[Sinopsis] Tree Of Heaven Episode 10 (END)

=Tree Of Heaven=

Yun Soo merasakan sakit yang tiada tara ketika melihat Hana berlarian mengejar mobil yang dikemudikannya. Ingin rasanya ia memberhentikan mobil dan segera turun menghampiri Hana namun semakin ia berada di dekat Hana, gadis tersebut akan semakin menderita.
Keputusannya untuk melepaskan Hana dan memintanya menikah dengan Ryu bukanlah main-main. Yun Soo secara pribadi menemui Ryu dan meminta Ryu mengabulkan permohonannya kali ini, tetapi Ryu dengan tegas menjawab jika bukan dia yang berhak untuk menjawabnya tetapi Hana.
Ryu memberikan sebuah surat yang ditujukan untuk Hana dari Yun Soo
“Hana, menikahlah dengan Ryu, dia adalah orang yang sangat mencintaimu melebihi cinta Oppa padamu. Ini permintaan terakhir Oppa. Ada yang ingin aku katakan padamu, kita bertemu di club malam”.
Tanpa perlu menunggu lama, Hana segera menyusul Yun Soo. Pandangannya menangkap sosok Yun Soo yang sedang asyik bercengkrama dengan Mika dan teman-teman semasa SMA. Tepat disamping Yun Soo, terlihat Maya yang mencoba menikmati suasana. Pandangan mata Hana dan Yun Soo bertemu. Seseorang tiba-tiba muncul dibelakang Hana dan mengajak Hana mendekati Yun Soo. Teriakan teman-teman Hana terdengar semakin keras.
Yun Soo membuka sebuah kotak dan mengatakan ini adalah kue pesanan Hana dan menuangkan minuman ke gelas Hana. Hana dengan sorot mata kemarahan meminum dengan sekali teguk. Hal yang sama pun terjadi ketika Yun Soo kembali menuangkan minuman untuk Hana.
“hentikan” ucap Yun Soo
“kenapa aku harus mengikuti permintaan Oppa? Apa aku tidak bisa minum? Apa aku tidak bisa seperti ini?” jawab Hana. Mika berusaha menengahi pertengkaran mereka dan meminta semuanya menuju ke lantai dansa untuk berdansa.
Suasana berubah menjadi meriah tapi tidak untuk 4 hati yang saat ini sedang galau dan bimbang. Hana berdansa bersama dengan Ryu tapi pandangannya terus tertuju pada Yun Soo, Yun Soo pun seperti itu, walaupun saat ini raganya sedang berada bersama Maya tapi hati dan tatapannya jauh tertuju kepada Hana.
“apa kakak tidak apa-apa? Jelas-jelas hatiku sekarang ada di tempat lain, tidak apa-apakah jika menikah dengan aku yang seperti ini?” tanya Hana dengan suara yang terdengar lemah
“akhirnya kamu bisa menerimaku” jawab Ryu dan mengajak Hana mendekati Yun Soo
“Yun Soo, berdansalah dengan Hana untuk yang terakhir kalinya” ucap Ryu dan mengajak Maya pergi menjauh.
Hana menyandarkan kepalanya di bahu Yun Soo. Kehangatan yang dulu sempat dia rasakan kembali menjalari sekujur tubuhnya. Yun Soo sekarang berada di dekatnya dan saat ini sedang membisikkan sesuatu di telinganya “ada yang ingin aku katakan padamu, menikahlah dengan Ryu”.
Hana seketika menarik dirinya dari Yun Soo “tidak, aku tidak mendengarnya” ucap Hana dan tak berani menatap mata Yun Soo
“lihat aku” ucap Yun Soo dan Hana mulai memberanikan diri menatap mata Yun Soo “Bos Mafia tak pantas bersamamu” tambah Yun Soo dan membuat Hana shock
“Oppa berbohong, aku tidak mendengarnya” teriak Hana sedih ditengah kebisingan alunan musik Dj
“dengarkan aku, jika kamu disampingku, kamu akan berada dalam bahaya dan menderita. Tinggalkan aku, setidaknya dengan meninggalkanku kamu masih bisa hidup. Aku mohon Hana, demi aku. Hana, aku sudah membunuh” ucap Yun Soo. Hana seketika terjatuh ke lantai dan pingsan karena shock mendengar ucapan Yun Soo yang terakhir. Terdengar suara teriakan salah satu teman Yun Soo yang mengabarkan jika polisi sedang berada di luar dan berniat untuk menangkapnya. Yun Soo panik, disatu sisi dia ingin tinggal lebih lama dan menolong Hana namun disisi lain jika dirinya tidak segera pergi, dirinya akan tertangkap dan niatnya untuk menyerahkan diri secara langsung akan batal.
Ryu segera menarik Yun Soo pergi, Maya pun tak tinggal diam dan menarik Yun Soo sementara teman-teman Hana dan Yun Soo berusaha menghalangi jalan polisi dengan membentuk sebuah gerombolan.
Sesaat sebelum pergi, Yun Soo sekali lagi berpesan kepada Ryu untuk menikahi Hana. Ryu setuju asalkan Yun Soo berjanji untuk datang ke pernikahan mereka dan memberi restu.
Aparat kepolisian dikerahkan ke segala penjuru dan mulai menyesir sekeliling club yang mungkin jadi tempat persembunyian Yun Soo. Maya berusaha mencari keberadaan Yun Soo dan beruntung Maya bisa menemukannya.
Yun Soo menarik Maya ke sebuah gang yang sempit dan memeluknya untuk memberi ketenangan kepada Maya. Dari dulu sampai sekarang, Yun Soo hanya menganggap Maya sebagai adik tidak lebih.
“kenapa menangis?” tanya Yun Soo
“karena aku sudah mengetahui ketulusan hatimu” jawab Maya dengan mata berkaca-kaca. Perlahan-lahan air mata mulai membasahi pipi Maya dan segera dihapus oleh Yun Soo.
“terima kasih untuk semuanya” ucap Yun Soo
“aku mencintaimu” ucap Maya tulus
“jaga dirimu baik-baik” ucap Yun Soo dan segera pergi masuk ke dalam hutan yang gelap.
Di tempat lain, Mika menunggui Hana yang belum sadarkan diri. Beberapa menit kemudian terlihat Hana mulai mengigau memanggil nama ‘Oppa’ dan terbangun. Hana langsung memberondong Mika dengan pertanyaan dimana Yun Soo namun dijawab Mika dengan gelengan. Mika balik bertanya pada Hana kenapa Yun Soo ingin ditangkap? Namun Hana tidak menjawab dan bergegas pergi hendak mencari Yun Soo meskipun Mika sudah melarangnya.
Tempat pertama yang dituju Hana adalah makam Ayahnya, tempat dimana waktunya sering dihabiskan bersama dengan Yun Soo.
“Oppa, keluarlah, lihatlah aku, meski Oppa membunuh masih bisa dimaafkan. Seperti dulu, aku akan selalu berada disisimu. Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan melihatku dari kejauhan lagi, aku akan menikah dengan Kak Ryu, aku berjanji, keluarlah Oppa” teriak Hana namun tidak ada reaksi ataupun tanda-tanda kedatangan Yun Soo. Hana mulai frustasi, foto keluarga dimana ada dirinya, Ibu, Ayah Yun Soo dan tentu saja Yun Soo terus saja dipandanginya begitu Hana ke tempat ke dua yaitu penginapan dan sekaligus lokasi permandian air panas yang dulu pernah menjadi milik keluarganya.
Samar-samar Hana mendengar suara yang berasal dari kolam air panas. Hana berlari dan mencoba mencari sumber suara namun hasilnya tetap nihil. Di tengah kebingungan yang melandanya, Hana akhirnya bisa bernafas lega. Yun Soo muncul di kamar yang dulu ditempatinya dan menghalangi Hana yang ingin membuka jendela.
Terlontar pertanyaan dari mulut Hana “kapan, baru aku bisa bertemu dengan Oppa lagi? 1 tahun atau 2 tahun? 10 tahun atau 20 tahun?”. Yun Soo tidak menjawab dan terus memandangi Hana dari kaca jendela . Yun Soo mendekatkan tangannya ke kaca dan seolah-olah ingin membelai wajah Hana. Hana hanya bisa menangis, Yun Soo pun menangis.
“gadis yang baik, lahirkanlah seorang gadis yang sepertimu. Setelah 20 tahun akan sama sepertimu. Bagaimana jika dia memanggilku Paman?” tanya Yun Soo
“apa Oppa berharap aku menikah dengan kak Ryu?” tanya Hana meyakinkan
“benar”
“apa Oppa yakin aku akan bahagia?”
“benar”
“kalau begitu aku akan menikah jika Oppa bahagia, aku akan melakukannya” ucap Hana dengan deraian air mata
“terima kasih. Kelak aku akan berdiri di hadapanmu, apa kita bisa bertemu pada saat itu?” tanya Yun Soo dengn derai air mata yang sama dengan Hana. Hana hanya mengangguk tanda setuju. Yun Soo mendekatkan wajahnya ke jendela, Hana pun melakukan hal yang sama. Yun Soo mencium kening Hana dari balik kaca jendela dan air mata kembali membasahi wajah Hana dan Yun Soo.
“Hana tersenyumlah” ucap Yun Soo dan mengembalikan kalung yang pernah dilemparkan Hana kepadanya
“Oppa juga, aku percaya suatu hari nanti Oppa akan kembali tersenyum” ucap Hana dan Yun Soo pun tersenyum
“annyeong” ucap Yun Soo dan pergi. Pertemuan mereka untuk terakhir kali setidaknya bisa mewakili perasaan Hana dan Yun Soo masing-masing jika cinta tak mengenal jarak dan waktu. Apa mereka bisa bertemu lagi setelah 20 tahun??? Kita lihat saja….^^
Hari pernikahan
Seorang gadis hanya bisa tertunduk lesu ketika perias pengantin membantunya menata baju pengantin yang dikenakannya. Gadis lain tersenyum senang dan memuji gadis dihadapanya jika dirinya sangat cantik dengan balutan gaun pengantin.
“apa aku terlihat bahagia?” ujar Hana. Mika sontak terkejut dan terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya. “seharusnya aku bahagia” tambah Hana dan membuat Mika berusaha tersenyum
“jika ingin tersenyum, tersenyumlah. Coba tersenyum, ayo lagi” ucap Mika dan memberi jempol pada sahabatnya yang mencoba tersenyum sekaligus menangis “benar, apa sekarang sudah merasa bahagia? Kenapa calon pengantin kita menangis, lihat wajahmu tidak cantik lagi” tambah Mika dan menghapus air mata di wajah Hana dan memberikan boneka berwarna pink kepada Hana “ini boneka pemberian Yun Soo Oppa”.
Para tamu mulai berdatangan dan memberi ucapan selamat pada calon pengantin pria. Sejumlah tamu wanita terlihat patah hati karena pria yang menjadi idola selama ini akan segera mengakhiri masa lajangnya. Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan pintu Hotel. Mika turun dan disusul Hana. Tepuk tangan mulai terdengar.
Di seberang jalan, sebuah mobil berwarna hitam terlihat mengawasi Hana.Di dalam mobil, Bos Yun Soo terlihat geram dan mempunyai keyakinan jika Yun Soo akan datang dan hari ini adalah kesempatan terakhir yang mereka miliki sebelum Yun Soo menyerahkan diri ke kantor polisi.
Pernikahan antara Hana dan Ryu segera dimulai. Ryu memuji Hana yang terlihat sangat cantik hari ini dan mengatakan akan ada tamu special untuk Hana. Dan benar saja, sebuah taxi berhenti di depan hotel, Yun Soo dengan setelan pakaian hitam turun dari taksi dan menuju tempat dilangsungkannya acara penikahan. Yun Soo tak menyadari seorang pria yang memata-matainya.
Dari kejauhan Yun Soo melihat gadis yang dicintainya akan mengucap janji suci pernikahan. Raut wajah Yun Soo menunjukkan tanda kesedihan. Sedih karena yang seharusnya berdiri di samping Hana adalah dirinya bukan Ryu.

Ryu menjawab pertanyaan pendeta dengan lantang “saya bersedia” sementara Hana tetap terdiam seolah-olah memikirkan sesuatu. Ryu memahami situasi Hana dan berbalik ke arah pintu. Hana pun melakukan hal yang sama.
“ini adalah hadiah pernikahan dariku. Tamu yang sangat khusus datang dan memberi selamat kepada kita” ucap Ryu pada Hana. Hana tersenyum, Yun Soo pun ikut tersenyum. Dari kejauhan Yun Soo mengatakan “Haengbokkhae (harus bahagia)” pada Hana dan disambut Hana dengan jawaban “saya bersedia” pada Pendeta.
Yakin semuanya sudah berjalan dengan baik, Yun Soo meninggalkan Hotel dan menelepon polisi jika dirinya akan menyerahkan diri. Namun naas, seperti waktu sebelumnya halangan kembali datang. Pria suruhan Bos Yun Soo tiba-tiba memanggil nama Yun Soo dan menusuk perut Yun Soo dengan sebuah pisau yang sedaritadi disembunyikannya di balik Koran. Disaat bersamaan, cincin yang akan dikenakan Ryu dijari manis Hana terjatuh. Hana merasakan firasat buruk dan segera berlari setelah mengucapkan permintaan maaf pada Ryu.
Yun Soo berjalan tertatih-tatih dengan berpegangan pada pembatas jalan.
“Hana setelah 20 tahun kita harus bertemu, setelah Oppa bebas kita harus bertemu” ucap Yun Soo terbata-bata dengan tangan berlumuran darah. Hana terus berlari, berbaur dengan pengguna jalan mencoba mencari Yun Soo.
Lagi-lagi mobil Bos Yun Soo masih mengikuti untuk memastikan Yun Soo merenggang nyawa hari ini juga sebelum menuju ke kantor polisi. Ketika melihat sebuah kesempatan (saat Yun Soo hendak menyeberang jalan), tanpa menunggu lama mobil Bos Yun Soo melaju dengan kencang dan berhasil menabrak 2 orang sekaligus, yaitu Hana yang berusaha melindungi Yun Soo dan tentu saja Yun Soo. Hana dan Yun Soo terpental jauh beberapa meter layaknya bola bowling yang berhasil dijatuhkan oleh si pemain.
Para pejalan kaki hanya bisa melihat dan merasa miris melihat Hana dan Yun Soo yang bernasib sangat tragis. Mata Yun Soo tertutup sementara Hana hanya bisa melihat Yun Soo. Yun Soo perlahan-lahan membuka mata, tangannya berusaha digerakkan hingga bisa menggapai tangan Hana, Hana pun melakukan hal yang sama. Air mata perlahan membasahi wajah mereka berdua dan sesaat kemudian pingsan.
Tindakan medis pun segera dilakukan.
“Oppa kamu dimana?”
“aku disini”
“Yun Soo Oppa, aku sungguh bahagia bisa berada disampingmu”
“aku juga, aku sangat bahagia”
“aku masih ingat saat-saat kebersamaan bersama dengan Oppa”
“aku bisa tersenyum bahagia, bersama denganmu aku merasa sangat bahagia”
“kelak harus bersama dengan Oppa dan Oppa jangan kemana-mana lagi”
“jangan lupa, aku akan selalu berada disampingmu”
“saranghaeyo”
“saranghaeyo Hana, meskipun aku mati, aku akan tetap mencintaimu, kelak juga akan mencintaimu, selamanya”
“selamanya”

Ryu dan Mika terlihat gelisah. Operasi yang dilakukan terhada Hana dan Maya sudah berlangsung berjam-jam dan sampai sekarang belum ada hasil. Suara pintu operasi yang dibuka membuat Ryu sedikit tenang.
“dokter bagaimana keadaannya?” tanya Ryu
“jantungnya terus mengeluarkan darah namun sudah dihentikan. Beruntung dia bisa bertahan hidup, harus dilakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui keadaan selanjutnya”
“kalau begitu apa ada kemungkinan bisa mati?” tanya Ryu sekali lagi
“benar”
“keduanya?”
“ya” jawab Dokter dan segera pergi.
Hana dibawa keluar dari ruang operasi. Mika mulai memanggil nama Hana dan mengikuti suster menuju kamar sementara Ryu tanpa sengaja beradu pandang dengan beberapa orang pria yang sepertinya adalah polisi.

Seorang gadis terlihat menatap pesawat yang berada di landasan pacu. Hatinya tidak tenang dan keyakinannya untuk kembali ke Korea bersama dengan Ibunya belum ada. Sang Ibu terus mendesaknya agar mereka segera berangkat ke Korea apalagi tiket pesawat sudah mereka kantongi namun si gadis tetap tak bergeming. Sebuah berita di tv akhirnya memberinya jawaban jika dirinya harus tetap berada di Jepang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“……….sekarang mereka berdua berada di Rumah Sakit dan ada kemungkinan mereka bisa hilang ingatan. Salah satu korban diketahui bernama Han Yun Soo yang merupakan buronan polisi karena telah melakukan pembunuhan terhadap Shimada……”.
Maya berlarian di sepanjang koridor rumah sakit. Tujuannya sekarang adalah menemui Yun Soo.
“dimana Yun Soo? Aku ingin bertemu dengannya” ucap Maya histeris ketika melihat Ryu
“Maya jangan seperti ini” bujuk Ryu dan berusaha menenangkannya
“ada yang ingin kukatakan padanya”
“sekarang ini dia tidak bisa mendengar apapun yang kamu katakan padanya” teriak Ryu “kembalilah” tambah Ryu dengan nada suara yang lebih rendah
“semua karena aku, semua kesalahanku” ucap Maya sedih
“Maya apa kamu gila? Apa kamu tahu tempat apa ini? Orang yang kabur setelah membunuh orang memang akan menjadi seperti itu, kenapa kamu seperti ini” teriak Ibu Maya sekaligus Bibi Hana yang tiba-tiba datang
“bukan Kakak yang membunuhnya, aku yang membunuhnya, aku yang membunuh Shimada. Karena aku, kakak jadi seperti ini. Aku harus minta maaf padanya” teriak Maya.
Pria yang sempat ditemui Ryu langsung bergerak dengan mengatakan jika Maya harus ikut dengan mereka ke kantor polisi. Maya tak bisa berbuat banyak dan hanya terdiam mengikuti polisi. Ibu Maya hanya bisa menangis dan meminta maaf kepada Maya atas semua tindakannya. Jika saja dirinya tak serakah, jika saja Maya tidak diperistrikan dengan pria tua (Bos Yun Soo), jika saja dia menuruti keinginan Maya untuk berkuliah….. jika saja….. (ah, bingung, poor Maya).
Beberapa hari kemudian
Mika terlihat tertawa dan bercerita kepada Hana jika kasus pembunuhan terhadap Shimada sudah terbongkar dan Yun Soo dinyatakan bebas namun Maya harus menanggung semuanya karena lelaki tua Bangka yang menjadi biang keladi dari semuanya. Senyum dan tawa Mika perlahan memudar ketika menyadari kondisi sahabatnya yang sampai saat ini masih tak sadarkan diri.
“apa tidak senang mendengarnya? Tersenyumlah, jangan tidur terus dan bangunlah, lihatlah Yun Soo Oppa. Bagaimana jika Oppa mati? Irona (bangunlah)” teriak Mika dan mulai menangis. Ryu hanya bisa memandangi dari balik pintu kaca.
Dokter yang bertanggung jawab dalam kasus Hana mendekati Ryu dan mengabarkan sebuah kabar buruk untuk Ryu. Kondisi Hana sangat kritis dan tidak ada jalan lain untuk menyelamatkannya selain operasi jantung namun operasi jantung memiliki resiko yang sangat besar dan dapat menyebabkan efek samping, jalan lain yaitu jika ada orang yang baik hati yang ingin menyumbangkan jantungnya untuk Hana.
Ryu terlihat berpikir keras dan terus bergumam “orang yang baik hati”, mana mungkin ada orang yang ingin menyumbangkan jantungnya untuk orang lain. Mendonorkan jantung sama halnya dengan mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Hp Ryu tiba-tiba berbunyi, Ryu sontak terkejut saat mendengar suara orang yang sudah tak asing baginya. Tepat disamping kamar Hana, seorang pria yang berhasil selamat dari maut menelepon Ryu dan melemparkan senyuman pada Ryu ketika Ryu mengintip melalui kaca pada pintu.
Ryu masuk ke dalam kamar Yun Soo dan mendekat untuk menggenggam tangan Yun Soo.
“tolong Hana” lirih Yun Soo
“jangan meninggal, harus hidup, tidak boleh mati. Orang yang seharusnya berada disamping Hana bukan aku tapi kamu, jadi kamu harus hidup” ucap Ryu dengan mata berkaca-kaca
“berjanjilah padaku” ucap Yun Soo namun Ryu menggeleng
“sekarang Hana tak sadarkan diri dan orang yang bisa menolongnya hanya kamu. Kamu harus berada disamping Hana jadi cepatlah sembuh” pinta Ryu. Yun Soo hanya tersenyum tipis. Di tangan kanannya terdapat selembar surat yang tiba-tiba jatuh dari genggamannya.
Beberapa hari kemudian
Hana dan Yun Soo masih terbaring lemah di tempat tidur. Kondisi Hana belum menunjukkan perubahan dan masih kritis. Keesokan harinya, kamar Yun Soo terlihat kosong dan papan nama yang menunjukkan nama Yun Soo dicabut.
Seorang gadis berjalan di antara tumpukan salju. Langkahnya terhenti saat melihat pucuk pohon cemara. Ingatannya kembali melayang ke masa-masa SMA dimana dia melihat Yun Soo tersenyum untuk pertama kalinya. Sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Mika dan Ryu turun dari mobil.
Mika mengeluh kepada Hana karena Hana selalu pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Hana hanya mengucapkan maaf dan mengucapkan terima kasih pada Ryu atas semua yang sudah dilakukannya untuk dirinya.
“bagaimana kesehatanmu?” tanya Ryu
“aku merasa sangat baik, sepertinya sejak awal jantungnya sudah seperti punyaku” jawab Hana senang tapi lain halnya dengan Mika dan Ryu yang tiba-tiba menjadi sedih “ayo masuk, kita sudah janji untuk bertemu dengan Oppa, kita mulai lagi dari awal” ajak Hana. Mika segera menahannya
“Hana……” ucap Mika sedih dan tidak sanggup melanjutkan lagi ucapannya. Hana terdiam dan melihat ke arah Ryu seolah-olah mencari jawaban atas kesedihan Mika namun Ryu sama halnya dengan Mika, hanya bisa diam
“ada apa? Apa Yun Soo dalam masalah? Mika ada apa? Bukankah kamu berkata jika aku akan merayakan ulang tahunku bersama dengan Yun Soo Oppa?” tanya Hana dan mulai gelisah
Ryu membuka suara “Yun Soo tidak akan datang. Orang yang memberikan jantung untukmu adalah dia”
Hana mulai menangis menatap sketsa wajahnya yang dibuat Yun Soo. Hana belum bisa mempercayai jika orang yang sangat dicintainya telah tiada. Sebuah sketsa yang terkocak membuat Hana kembali memikirkan Yun Soo.
Sketsa wajahnya saat sedang tertidur yang dibuat sangat baik oleh Yun Soo. Ponsel Hana berbunyi, seseorang mengiriminya sebuah MMS.
“Saengil chukkae Hana. (Aku ingin kamu mendengar kisahku, bersama denganmu aku sangat bahagia. Tadinya sangat menderita karena tidak bisa memberikan senyuman padamu…. Yun Soo bernyanyi) kenapa? Apa sedang mentertawakanku karena suaraku tidak enak didengar. Hana sekarang Oppa sangat senang, tidak akan berpisah lagi denganmu, selamanya akan bersama denganmu, bisa melindungimu, percayalah, selamanya. Yun Soo dan Hana kita tersenyum bersama. Kamu harus bahagia, dengan begitu aku juga bisa bahagia sepertimu. Tunggu saatnya kita akan bertemu lagi di surga”
Hana menatap layar ponselnya dan kembali menangis. Tangisan Hana semakin keras, dadanya terasa sesak. “Oppa, Oppa, Oppa, Yun Soo Oppa” teriak Hana sambil memegang dadanya yang sekarang terdapat jantung Yun Soo. Hana dan Yun Soo memang akan bersama selamanya tetapi cara yang dipilih Yun Soo sungguh sangat menyesakkan bagi Hana, sangat menyakitkan.
Hana berjalan menuju pusara/makam Ayahnya. Hana menemukan kalung Yun Soo yang tergantung di salah satu pucuk cemara dan menggabungkannya kembali dengan kalung yang diberikan Yun Soo padanya dan memakainya.
“Oppa” ucap Hana dan menerbangkan abu Yun Soo hingga dibawa angin. Sepatu yang pernah diberikan Yun Soo masih dipakai Hana sampai saat ini “pergilah cinta” gumam Hana dalam hati.

“Hana, apa kamu bisa mendengarnya, aku sekarang bisa mendengarnya karena aku sekarang sangat dekat denganmu. Kamu harus percaya dengan janji Oppa, aku akan menjagamu selamanya”.

THE END

Akhirnya sinopsis drama yang satu ini selesai juga.
Perjuangan yang pertama kali dimulai pada tanggal 22-06-2011 akhirnya berakhir juga.....
Sedih rasanya T_T karena harus berpisah dengan Park Shin Hye aka Hana dan Lee Wan Oppa aka Yun Soo Oppa....

CINTA, oh cinta....
Nggak bisa dijabarin dan nggak pernah bisa diduga kapan datangnya.... Kata orang sich, cinta nggak pernah bisa memiliki(seperti yang terjadi pada Hana dan Yun Soo) tapi kalau menurut Dewi cinta yang sah dan suci itu sesudah pernikahan dan Dewi berharap seperti itu (curcol nich)....

Sudah berpuluh-puluh sinopsis yang sudah dewi buat (baik itu di blog pribadi ataupun di blog Pelangidrama). Dewi sadar masih banyak kekurangan disana sini, karena itu dewi sangat mengharapkan komentar dari para reader (baik itu kritikan ataupun pujian)^^...

Kamsahamnida sudah berniat singgah di blog Dewi yang sederhana.
Untuk sementara waktu, dewi akan menyelesaikan Recap New Tales Of Gisaeng dan Project di Pelangi Drama....

Annyeong...^^

MOHON UNTUK TIDAK MENGCOPY PASTE TULISAN INI ATAUPUN TULISAN YANG LAINNYA. HARGAI KERJA KERAS PENULIS

0 comments:

Post a Comment

Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style Fashion,Fashion Style Ttrends, hair Style, Fashion Style, Fashion Style 2015