecek kondisi Ibunya dan hal tersebut dimanfaatkan Joo Hee untuk bercerita tentang masalahnya dan juga untuk mendapat dukungan dari Ra Ra agar dirinya bisa kembali lagi dengan Eo San. tapi apa yang terjadi? Setelah mendengar cerita Ibunya, Ra Ra terlihat menyalahkan Ibunya karena Ibunya sendiri yang sudah menyebabkan semua ini terjadi. Ibunya sendiri yang memilih melepaskan Ayahnya….
“Ketika Ibu dengan Ayah, Ibu merindukan cinta pertama Ibu dan ketika Ibu bersama dengan cinta pertama Ibu, Ibu memikirkan Ayah?”
Ra Ra tidak bisa membantu apa-apa karena Ayahnya sudah memilih wanita tersebut dan sangat mencintainya. Ra Ra hanya bisa menyarankan agar ibunya mencari seseorang yang jauh lebih baik lagi.
Da Mo terlihat bersemangat saat melihat-lihat apartemen yang akan mereka tinggali nanti setelah menikah tetapi lain halnya dengan Sa Ran. Sa Ran terus saja diam dan terlihat memikirkan sesuatu.
Kesedihan masih mendera hati Ibu Da Mo ketika melihat kamar Da Mo putranya yang sekarang sudah kosong tak berpenghuni lagi… hatinya terasa perih membayangkan putra yang sangat disayanginya tak akan kembali lagi ke rumah.

Da Mo mengajak Sa Ran ke sebuah restoran, restoran yang sama dimana Da Mo pernah memutuskan Sa Ran. Sa Ran bertanya apa yang dilakukan Da Mo sesudahnya? Da Mo menjelaskan jika dirinya sama sekali tidak memakan makanan yang tersaji di atas meja dan sepulangnya dari restoran, Da Mo memutuskan ke kamp bermain baseball. Bukannya menjadi tenang, wajah gadis di hadapannya ini semakin membayangi pikirannya. Da Mo bahkan berkeinginan untuk menghubungi Sa Ran, namun pikirannya melarangnya. Sa Ran tertawa mendengarnya dan Da Mo berucap jika Sa Ran terlihat sangat menakutkan karena memilih membuang kue yang sudah dibuatnya dengan susah payah.
Sa Ran tiba-tiba berucap bagaimana jika mereka membeli apartemen yang sederhana saja dan tak perlu menempati apartemen yang mewah seperti yang mereka lihat tadi. Bagaimana Ayah Da Mo akan simpati jika Da Mo dan Sa Ran hidup dalam kemewahan? Da Mo terlihat memikirkan ucapan Sa Ran.
Usai menghabiskan makanan, Da Mo tiba-tiba berucap jika dirinya ingin mengakui sesuatu pada Sa Ran. Apa Sa Ran masih ingat saat Do Hwa menampar Sa Ran karena memakai pakaian dengan warna yang sama? Sebenarnya waktu itu Do Hwa sengaja melakukannya karena Da Mo yang meminta tolong agar membuat Sa Ran berada dalam kesulitan hingga akhirnya keluar dari Buyonggak. Sa Ran mengangkat gelas dihadapannya dan bersiap menyiramkannya ke wajah Da Mo. Bukannya takut, Da Mo memilih menutup mata dan memajukan wajahnya…. Sa Ran seketika tertawa melihatnya dan berucap jika dalam hidupnya Sa Ran sudah mendapatkan 2 kali tamparan di wajahnya. Satu dari Do Hwa dan satunya lagi dari Da Mo saat mereka berada di sungai Han. Da Mo juga berucap hal yang sama, dalam hidupnya Sa Ran adalah orang pertama yang sudah menamparnya. Mereka sama-sama tertawa ketika mengingat hal-hal konyol yang pernah mereka lakukan dulu.
Di Buyonggak
Eun Ja sedang sakit. Semua pekerjaan memasak akhirnya diserahkannya pada Koki lainnya. Sakitnya Eun Ja tak membuatnya bersedih justru membuatnya berbahagia karena Dan Se, pria yang disukainya memasakkannya bubur dan terlihat sangat memperhatikannya. Jika Eun Ja tahu, dari dulu Eun Ja akan berpura-pura sakit tanpa perlu menunggu seperti sekarang ini saat dimana dirinya benar-benar jatuh sakit.
Sa Ran akhirnya tiba di apartemennya…. Saat akan turun, Da Mo berucap jika ada sesuatu di wajah Sa Ran. Da Mo mendekatkan wajahnya dan menaruh jari jemarinya di wajah Sa Ran berpura-pura menghapus kotoran disana. Tapi ternyata itu hanya akan-akalan Da Mo semata. Da Mo berniat melakukan sesuatu hal yang belum boleh dilakukan olehnya “poppo (kiss)” dan membuat Sa Ran seketika mendorong tubuh Da Mo dan bergegas turun dari mobil. 
Da Mo hanya tertawa melihat tingkah calon istrinya tersebut. Di depan mobilnya Da Mo mengangkat ke dua tangannya ke atas kepala hingga membentuk symbol love yang berarti “Saranghae” . Sa Ran tertawa dan berucap “na do (aku juga). Da Mo bersyukur karena gadis yang dicintainya tersebut bisa kembali menjadi Sa Ran yang dulu dikenalnya, selalu penuh senyuman dan tulus kepada semua orang.

Ra Ra menemui Ayahnya di kamarnya… Ra Ra bertanya apa Ayah Da Mo akhir-akhir ini berkunjung ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya dan dijawab Ayah Ra Ra belum. Ra Ra kemudian berucap jika dia ingin meminta tolong sesuatu pada Ayahnya. Ra Ra ingin agar Ayahnya membujuk Ayah Da Mo agar mengizinkan Da Mo menikah dengan Sa Ran. Ayah Da Mo pasti sedikit banyak mendengar Ayah Ra Ra terlebih mereka adalah teman baik…. 
Ra Ra akhirnya bercerita sesuatu hal yang hanya diketahui segelintir orang jika Sa Ran sebelumnya adalah seorang Gisaeng. Sa Ran memutuskan menjadi Gisaeng karena berpisah dengan Da Mo (Ra Ra belum mengetahui jika orang tua Sa Ran selama ini bukan orang tua kandungnya dan juga salah satu alasan terkuat Sa Ran memutuskan menjadi Gisaeng). Ayah Ra Ra mengatakan sebagai orang tua, dirinya juga tak akan setuju jika anaknya menikah dengan seorang Gisaeng namun Ra Ra menjelaskan jika Sa Ran juga terpaksa melakukannya karena alasan ekonomi… Sa Ran adalah anak yang baik, Kakek dan Nenek Ra Ra juga sangat menyukai Sa Ran, dan Sa Ran adalah orang yang berada di samping Kakek Ra Ra saat menghembuskan nafas terakhir.

Kembali ke Da Mo dan Sa Ran
Saat mobil Da Mo meninggalkan apartemen Sa Ran, Sa Ran bergegas menaiki sebuah taxi menuju suatu tempat. Tempat yang dituju Sa Ran ternyata adalah rumah Da Mo. Dan disaat yang hampir bersamaan, Ayah Da Mo baru saja pulang.
“aku hanya ingin bertanya satu hal, apa anda akan menghadiri pernikahan kami?” tanya Sa Ran membuka pembicaraan
“kamu mencoba membujukku? Bukankah sudah jelas, aku tidak merestui pernikahan kalian jadi kenapa aku harus hadir?”
“aku mendengar jika Da Mo memiliki warisan dari Kakeknya, kami akan menyerahkannya… apa anda tidak bisa datang meskipun merasa kecewa?”
“Da Mo yang mengatakannya?”
“ini adalah apa yang aku pikirkan… anda perlu memberikan ijin kepadaku untuk membujuk Da Mo. Dia meninggalkan rumah karenaku dan itu sangat menyiksa dan menyakitkanku”
“jika ia memutuskan untuk memberikan semua warisannya, bagaimana kalian akan menikah dan dimana kalian akan tinggal?”
“di perumahan sederhana dengan satu kamar dan upacara dapat dilakukan tanpa mengeluarkan banyak biaya. Aku mohon datanglah”
“pemikiran Da Mo adalah melaksanakan upacara dan memiliki anak setelah itu aku akan mengubah pemikiranku.. itu yang kalian pikirkan kan? Tapi aku tidak akan mengubahnya. Aku selalu menjaga perkataanku. Jika kamu benar-benar menganggap apa yang terbaik untuk Da Mo aku akan mengusulkan 2 hal kepadamu. Datanglah ke rumah kami sebagai anak angkat kami dan lakukanlah semua hal yang kamu inginkan dan pelajarilah semua hal yang ingin kamu pelajari. Aku akan membelikan sebuah rumah untuk keluargamu dan memberikan pekerjaan untuk orang tuamu. Kami akan mengatur tempat dimana Da Mo tidak akan pernah menemukanmu. Da Mo dapat berbicara tentang cinta dan semua itu sekarang, tapi pada akhirnya dia akan menyesalinya dan membencinya dan kebenciannya pasti akan ditujukan padamu setelah ia kehilangan segalanya”

“aku pikir itu sangat mungkin dan aku sudah siap untuk itu. Ketika aku di sekolah tinggi, Ibuku divonis suatu penyakit dan itu ketika aku masih belum mengetahui jika dia bukanlah ibu kandungku. Aku harus belajar dan juga menjaganya dan meskipun kami mendapatkan bantuan, terkadang aku membuat kimchi. Lebih daripada sakit pada fisik, rasa sakit memikirkan akan kehilangan ibuku membuatku semakin sedih. Tiap hari aku selalu menangis dan akhirnya ibuku pergi meninggalkanku. Ayahku menikah lagi dengan Ibu tiri yang tidak kusukai dan kami harus kehilangan restoran karenanya. Kami hidup dengan rumah sewa bulanan sekarang. Aku bertemu anak anda saat melakukan kerja paruh waktu untuk Nenek. Dia ingin berpacaran dan kami melakukannya namun pada akhirnya dia menyakitiku dan memutuskanku tetapi aku tidak membencinya karena Nenek. 
Dia adalah cinta pertamaku, bagaimana anda berpikir tentang perasaanku? Tapi aku tidak menangis dan menanggung semuanya. Setelah itu aku diberitahu jika aku adalah anak pungut, aku berpikir mereka adalah orang tua kandungku. Aku terkejut dan merasa seolah langit runtuh dan ini adalah sesuatu hal yang tidak dipahami orang lain. Kesehatan Ayahku tidak baik dan juga pendidikan adikku meskipun dia bukan adik kandungku, biaya hidup, sewa, aku tak punya pilihan selain masuk ke Buyonggak. Da Mo datang mencariku ketika dia tahu aku menjadi seorang Gisaeng, aku menolak cincin dan ajakan menikah yang dia tawarkan padaku hingga akhirnya dia memutuskan masuk ke Buyonggak juga. Aku merasa hatiku tergerak namun Ibu datang dan menemukan semuanya. Mendengarkan apa yang Ibu katakan, satu-satunya pilihan terakhirku adalah memiliki rambutku dibesarkan oleh Perwakilan Ma dan dia bukanlah orang yang mengusulkan ide itu tetapi aku yang memintanya. Tetapi anak anda datang dan merusaknya, apa yang harus aku lakukan? Anda pasti sudah mendengar frase “buta akhir hidup” ini adalah sesuatu dimana aku sudah jatuh ke dalamnya, tidak ada yang tersisa bagiku untuk takut. Jika dia ingin putus lagi, aku akan setuju. Aku akan mencintai kekurangan Da Mo dan dia melakukan semua yang dia bisa untukku. Semua yang menyakitiku membuatnya jauh lebih terluka. Jika aku datang sebagai putri angkat, aku yakin akan diperlakukan dengan baik. Aku hidup selama 25th, aku banyak berpikir tentang apa yang penting dan berharga dalam hidup. Satu-satunya yang aku butuhkan adalah Da Mo, selama Da Mo memegang tanganku, aku tidak sanggup melepaskannya. Meskipun aku tidak akan dianggap sebagai anak menantu, apa anda bisa sekali saja bermurah hati? Jika kami hanya menikah berdua saja, Da Mo akan menjadi lebih sakit lagi karena telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan anda ayahnya. Dia tidak ingin mengecewakan anda”
“terima kasih untuk mengatakan semuanya… jika aku berencana untuk menghadiri pernikahan kalian, aku tidak akan menentang sedari awal. Mengapa aku harus menghadiri acara yang aku tidak menyukainya? Jika kamu berubah pikiran, datang lagi mencariku. Karena kalian berdua bersikeras, kalian hanya membutuhkan satu sama lain. Kalian dapat hidup dengan baik kemudian” ucap Ayah Da Mo dan memilih meninggalkan Sa Ran menuju ke kamarnya. Sa Ran hanya bisa menangis, usahanya sekali lagi sia-sia…

Di perjalanan pulang

Ayah mertua, seseorang yang aku cintai, apakah anda berpikir aku akan membiarkannya menikah tanpa kehadiran orang tuanya? Aku tidak akan pernah melakukan itu.

Da Mo merasa sangat senang… dirinya sedaritadi terus tersenyum ketika memikirkan Sa Ran. Tak lupa Da Mo mengirimkan sms selamat tidur untuk Sa Ran….
Ayah Da Mo memandangi foto Ibunya. Ayah Da Mo meminta maaf karena tidak bisa menuruti keinginan sang ibunda yang telah tiada untuk merestui pernikahan Sa Ran dan Da Mo.

Ibu, maafkan aku… tetapi bagiku, sebagai seorang Ayah ini adalah pilihanku.

Keeseokan harinya
Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi namun terdengar beberapa bunyi yang berasal dari dapur. Hwa Ja memutuskan bangun dan ternyata Sa Ran sedang membuat Sandwich. Hwa Ja berucap kenapa tidak meminta dirinya untuk membuatkannya namun Sa Ran menjawab jika dirinya bisa melakukannya… Hwa Ja mulai mengubah sikapnya terhadap Sa Ran, penyebabnya karena Sa Ran akan segera menikah dengan anak orang kaya… ckckckck.
Da Mo baru saja bangun dan yang dilakukannya pertama kali adalah menelepon Sa Ran. Da Mo berucap jika dirinya tidak ingin makan sendirian dan dijawab Sa Ran jika dirinya akan memberikan waktu Da Mo untuk mandi selama 10 menit dan dalam waktu 10 menit, Sa Ran akan tiba di Hotel. Da Mo terkejut dan bertanya apa Sa Ran sekarang berada disini dan dijawab Sa Ran sambil tertawa “iya”. Tanpa menunggu lama, Da Mo bergegas bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Hwa Ja menasehati Gong Joo untuk belajar memasak agar bisa seperti Sa Ran. Seorang wanita harus pandai memasak demi menyenangkan hati suaminya nanti… namun Gong Joo menolak melakukannya, Gong Joo tak ingin mempelajari hal yang tidak disukainya. Lagipula jika dirinya menikah nanti, akan ada bibi pengurus rumah yang akan mengurus semuanya….
Da Mo dan Sa Ran berjalan-jalan di dekat taman tak jauh dari Hotel… Sa Ran mengajak Da Mo duduk di salah satu bangku taman dan menyajikan makanan “sandwich” yang sudah disiapkannya di pagi buta hanya untuk Da Mo. Da Mo merasa takjub dengan kemampuan memasak Sa Ran, tak hanya itu kopi buatan Sa Ran sangat nikmat. Sa Ran tiba-tiba berucap bagaimana jika mereka menunda pernikahan mereka terlebih dahulu sampai restu dari orang tua Da Mo turun? Tak masalah jika mereka harus menunggu 1-2th? Sa Ran tak ingin ada penyesalan di hati mereka berdua nanti karena tidak hadirnya orang tua mereka dan apa yang akan dikatakan anak-anak mereka nanti saat melihat foto pernikahan ke dua orang tuanya tidak ada sosok kakek dan nenek mereka? Bagaimana bisa Sa Ran membiarkan Da Mo menikah tanpa dihadiri ke dua orang tuanya? Da Mo yang awalnya menolak ide Da Mo perlahan luluh. Da Mo malah berpikir, bagaimana bisa Ayahnya tak bisa melihat ketulusan hati Sa Ran? 
Tak hanya Sa Ran yang sibuk dengan schedulenya, Gong Joo adiknya pun memiliki rencana bepergian hari ini. JIka Sa Ran ditemani Da Mo, Gong Joo ditemani Son Ja. Gong Joo akan ke daerah Seongju untuk mengunjungi salah satu temannya….Son Ja pun sama tetapi rencana tersebut datang tiba-tiba setelah mendengar rencana Gong Joo. Son Ja sebenarnya hanya ingin menemani Gong Joo, takut jika sesuatu atau seseorang mengganggu Gong Joo…. Cie,cie.
Soon Duk sedang memasak di dapur ketika Ibu Eo San datang…. Ibu Eo San bertanya kapan mereka akan melangsungkan pernikahan? Soon Duk sontak terkejut dan tak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti itu…. Ibu Eo San sepertinya luluh dengan ketulusan hati Soon Duk yang terus berjuang datang setiap hari demi mengurus dirinya. Nenek Ra Ra menghadiahkan sebuah kalung emas putih kepada Soon Duk… Apakah hal yang sama akan terjadi pada Sa Ran, seperti yang terjadi pada Ibunya?
Ra Ra dan Hyo Ri sedang berada di sebuah rumah makan. Hari ini mereka akan bertemu dengan Ibu Jin Am, calon mertua Ra Ra. Hyo Ri mengatakan kepada Ra Ra agar memberitahukan kebenaran tentang kelahiran Ra Ra hari ini karena cepat atau lambat Jin Am dan keluarganya pasti akan mengetahuinya. Ra Ra menyetujuinya dan tak menyadari jika sesuatu yang besar akan menimpanya. Saat mendengar semua dari mulut Hyo Ri, Ibu Jin Am sontak shock dan menyesalkan dalam hati kenapa mereka baru memberitahunya sekarang? Jika Direktur Geum adalah Paman Ra Ra, itu artinya rumah sakit yang dimiliki Direktur Geum tidak akan jatuh ke tangan Ra Ra.
Sa Ran pulang ke rumah dan hal tersebut membuat Hwa Ja sedikit terkejut karena biasanya Sa Ran pulang malam hari…. Hwa Ja segera memberondong pertanyaan kepada Sa Ran. Kapan Sa Ran dan Da Mo akan menikah? Bagaimana sambutan Ayah Da Mo? Sa Ran terlihat malas menjawabnya dan hanya mengatakan mereka akan menikah saat restu dari Ayah Da Mo ada.
Joo Hee menelepon Hwa Ran. Joo Hee ingin mengajak Hwa Ran bertemu. Hwa Ran memiliki firasat kurang menyenangkan. Joo Hee pasti sudah mengetahui tentang Soon Duk.

BERSAMBUNG


Category: articles
Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015